Harga Cabai Tembus Rp60 Ribu
Selasa, 11 November 2014 15:37 WIB
ilustrasi
"Padahal, tiga hari lalu masih berkisar Rp45.000-Rp50.000/kg. Kenaikannya terjadi setiap hari, berkisar Rp1.000-Rp5.000/kg," kata salah seorang pedagan sayuran, Supardi (45), di Purwokerto, Selasa.
Bahkan, kata dia, cabai merah besar saat ini sulit diperoleh di pasaran karena tidak adanya pasokan dari petani.
Menurut dia, kenaikan harga cabai itu disebabkan petani di sentra tanaman cabai Yogyakarta dan Jawa Timur belum mulai tanam setelah melewati musim kemarau.
Oleh karena itu, lanjut dia, pasokan cabai dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Timur menjadi terhenti.
"Saat ini, sentra tanaman sayuran yang masih memroduksi cabai hanya di lereng Gunung Slamet. Akan tetapi produksi cabai dari wilayah itu justru diborong tengkulak untuk dijual di Yogyakarta dan Jawa Timur," katanya.
Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut mengakibatkan harga cabai terus melonjak.
Dalam kesempatan terpisah, salah seorang petani di sentra tanaman sayuran, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Sugito mengatakan bahwa produksi cabai di lereng Gunung Slamet tidak begitu menggembirakan.
Menurut dia, tanaman cabai yang masih bertahan hingga saat ini merupakan tanaman yang dapat diselamatkan dari kekeringan selama musim kemarau.
"Namun saat ini, sebagian besar tanaman cabai terserang patek atau busuk daun dan buah. Akibatnya, produksi cabai pun merosot," kata dia yang juga Kepala Desa Serang.
Ia mengatakan bahwa luas tanaman cabai di Desa Serang mencapai 65 hektare, sedangkan yang terserang patek mencapai 80 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut mengakibatkan harga cabai di tingkat petani mencapai kisaran Rp40.000-Rp45.000/kg.
"Di saat harganya membaik seperti sekarang ini, produksi cabai justru berkurang akibat serangan patek," katanya.
Bahkan, kata dia, cabai merah besar saat ini sulit diperoleh di pasaran karena tidak adanya pasokan dari petani.
Menurut dia, kenaikan harga cabai itu disebabkan petani di sentra tanaman cabai Yogyakarta dan Jawa Timur belum mulai tanam setelah melewati musim kemarau.
Oleh karena itu, lanjut dia, pasokan cabai dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Timur menjadi terhenti.
"Saat ini, sentra tanaman sayuran yang masih memroduksi cabai hanya di lereng Gunung Slamet. Akan tetapi produksi cabai dari wilayah itu justru diborong tengkulak untuk dijual di Yogyakarta dan Jawa Timur," katanya.
Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut mengakibatkan harga cabai terus melonjak.
Dalam kesempatan terpisah, salah seorang petani di sentra tanaman sayuran, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Sugito mengatakan bahwa produksi cabai di lereng Gunung Slamet tidak begitu menggembirakan.
Menurut dia, tanaman cabai yang masih bertahan hingga saat ini merupakan tanaman yang dapat diselamatkan dari kekeringan selama musim kemarau.
"Namun saat ini, sebagian besar tanaman cabai terserang patek atau busuk daun dan buah. Akibatnya, produksi cabai pun merosot," kata dia yang juga Kepala Desa Serang.
Ia mengatakan bahwa luas tanaman cabai di Desa Serang mencapai 65 hektare, sedangkan yang terserang patek mencapai 80 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut mengakibatkan harga cabai di tingkat petani mencapai kisaran Rp40.000-Rp45.000/kg.
"Di saat harganya membaik seperti sekarang ini, produksi cabai justru berkurang akibat serangan patek," katanya.
Pewarta : Sumarwoto
Editor : hernawan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
"Sewunara" digelar Binus Semarang pertemukan gagasan kreatif lintas negara
26 September 2026 22:37 WIB
Bank Jateng perkuat sinergi dengan KIW, dorong ekosistem industri dan dunia usaha Jateng
26 September 2026 11:07 WIB
IPOT X resmi meluncur, Indo Premier bawa inovasi AI-Powered Investing untuk investor Indonesia
26 September 2026 9:42 WIB
Terpopuler - Makro
Lihat Juga
Menkeu : Belanja negara tahun 2027 tembus Rp4.000 T, pertama dalam sejarah Indonesia
23 September 2026 13:29 WIB
Pemkab Kudus memanfaatkan bantuan CSR Bank Jateng untuk peningkatan UMKM
15 September 2026 22:32 WIB
Rembang terapkan metode tanam PM-AAS dengan harapan dongkrak produktivitas padi
15 September 2026 22:28 WIB