Banyumas (ANTARA News) - Rumah aspirasi menjadi perbincangan hangat di DPR setelah anggota dewan  minta anggaran  untuk pembentukan rumah aspirasi dalam  tahun anggaran 2011.

Anggarannya cukup besar Rp200 juta per orang, atau sekitar Rp112 miliar. Dana itu dipergunakan untuk membangun rumah untuk menyalurkan aspirasi rakyat kepada anggota dewan, begitu kilah para anggota dewan.

Alasan itu tampaknya tidak tepat. Anggota DPR Fraksi PDIP Budiman Sujatmiko telah membentuk rumah aspirasi sejak 4 oktober 2009 lalu, tiga hari setelah dilantik.

Menurut Budiman, pembentukan rumah aspirasi itu sebagai salah satu wujud dari kesungguhannya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.

Dengan rumah aspirasi selain menyerap aspirasi rakyat juga melakukan tugas-tugas untuk menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan nasib rakyat. Saat ini, rumah aspirasi telah berumur setahun.

ANTARA bersama media lainnya berkesempatan untuk menyambangi rumah aspirasi Budiman Sujadmiko diundang oleh Mantan Tahanan Politik Orde Baru tersebut, Sabtu.

Sabtu itu, rumah aspirasi Budiman cukup ramai. Beberapa aktivis tampak datang silih berganti.

Rumah aspirasi Budiman cukup sederhana. Rumah berpagar warna hijau dan bercat putih terletak di Arcawinangun Estate Blok AB VI/04 Purwokerto, Banyumas.

Di jendela depan tampak sebuah poster bertuliskan Rumah Aspirasi Budiman Berwarna Merah menempel erat. Sementara bendera merah bertuliskan Repdem dinding di depan.

Rumah seluas sekitar 100 meter persegi terdiri dari sebuah garasi terbuka, ruang tamu dengan sebuah rak penuh buku, dua kamar yang dipakai seperti kantor dengan sebuah komputer di dalamnya.

Sebuah ruang dalam sekitar 16 meter persegi yang dipergunakan untuk pertemuan ataupun juga tidur para aktifis yang berkunjung. Sementara sebuah WC dan ruang untuk menjemur kecil melengkapi rumah itu.

Rumah Aspirasi ini dikelola seperti layaknya organisasi. Struktur organisasi rumah aspirasi melibatkan sekitar delapan orang dengan Direktur Jarot C Setyoko. Skema organisasi ditempel di tembok ruang tamu, berjejer dengan beberapa poster diantaranya bertuliskan orang miskin dilarang sekolah.

Di dalam struktur organisai Rumah Aspirasi Budiman, selain direktur, juga terdapat asisten direktur bidang pemberdayaan petani dan penguatan pemerintah desa, asisten direktur bidang pemberdayaan sosial dan advokasi kebijakan publik, manajer kesekretariatan.

Selain itu, koordinator bantuan hukum, manajer wilayah Banyumas, manajer wilayah Cilacap Barat dan manajer wilayah Cilacap Timur.

Menurut Direktur Rumah Aspirasi Budiman, Jarot C Setyoko, rumah yang ditempati disewa seharga Rp8 juta per tahun. Budiman menjadi pendonor dengan memberikan Rp20 juta per bulannnya.

Ia mengatakan, rumah aspirasi Budiman berbeda dengan rumah aspirasi lainnya. Pihaknya menyasar pada pemberdayaan masyarakat dan advokasi kepada rakyat.

"Untuk itu, kita hampir-hampir tidak ada yang minta-minta uang untuk proyek apa, tapi kita kadang diundang, mau kita kasih uang malah mereka tidak mau," katanya.

Konsep pemberdayaan membuat rumah aspirasi ini dekat dengan kalangan masyarakat. Apalagi di Banyumas dan Cilacap masih banyak masyarakat yang membutuhkan pemberdayaan dan advokasi (pembelaan).

"Terutama kalangan tani, di sini masih banyak konflik agraria yang timbul di mana petani masih menjadi korban," katanya.

Selain itu, berbagai program dibentuk, seperti konsolidasi para petani dan juga diskusi bulanan.

Menurut Budiman Sujatmiko, dirinya memiliki tiga janji saat kampanye dahulu. Pertama akan menyelesaikan masalah agraria, membuat rumah aspirasi dan memperjuangkan Undang-undang tentang Desa.

Ia mengatakan, dengan rumah aspirasi yang dibuatnya selain untuk menyerap aspirasi juga untuk selalu memperkuat pemberdayaan masyarakat di wilayahnya.

Budiman sendiri mengaku, dirinya mendapatkan suara tertinggi di wilayah pemilihan Cilacap. Hasil dari 18 tahun memberdayakan para petani di wilayah ini, sejak pertama kali ditangkap di Desa Caruy, Kec Cipari, Cilacap.
(M041/T010)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010