BNPB: Masyarakat NTT anggap gejala Siklon Seroja angin kencang biasa

id Bnpb,Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Intelijen Penanggulangan Bencana,Bencana siklon seroja ntt

Rumah-rumah penduduk di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur tergenang air banjir saat badai siklon tropis seroja melanda daerah itu Ahad (4/4/2021) lalu. (Antara/ Benny Jahang)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo melaporkan temuan bahwa masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) anggap gejala Siklon Tropis Seroja layaknya angin kencang biasa.

"Mereka tidak membayangkan bencana siklon secepat itu, dan mengakibatkan banjir. Padahal kebanyakan dari mereka sudah menerima informasi," kata Agus dalam diskusi daring Bencana Hidrometeorologi NTT akibat Siklon Seroja yang dipantau dari Jakarta, Kamis.

Agus mengatakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat telah menginformasikan gejala Siklon Seroja sejak 30 Maret 2021. Info tersebut pun sudah disebarkan melalui siaran pers hingga diterima oleh masyarakat.

Melalui survei lapangan, Agus mengatakan warga NTT sebenarnya telah mendapat informasi tentang antisipasi bencana Siklon Seroja tersebut, namun banyak yang tidak menduga akan terjadi banjir bandang di wilayah NTT yang cenderung kering.

Baca juga: Muhammadiyah salurkan dana hingga Rp8 miliar untuk tanggap bencana

Baca juga: Uni Eropa salurkan Rp 3,4 miliar bantu korban banjir dan siklon NTT


Agus menarik pembelajaran dari Desa Oesena di NTT yang sudah mendapat pembekalan dari program Desa Tangguh Bencana (Destana) dan telah memahami risiko bencana. Mereka telah memiliki bencana lengkap, dilatih simulasi evakuasi dan memahami sistem peringatan dini (early warning system).

"Mereka tidak ada korban jiwa, karena saat bencana siklon itu kepada desa keliling dan secara berantai meminta evakuasi ke tempat kantor kepala desa dan gereja terdekat," ungkap Agus.

Usai banjir bandang, di desa tersebut ditemukan retakan tanah sepanjang kurang lebih satu kilometer, dan ditemukan banyak mata air. Agus mengatakan warga telah memahami kemungkinan itu berbahaya ketika hujan, sehingga mereka mengungsi dan akan mengajukan relokasi.

"Mereka mengajukan relokasi, dua kampung, sekitar 225 penduduk dan menyiapkan tempat relokasi, tinggal perlu kalkulasi risikonya," ujar dia.

Selain itu Agus menilai sistem komando dan pembentukan posko penanganan bencana setelah NTT diterpa siklon menurutnya sudah baik. Namun, sejumlah kendala menghambat proses penanggulangan bencana diantaranya lumpuhnya akses jalan dan komunikasi.

Kemudian hambatan berikutnya adalah banyaknya personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang masih baru, sehingga terkendala kurangnya pemahaman soal pengorganisasian, ketrampilan serta peta bencana.

Sehingga atas dasar tersebut Agus merekomendasikan perlunya perkuatan Pusdalops di daerah, dan menggalakkan Destana di 20 desa NTT, serta sistem komando yang seragam untuk semua Kabupaten/Kota agar dapat siap selalu siaga.

Rekomendasi berikutnya yakni mengkaji kembali dokumen risiko bencana, dan merevisi peta risiko yang baru, khususnya pada wilayah dengan ancaman topan banjir, aliran lava, lahar maupun bencana banjir, guna sebagai bahan advokasi ke pemerintah daerah untuk menentukan kebijakan relokasi.

"Program pra bencana perlu ditinjau ulang, soal Sestana, sosialisasi, dan penguatan kelembagaan BPBD dari sisi SDM (sumber daya manusia), jangan anggotanya dirotasi terlalu cepat," ujar dia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kementerian Lembaga dan unsur pentaheliks lainnya seperti ahli bencana dari perguruan tinggi dan praktisi kebencanaan menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Intelijen Penanggulangan Bencana guna memaparkan data dan informasi, kajian saintifik serta upaya penanggulangan bencana di wilayah terdampak pada Kamis (29/4) dan Jumat (30/4).

Pada Rakor hari pertama, tim intelijen membahas siklon tropis Seroja yang memicu bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal April lalu. Rakor yang dilaksanakan secara tatap muka dan daring ini menghadirkan narasumber dari berbagai kementerian lembaga seperti Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Hadir pula memberikan paparan secara daring ahli bencana dari perguruan tinggi Universitas Gajah Mada (UGM) dan IPB University.*

Baca juga: BIG: Sumba Timur-NTT berada di pertemuan titik ruang DAS, rawan banjir

Baca juga: Bali United bantu pengungsi korban bencana banjir NTT

Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar