Yahya Cholil Staquf siap curahkan pemikiran kepada Presiden Jokowi

id yahya cholil staquf,yahya staquf,wantimpres,presiden jokowi

Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf melambaikan tangan sebelum mengikuti proses pelantikan sebagai anggota Wantimpres oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/5/2018). Yahya Cholil Staquf diangkat menjadi anggota Wantimpres untuk menggantikan almarhum KH Hasyim Muzadi yang wafat. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jakarta (ANTARA News) - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang baru saja dilantik Yahya Cholil Staquf mengatakan kini nasihat-nasihat serta pemikirannya siap dicurahkan kepada Presiden sebagai bagian dari kewajibannya yang baru.

Mantan Juru Bicara Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Yahya Cholil Staquf yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah seorang anggota Wantimpres di Jakarta, Kamis, mengatakan saat ini akan lebih berhati-hati berbicara tentang negara dan pemerintahan.

"Mungkin tidak seperti sebelumnya saya lebih berhati-hati bicara tentang negara dan pemerintahan karena nasihat saya menjadi haknya Presiden," kata Yahya yang juga menjabat sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

Yahya sendiri saat awal ditawari untuk menduduki jabatan tersebut merasa sudah menjadi kewajibannya untuk menerima tawaran tersebut.

"Ini kewajiban saya untuk menerima permintaan dari Presiden untuk bergabung dalam Dewan Pertimbangan Presiden ini," katanya.

Ia menegaskan akan berusaha memenuhi harapan maupun tugas yang dibebankan, dengan mengikuti tata cara maupun etika yang semestinya.

"Bahwa apabila ada gagasan-gagasan yang sungguh-sungguh strategis untuk negara, tentu harus secara langsung dengan mengikuti tatanan tertentu disampaikan kepada Presiden," katanya.

Ia mengaku tidak mengetahui pertimbangan pasti Presiden yang kemudian memilihnya menjadi anggota Wantimpres.

"Saya waktu saya masih di Amerika Serikat dihubungi untuk pelantikan tanggal 25 Mei 2018. Tapi waktu itu saya belum pulang, saya baru pulang tanggal 28 sehingga baru diatur hari ini," katanya.

Ia sendiri memiliki pemikiran khusus mengenai UU pemberantasan terorisme yang baru termasuk terkait radikalisme di dalamnya bahwa sebetulnya sejak lama NU sudah mengartikulasikan pandangan-pandangan dimana masalah radikalisme ini harus diatasi melalui konsolidasi global.

"Indonesia tidak bisa hanya melakukan sendirian, dan tidak bisa meng-address masalah-masalag domestik yang sifatnya domestik saja terkait radikalisme itu tapi harus konsolidasi dengan masyarakat internasional secara keseluruhan. Sejak dulu NU sudah menyampaikan itu. Kemudian nanti akan ada dimensi yang lebih detail lebih teknis mengenai hal ini yang bisa didiskusikan lebih lanjut bersama pemerintah bagaimana cara pelaksanaannya," katanya.

Menurut dia, ke depan jelas harus ada komunikasi dengan negara-negara yang paling strategis, termasuk Timur Tengah dan juga dengan PBB.

"Karena masalah ini masalah global, yang menjadi concern dan tanggung jawab seluruh dunia," katanya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Yahya Cholil Staquf di Istana Negara, Jakarta, Kamis sekitar pukul 13.30 WIB.

Pengangkatan Yahya berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 84P Tahun 2018 tentang Pengangkatan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden oleh Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretariat Negara Cecep Sutiawan.
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) menyalami Khatib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf (kiri) disaksikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (dua kanan) dan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri seusai mengikuti prosesi pelantikan sebagai anggota Wantimpres di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/5/2018). Yahya Cholil Staquf diangkat menjadi anggota Wantimpres untuk menggantikan almarhum KH Hasyim Muzadi yang wafat. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)


Baca juga: Presiden Jokowi melantik Yahya Staquf sebagai Wantimpres

Pewarta : Hanni Sofia
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar