Penasihat hukum ajukan eksepsi kasus penganiayaan hakim

id Sidang desrizal chaniago, desrizal chaniago, atmajaya salim, p permana, pengadilan negeri jakarta pusat, pn jakpus, pemukulan hakim,Penganiayaan hakim

Desrizal Chaniago terdakwa kasus penganiayaan hakim berbincang dengan penasihat hukumnya usai sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2019). ANTARA/Livia Kristianti

Jakarta (ANTARA) - Atmajaya Salim selaku penasihat hukum Desrizal Chaniago, terdakwa kasus penganiayaan terhadap hakim mengajukan keberatan atau eksepsi atas dakwaan yang ditujukan pada kliennya.

"Ada beberapa yang tidak jelas lengkap dan tidak sempurna di dalam surat dakwaan, makanya saya mengajukan nota keberatan," kata Atmajaya Salim usai persidangan perdana Desrizal di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa.

Dalam eksepsi yang akan diajukan, Atmajaya Salim mengatakan akan menghadirkan latar belakang peristiwa yang menyebabkan penyabetan ikat pinggang secara spontan kepada hakim Sunarso oleh kliennya.

Atmajaya Salim enggan membeberkan hal- hal yang tidak sempurna dalam dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum P. Permana.

"Tunggu saja di sidang eksepsi, masih rahasia dong," kata Atmajaya Salim.

Nota keberatan atau eksepsi hanya diajukan dari penasihat hukum. Sedangkan Desrizal Chaniago tidak mengajukan nota keberatan secara pribadi.

Baca juga: Kasus penganiayaan hakim mulai disidang di PN Jakarta Pusat
Baca juga: Hamdan Zoelva tangani kasus terdakwa pemukul hakim


Dalam sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan, Desrizal Chaniago dikenai dua dakwaan alternatif, yaitu Pasal 351 ayat 1 KUHP atau Pasal 212 KUHP.

Kronologi kejadian penganiayaan hakim Sunarso terjadi ketika Desrizal Chaniago bertugas sebagai pengacara untuk kasus perdata, yakni menangani gugatan wan prestasi pengusaha Tomy Winata terhadap PT Geria Wijaya Prestige (GWP) pada Kamis (18/7).

Pemukulan tersebut menyebabkan luka di dahi kiri hakim Sunarso dan luka lebam di lengan kiri hakim Duta Baskara.
 

Pewarta : Livia Kristianti
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar