Nazaruddin Kiemas meninggal dunia, PDIP merasa kehilangan.

id Nazaruddin Kiemas,Anggota DPR RI,PDI Perjuangan

HUT Banteng Muda Indonesia Ketua DPP Banteng Muda Indonesia Nazaruddin Kiemas (kedua kanan) berjabat tangan dengan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat (kedua kiri) saat perayaan HUT ke-17 Banteng Muda Indonesia di Jakarta, Kamis (30/3/2017). Ketua DPP BMI menginstruksikan seluruh jajaran organisasi sayap PDI Perjuangan tersebut untuk memenangkan dan mengawal perolehan suara Basuki Tjahaja Purnama-Djarot pada 19 April mendatang. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Magelang (ANTARA) - PDI Perjuangan merasa kehilangan menyusul politisi senior PDI Perjuangan Nazaruddin Kiemas, adik ipar mantan presiden kelima Megawati Soekarnoputri, yang meninggal dunia di Jakarta pada Selasa (26/3).

"Pak Nazaruddin adalah politsi yang ramah dan memperhatikan semua sahabat dan kolega," kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuagan, Eriko Sotarduda melalui telepon genggamnya, Selasa.

Menurut Eriko, Nazaruddin Kiemas hingga berusia 70 tahun, tapi tetap memiliki semangat, sikap ramah, dan perhatian kepada teman. "Ini yang menjadi kenangan indah dan membuat perjuangan partai lebih baik ke depan," kata Eriko.

Sebelumnya, beredar pesan di aplikasi whatsapp, pada Selasa hari ini, yakni kabar duka yang memberitakan Nazaruddin Kiemas meninggal dunia.

"Innalillahi wainnaillaihi rajjiun.

Telah berpulang ke hadirat Allah SWT.

Yang tercinta Ketua Umum Banteng Muda Indonesia.
Bpk. Ir. H. Nazarudin Kiemas.

Mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya, dan semoga almarhum husnul khotimah, serta mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Keterangan mengenai rumah duka dan rencana pemakaman akan disampaikan lebih lanjut.

Wassalammualaikum Wr. Wb."

Pesan duka cita tersebut segera beredar pada aplikasi whatsapp.

Nazaruddin Kiemas, anggota DPR Komisi VII dari Fraksi PDI Perjuangan dan juga Ketua Umum Banteng Muda Indonesia. Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka, di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan.
 

Pewarta : Riza Harahap
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar