Jangan samakan pilpres dengan perang

id pilpres

Pandeglang (ANTARA) - "Jangan samakan pilpres dengan perang, apalagi Perang Badar. Bahaya kalau sampai persepsi seperti ini tertanam dalam pemahaman masyarakat," kata Ustadz Badruziaman, salah seorang tokoh agama di Kabupaten Pandeglang.

Saat ditemui, Minggu, ia mengharapkan para elit agar menyampaikan pernyataan yang menyejukkan pada masyarakat terkait pilpres.

"Silakan mengajak masyarakat untuk memilih salah satu pasangan calon. Sampaikan saja siapa calon yang didukungnya itu, apa programnya. Masyarakat sudah pintar kok," katanya.

Ia mengharapkan, agar kata "perang" itu jangan digunakan, karena khawatir ada kesalahan faham pada masyarakat yang mendengarnya.

Ketum PAN Zulkifli Hasan sebelumnya juga menyatakan bahwa pilpres bukanlah Perang Badar, dan mengajak masyarakat untuk menghormati pilihan pada pilpres yang akan digelar 17 April 2019 itu.

"Pilpres bukan Perang Badar, tapi kegiatan lima tahunan untuk memilih pemimpin bangsa, dan ajang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan," kata Zulkifli yang juga Ketua MPR RI itu.

Sementara calon wakil presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin menyatakan pemilihan presiden bukan sebuah perang, tapi ajang untuk mencari pemimpin terbaik bagi bangsa Indonesia.

"Pilpres itu bukan perang akan tetapi mencari pemimpin terbaik dari bangsa. Pemimpin itu harus menjaga agama dan membangun kemakmuran untuk rakyat seluruhnya," katanya dalam sambutannya pada acara peringatan Hari Lahir Ke-96 Nahdlatul Ulama di Lapangan Lapas Anak Pria, Kota Tangerang, Sabtu (23/3)

Ia menjelaskan, ada yang menyatakan kalau pilpres yang akan digelar 17 April 2019 merupakan perang Badar (peperangan zaman Rasulullah Muhammad SAW), sehingga membaca doa perang Badar.

Ma'ruf meminta agar masyarakat tidak boleh terpengaruh dan terprovokasi, bahwa pilpres ini dijadikan perang. Dalam perbedaan tidak akan menjadi masalah, dalam hal beragama dapat berbeda.

"Kalau tidak mau pilih Pak Jokowi pilih aja saya, kalau gak mau pilih saya maka pilih saya Pak Jokowi. Beres kan itu," katanya.

Ketua PWNU Banten KH. Bunyamin mengatakan agar warga NU di Banten agar tetap menjaga "ukhuwah wathaniyah" (persaudaraan sesama bangsa) untuk kedaulatan rakyat. Pentingnya dalam menjaga NKRI sehingga NU harus menjadi garda terdepan menjaga bangsa ini dari segala macam ancaman.

“Untuk itu mari kita sama-sama jaga kesatuan. Siap bersatu?. Kalau siap ada satu pesan dari saya tanggal 17 April 2019 bagi kita warga Nahdliyin,” katanya.

Ia menyatakan, NU hampir satu abad dengan berdiri tegap, sampai kapanpun tidak boleh berhenti berperan untuk mempertahankan NKRI. Pada saat ini sudah mulai berani kelompok kecil ingin menggantikan Pancasila menjadi khilafah, maka untuk itu NU harus siap ada garis terdepan untuk mempertahankan NKRI.

“Kita harus ingat calon wakil presiden kita adalah salah satu putra terbaik NU dan putra terbaik Banten. Kelewatan kalau orang Banten tidak memilih warga Banten,” katanya.

Sekilas Perang Badar

Dari berbagai literasi menyebutkan, Perang Badar yang terjadi pada Bulan Ramadhan tahun 2 Hijriyah merupakan peperangan besar pertama antara pasukan kaum Muslimin dari Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan kaum musyrikin Quraisy dari Mekkah yang dipimpin oleh Abu Jahal dan yang lainnya.

Rasulullah keluar Madinah bersama sekitar 313 orang sabahat/pasukan, dan dengan hanya membawa dua ekor kuda dan sekitar 70-an unta. Rasulullah membagi pasukannya menjadi dua katibah (batalyon). Katibah Muhajirin dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib dan katibah Anshor dipimpin Saad bin Muadz. Adapun liwa’ (bendera perang) dibawa oleh Mush’ab bin Umair.

Sedangkan pasukan kaum musyrikin Mekkah berjumlah sekitar 1.000 orang. Mereka membawa 100 ekor kuda, 600 baju perang dan onta yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Pasukan kaum musyrikin dipimpin oleh Abu Jahal dan pemuka-pemuka Quraisy yang lainnya.

Kedua pasukan bertemu di Lembah Badar (daerah antara Mekkah dan Madinah). Meskipun jauh lebih sedikit dari sisi personel dan materiil kaum Muslimin tidak gentar sedikitpun.

Sebelum terjadi perperangan turun hujan di malam hari, hal ini semakin menguatkan langkah kaum Muslimin dan meneguhkan hati-hati mereka. Malam itu malam 17 Ramadhan (Rasulullah dan para sahabat berangkat dari Madinah sekitar 10 atau 12 Ramadhan).

Esok harinya kedua pasukan pun berhadap-hadapan, peperangan dimulai dengan lawan tanding. Dari Kaum Muslimin diwakili tiga orang, yakni Hamzah bin Abdul Muthallib, Ali bin Abi Thalib dan Ubaidah bin Harits.

Sementara dari kaum musyrikin diwakili oleh tiga jagoan sekaligus pemuka mereka, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin Utbah. Dengan mudah Hamzah mengalahkan Syaibah dan begitu juga Ali mengalahkan Walid. Adapun Ubaidah sempat bertarung sengit dengan Utbah dan keduanya sama-sama terluka, kemudian Hamzah dan Ali membantu Ubaidah dan membunuh Utbah.

Melihat tiga wakil mereka terkalahkan dan terbunuh maka kaum musyrikin pun marah dan akhirnya perperangan sengit diantara dua pasukan pun tidak terelakkan lagi. Kaum musyrikin menyerang secara serentak, adapun kaum muslimin dalam posisi bertahan dan menyerang secara teratur. Rasulullah mengomandoi pasukannya dan juga terus berdo’a pada Allah SWT.

Allah menurunkan pertolongan dengan mengirim para malaikat. Rasulullah pun menginstruksikan pasukan kaum muslimin untuk menyerang balik. Pasukan kaum muslimin pun dengan semangat melakukan penyerangan balik dan berhasil membunuh banyak sekali pasukan kaum musyrikin. Pemimpin kaum musyrikin, Abu Jahal, pun terbunuh ditangan dua pemuda Anshor. Pasukan kaum musyrikin akhirnya tercerai berai dan melarikan diri.

Kaum musyrikin Quraisyh mengalami kekalahan yang telak, 70 orang diantara mereka terbunuh dan 70 orang ditawan. Termasuk yang terbunuh adalah Abu Jahal dan pemuka-pemuka Quraisy lainnya, sementara dari pihak kaum muslimin, 14 orang sahabat syahid.

Baca juga: Perintah Kapolri soal netralitas menuai apresiasi

Baca juga: Ma'ruf : Pilpres bukan perang tapi cari pemimpin terbaik

 

Pewarta : Sambas
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar