Wakil Ketua MPR: Dukung riset vaksin COVID-19 dengan anggaran memadai

id Wakil ketua mpr, mpr, hidayat nur wahid, hnw, wakil ketua mpr hidayat nur wahid

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. FOTO ANTARA/Ikhwan Wahyudi/aa. (Antara/Ikhwan Wahyudi)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid mendorong pemerintah untuk mendukung riset agar segera menemukan vaksin COVID-19 dengan anggaran memadai, dibarengi dengan kerja sama antarlembaga.

Melalui pernyataan tertulis, di Jakarta, Minggu, HNW, sapaan akrab Hidayat Nur Wahid menyoroti pernyataan Presiden Joko Widodo yang hendak berdamai dengan COVID-19.

"Keinginan berdamai dengan COVID-19 itu mestinya dibarengi dengan kebijakan perintah kepada Kemenristek, Kemenkes, serta lembaga-lembaga lain untuk melakukan koordinasi serta kerja sama agar segera menemukan vaksin COVID-19," katanya.

Baca juga: Menristek bentuk konsorsium riset teknologi penanganan COVID-19

Mengajak berperang atau berdamai dengan virus corona hingga ditemukan vaksin, tanpa usaha serius dan anggaran yang memadai untuk riset, menurut HNW, akan menjadi bukti bahwa pemerintah tidak serius ingin memutus penyebaran COVID-19.

Sebab, kata dia, anggaran di Kemenristek tidak mengalami penambahan, bahkan dipotong. Padahal, riset sangat dibutuhkan untuk menemukan vaksin sebagai cara efektif untuk menyelesaikan darurat kesehatan bencana nasional COVID-19.

Apalagi, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengingatkan jumlah korban yang terpapar semakin banyak.

Baca juga: Wapres: Pemerintah kembangkan riset vaksin COVID-19

"Kita tidak akan bisa menang perang atau berdamai dengan virus corona, dan berdaulat secara kesehatan, jika kita tidak maksimal mendukung upaya penemuan vaksin," katanya.

Mengutip Perpres 54/2020 yang memotong anggaran Kemenristek sebesar Rp40 triliun, HNW menyebut persentase potongan anggaran terbesar dibanding pemotongan kementerian lainnya, meskipun pemerintah bisa berkilah bahwa pemotongan itu terkait perubahan nomenklatur, ruang realokasi internal Kemenristek.

Namun, kata dia, untuk mendukung riset vaksin tentu semakin kecil, apalagi dengan hanya anggaran tersisa sebesar Rp2 triliun. Bahkan, Menristek menyebutkan bahwa pihaknya hanya menganggarkan Rp40 miliar untuk riset vaksin COVID-19.

Baca juga: Istana minta perguruan tinggi bentuk wadah kolaborasi riset COVID-19

HNW menyebutkan dalam kondisi normal idealnya dana riset tidak kurang dari dua persen PDB, namun Indonesia selama ini masih terjebak di kisaran 0,3 persen PDB, apalagi dalam situasi pandemi dan bencana nasional.

Oleh karena itu, Hidayat mengingatkan pemerintah harus memprioritaskan anggaran riset, seraya mencontohkan anggaran riset vaksin di beberapa negara yang sangat besar, seperti di Amerika Serikat mencapai Rp16,3 triliun, India sebesar Rp1,6 triliun, dan Inggris Rp1,1 triliun.

"Saya khawatir Indonesia terlambat menemukan vaksin COVID-19," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, agar perang melawan COVID-19 yang digaungkan Presiden Jokowi saat Konferensi virtual G20 bisa dimenangkan, pemerintah perlu senjata yang efektif antara lain adanya vaksin.

Baca juga: Pakar: Lebih baik pangkas anggaran infrastruktur dibanding riset

"Kalaupun damai, maka damai dengan COVID-19 akan bermanfaat dan selamatkan bangsa apabila vaksin itu segera ditemukan oleh Indonesia, dan itu hanya akan terjadi bila pemerintah serius mendorong riset untuk menemukan vaksin COVID-19," katanya.

Untuk itu, kata HNW, pemerintah harus segera merealokasi anggaran untuk meningkatkan anggaran riset di Kemenristek dan Kemenkes.

Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar