Layanan Gmail Milik Google Tidak Bisa Diakses di Tiongkok
Selasa, 30 Desember 2014 12:09 WIB
Ilustrasi-Gmail (istimewa)
Menurut GreatFire.org, alamat Gmail Web terblokir sejak Jumat dan masih tidak bisa diakses sampai Senin.
"Pemerintah tengah berupaya mengusir Google dari Tiongkok dan bahkan mengurangi pangsa pasarnya di luar negeri," kata seorang anggota GreatFire.org yang merahasiakan identitasnya.
Transparency Report dari Google, yang merupakan laporan terbuka mengenai jumlah penggunaan layanan dari Google, memperlihatkan penurunan drastis pengunjung Gmail dari Tiongkok.
"Kami telah memeriksa segalanya dan tidak ada yang salah dari pihak kami," kata juru bicara Google dari kantor perwakilan di Singapura melalui surat elektronik.
Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyuarakan keprihatinan terhadap tindakan Beijing.
"Kami mendesak Tiongkok transparan saat berurusan dengan perusahaan-perusahaan swasta dan mempertimbangkan dampak terhadap pasar oleh tindakan itu," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Jeff Rathke.
Hampir semua layanan Google memang sudah mengalami ganggunan sejak Juni tahun ini. Namun sampai Jumat kemarin, para pengguna Gmail setidaknya masih bisa mengakses surat elektroniknya melalui sejumlah protokol seperti IMAP, SMTP, dan POP3 (atau dengan kata lain dengan aplikasi pihak ketiga di telepon pintar atau Microsoft Outlook).
Pemerintah Tiongkok sebelumnya sudah dikenal memberlakukan kebijakan kontrol ketat atas internet untuk mencegah kerusuhan sosial atau kritik terhadap Partai Komunis.
Negara tersebut menerapkan sensor internet paling rumit di dunia yang dikenal dengan nama Great Firewall. Para pengamat menduga Tiongkok tengah meningkatkan kontrol tersebut dengan target utama perusahaan asing seperti Google dengan menyaring informasi dari luar negeri.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying mengaku tidak mengetahui ada pemblokiran terhadap Gmail.
"Tiongkok sudah sejak lama secara konsisten mendukung investastor asing yang hendak menjalankan usaha di sini. Kami terus menyediakan suasana bisnis yang sehat dan transparan bagi mereka," kata dia.
"Pemerintah tengah berupaya mengusir Google dari Tiongkok dan bahkan mengurangi pangsa pasarnya di luar negeri," kata seorang anggota GreatFire.org yang merahasiakan identitasnya.
Transparency Report dari Google, yang merupakan laporan terbuka mengenai jumlah penggunaan layanan dari Google, memperlihatkan penurunan drastis pengunjung Gmail dari Tiongkok.
"Kami telah memeriksa segalanya dan tidak ada yang salah dari pihak kami," kata juru bicara Google dari kantor perwakilan di Singapura melalui surat elektronik.
Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyuarakan keprihatinan terhadap tindakan Beijing.
"Kami mendesak Tiongkok transparan saat berurusan dengan perusahaan-perusahaan swasta dan mempertimbangkan dampak terhadap pasar oleh tindakan itu," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Jeff Rathke.
Hampir semua layanan Google memang sudah mengalami ganggunan sejak Juni tahun ini. Namun sampai Jumat kemarin, para pengguna Gmail setidaknya masih bisa mengakses surat elektroniknya melalui sejumlah protokol seperti IMAP, SMTP, dan POP3 (atau dengan kata lain dengan aplikasi pihak ketiga di telepon pintar atau Microsoft Outlook).
Pemerintah Tiongkok sebelumnya sudah dikenal memberlakukan kebijakan kontrol ketat atas internet untuk mencegah kerusuhan sosial atau kritik terhadap Partai Komunis.
Negara tersebut menerapkan sensor internet paling rumit di dunia yang dikenal dengan nama Great Firewall. Para pengamat menduga Tiongkok tengah meningkatkan kontrol tersebut dengan target utama perusahaan asing seperti Google dengan menyaring informasi dari luar negeri.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying mengaku tidak mengetahui ada pemblokiran terhadap Gmail.
"Tiongkok sudah sejak lama secara konsisten mendukung investastor asing yang hendak menjalankan usaha di sini. Kami terus menyediakan suasana bisnis yang sehat dan transparan bagi mereka," kata dia.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - IT
Lihat Juga
Wamenag tekankan tanggung jawab moral manusia atas kecerdasan buatan di ICIMS 2026 UMS
10 February 2026 17:55 WIB
Dosen UMS soroti risiko dan standar perlindungan data pada registrasi SIM berbasis face recognition
07 February 2026 18:58 WIB
Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam Indosat cegah ratusan juta upaya penipuan digital
26 November 2025 22:28 WIB
Mahasiswa Sekolah Vokasi Undip juara melalui AISA, Sahabat Cerdas Petani Sawit
07 November 2025 13:21 WIB