BPBD: titik rawan longsor Bantul dipasangi EWS

id early warning system

Warga menunjukan aplikasi berbasis android Early Warning System (EWS) saat peluncuran EWS Berbasis Masyarakat di Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (22/3/2018). Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) meluncurkan aplikasi EWS Berbasis Masyarakat yang bertujan untuk saling memberikan informasi tentang cuaca, debit sungai, dan bencana untuk masyarakat. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Bantul, (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan titik-titik rawan tanah longsor di daerah itu telah dipasangi Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini untuk mendeteksi kemungkinan terjadi bencana alam.

"Terkait potensi ancaman bencana longsor di Bantul memang sebagian wilayah rawan ada yang sudah diuji coba untuk pemasangan early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini," kata Pelaksana Tugas Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Sabtu.

Titik-titik rawan tanah longsor yang dipasangi EWS itu, seperti di wilayah Desa Srimartani Piyungan, Desa Wonolelo Pleret, Desa Selopamioro Imogiri. Alat itu akan bekerja ketika ada tanda-tanda tanah longsor atau pergerakan tanah.

Namun demikian, kata dia, sistem peringatan dini itu bukan satu-satunya alat yang bisa deteksi terkait dengan potensi tanah longsor rawan terjadi ketika turun hujan deras dengan intensitas tinggi.

"Namun yang paling penting bagaimana masyarakat memahami potensi itu menjadi sebuah bencana, sehingga masyarakat bisa segera menghindarkan diri dari ancaman bencana longsor itu sendiri," katanya.

Apalagi, kata Dwi Daryanto, tempat rawan longsor di wilayah Bantul tidak hanya satu titik.

Namun, katanya, banyak titik di satu daerah, terutama di lereng dataran tinggi, yang rawan longsor sehingga potensi kejadian itu harus diwaspadai masyarakat setempat.

"Itu satu sistem yang merupakan salah satu teknologi yang harus kita perhatikan serius, sehingga ini perlu kearifan masyarakat, karena jangan sampai hanya andalkan satu alat, padahal harusnya bisa diantisipasi oleh masyarakat sendiri," katanya.

Dwi mengatakan daerah rawan longsor di Bantul itu berasal dari rekahan tanah yang saat musim hujan ini air bisa masuk di dalamnya.

Apabila intensitas hujan tingggi, katanya, potensi tanah longsor juga tinggi.

"Akan tetapi alhamdulillah hujan di Bantul selama ini masih belum begitu ekstrem, masih landai-landai saja, hujan masih merata dan durasi belum panjang, juga curah hujan belum lebat sehingga masih terkondisi," katanya.

Baca juga: Rektor: sistem peringatan dini UGM jadi rujukan dunia
Baca juga: BPBD Yogyakarta pastikan sistem peringatan dini berfungsi baik

 

Pewarta : Hery Sidik
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar