13 juta jiwa telah menjalani vaksinasi dosis pertama

id Data harian COVID-19,Vaksinasi,Menkes,aa

Petugas dari Puskesmas Kecamatan Cilandak menyuntikan vaksin COVID-19 di RPTRA Bahari, Gandari Selatan, Jakarta Selatan, Kamis (6/5/2021). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.

Jakarta (ANTARA) - Data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 menyatakan sebanyak 13.284.422 jiwa telah menjalani vaksinasi COVID-19 dosis pertama hingga Sabtu pukul 12.00 WIB atau bertambah 147.736 orang dari hari sebelumnya.

Sementara yang mendapatkan vaksinasi dosis kedua bertambah sebanyak 127.595 jiwa atau total menjadi 8.583.854 jiwa. Adapun target sasaran vaksinasi sebanyak 40.349.049 orang.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai vaksinasi bisa menekan biaya kesehatan yang bisa saja meledak karena harus mendapatkan perawatan dan pengobatan intensif akibat gejala yang ditimbulkan dari suatu virus.

"Saya sangat mendukung program vaksinasi sebagai salah satu program utama di sektor promotif dan preventif, di luar program lainnya seperti skrining atau gerakan masyarakat menjaga hidup sehat," ujar Menkes dalam webinar Pekan Imunisasi Dunia yang dipantau dari Jakarta, Sabtu.

Baca juga: Kemenkes susun rencana imunisasi 14 jenis vaksin secara nasional

Baca juga: Vietnam laporkan kematian pertama penerima vaksin COVID AstraZeneca

Menurutnya, biaya kesehatan di dunia terus tumbuh lebih besar daripada pertumbuhan ekonominya. Hal itu terjadi karena banyak biaya kesehatan yang dialokasikan untuk sektor kuratif (pengobatan).

Ia mencontohkan dalam perawatan pasien COVID-19, masyarakat yang dirawat dan diberikan obat-obatan bisa menghabiskan biaya jutaan bahkan ratusan juta bagi mereka yang masuk kategori bergejala berat.

Sementara apabila dari awal dilakukan langkah promotif dan preventif, biaya yang dikeluarkan tidak akan sebesar itu. Gerakan masyarakat lain yang masuk kategori promotif dan preventif seperti kebiasaan hidup sehat, dinilai akan mampu menekan biaya kesehatan di sektor kuratif.

"Untuk preventif, misalkan kita alokasikan untuk membeli vitamin C, vitamin B, masker, atau alat olahraga. Saya rasa tidak sampai satu juta sebulan kita habiskan untuk alokasi biaya kalau kita fokusnya ke preventif dalam menghadapi COVID-19," kata dia.*

Baca juga: Sinopharm tambah produksi 3 miliar setelah disetujui WHO

Baca juga: Vaksin COVID-19 Sinopharm disetujui WHO


Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar