Berdikari usulkan ayam potong dimasukkan ke dalam bantuan sosial

id berdikari,bansos,kementerian sosial,harga ayam,ayam ras,ayam potong

Pekerja memeriksa kondisi kandang dan ayam di peternakan ayam modern Naratas, Desa Jelat, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (11/4/2020). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/wsj.

Jakarta (ANTARA) - BUMN sektor perunggasan, PT Berdikari (Persero) mengusulkan daging ayam siap potong dimasukkan ke dalam paket bantuan sosial (bansos) yang diberikan oleh Kementerian Sosial kepada masyarakat di tengah pandemi COVID-19 ini.

Direktur Utama Berdikari Harry Warganegara menilai pembelian ayam ras siap potong (livebird) selain untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, juga dapat menstabilisasi harga ayam di tingkat peternak yang saat ini sedang jatuh.

"Kami mengusulkan agar ayam karkas atau ayam potong ini bisa masuk ke paket sembako oleh Kemensos. Ini bisa membantu menyerap harga ayam lebih stabil di tingkat petani-petani mandiri, jika ada paket ayam karkas atau potong yang sudah frozen," kata Harry dalam rapat virtual dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Senin.

Baca juga: Harga jatuh, Kementan gandeng organisasi peternak serap ayam ras

Harry menjelaskan bahwa saat ini harga ayam hidup di tingkat peternak sedang menurun hingga ke angka Rp4.000-Rp5.000 per kg, padahal biaya produksi mencapai Rp17.000 per kg.

Padahal, berdasarkan pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) pada Senin, harga rata-rata daging ayam ras secara nasional di tingkat konsumen sebesar Rp28.450 per kg.

Berdikari pun mendapat penugasan untuk membeli ayam hidup dari peternak mandiri dengan harga Rp17.500 per kg. Sejak pekan lalu, BUMN pangan tersebut telah membeli 500.000 ekor ayam dari peternak mandiri.

"Kalau mengacu kemampuan kami, sudah sejak minggu lalu dari peternak mandiri 500.000 ekor. Kami ambil dari petani mandiri yang ada di daftar Kementan, kemudian kami simpan di cold storage," kata Harry.

Namun demikian, kemampuan penyimpanan daging ayam yang dimiliki Berdikari saat ini sudah hampir 100 persen. Oleh karena itu, perusahaan memerlukan offtaker untuk dapat membantu memasarkan daging ayam potong tersebut.

Adapun Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia menyatakan bahwa kondisi kelebihan stok (over supply) di pasar ayam hidup di tingkat peternak, telah berlangsung sejak tahun lalu dan bergulir hingga 2020 ini.

Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPU) mencatat bahwa over supply pasokan nasional pada April 2020 sebanyak 65,4 juta ekor DOC atau setara dengan 18.469 ton daging ayam.

Baca juga: Harga ayam hidup anjlok, Komisi IV minta Mentan perbaiki koordinasi
Baca juga: Kementan optimalkan rumah potong jaga stabilisasi harga ayam ras

Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar