MUI apresiasi Kuala Lumpur Summit bahas nasib Uighur

id uighur,anwar abbas,mui,majelis ulama indonesia,muhammadiyah,pp muhammadiyah

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi menghadiri pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi Kuala Lumpur Summit (KTT KL Summit) yang diikuti 56 negara muslim di Kuala Lumpur Convention Center, Kamis (19/12/2019). Pemerintah Indonesia mendorong persatuan dan kesatuan umat Islam di seluruh dunia dalam penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kuala Lumpur tersebut. ANTARA FOTO/Agus Setiawan/foc. (ANTARA FOTO/AGUS SETIAWAN)

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mengapresiasi perhelatan Kuala Lumpur Summit yang digelar pada 19-21 Desember 2019 dengan salah satu agendanya membahas nasib etnis minoritas Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China.

"MUI menyambut baik diselenggarakannya KL Summit... karena memang masalah yang akan dibahas adalah masalah-masalah penting yang menyangkut umat Islam terutama mengenai nasib Uighur, perang di Yaman, gender, kesenjangan ekonomi di kalangan dunia Islam dan Islamofobia," kata Buya Anwar kepada wartawan di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, masalah-masalah tersebut sangat tepat dibahas dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Dia mengatakan OKI tampaknya kurang responsif dan lebih banyak menunggu sehingga mendorong Mahatir Mohamad menyelenggarakan KL Summit.

Baca juga: Empat pimpinan negara pidato pada pembukaan KL Summit

Baca juga: KTT Kuala Lumpur dihadiri 56 negara Muslim

Baca juga: Permai Penang partisipasi dalam KL Youth Summit 2019


Perdana Menteri Malaysia tersebut, kata dia, mengambil inisiatif dan langkah-langkah agar dunia bisa mendengar dan memperhatikan suara umat Islam dunia. Dengan begitu, negara-negara Barat, Amerika Serikat dan China bisa memperbaiki sikap dan pandangannya terhadap Islam.

"Jadi KL Summit ini jelas merupakan sebuah pertemuan yang sangat penting dan strategis karena tidak hanya berarti bagi umat Islam tapi juga bagi umat agama lain. Perhelatan itu agar tercipta saling pengertian sehingga dunia yang aman, tenteram dan damai," kata dia.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengatakan pandangan Barat, AS dan China tersebut sangat merugikan umat islam.

"Jadi dari pertemuan ini diharapkan akan bisa ditemukan cara-cara dan langkah-langkah penyelesaian terhadap masalah dan tantangan yang dihadapi dunia Islam, termasuk mengatasi Islamofobia," katanya.

Sejauh ini, kata dia, upaya mengatasi Islamofobia hasilnya belum menggembirakan sehingga umat Islam selalu terpojok bahkan menjadi korban tindak orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Hal itu, lanjut dia, seperti yang dialami oleh Muslim di Christchurch, Selandia Baru, dengan orang Islam dibunuh seorang bersenjata secara brutal dan menewaskan 60 orang.*

Baca juga: Mahathir: KL Summit untuk meningkatkan kehidupan umat Islam

Baca juga: Indonesia dorong persatuan umat Islam di Kuala Lumpur Summit 2019

Baca juga: Wapres Ma'ruf Amin batal hadiri KTT Kuala Lumpur

Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar