Oscar Motuloh terima gelar "Empu Ageng" dari ISI Yogyakarta

id Empu ageng,oscar matuloh,Galeri Foto Jurnalistik ANTARA,lkbn antara,seni fotografi,ISI) Yogyakarta

Penanggung Jawab dan Kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Oscar Motuloh menyampaikan pidato ilmiah saat penganugerahan Gelar Kehormatan Empu Ageng dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta di Concert Hall, ISI Yogyakarta, Rabu (18/9/2019). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pras.

Yogyakarta (ANTARA) - Direktur Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) Oscar Motuloh menerima gelar kehormatan Empu Ageng dalam bidang fotografi jurnalistik dari Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta, Rabu.

Melalui Sidang Senat Terbuka di Concert Hall ISI Yogyakarta, Rektor ISI Yogyakarta Prof Agus Burhan mengalungkan kalung kehormatan serta menyerahkan langsung piagam Empu Ageng kepada fotografer senior LKBN ANTARA itu.

"Gelar ini suatu anugerah yang sejatinya adalah sebentuk penghormatan khusus bagi fotografi jurnalistik dan fotografi Indonesia secara umum," kata Oscar saat berpidato dalam acara penganugerahan itu.

Oscar mengatakan anugerah gelar kehormatan Empu Ageng itu juga sekaligus menjadi metafora konstruktif di belantara jurnalisme yang belakangan ini meredup pamor dan eksistensinya.

Baca juga: Jokowi berterima kasih lewat unggahan foto ANTARA ke Instagram

Rektor ISI Yogyakarta Prof Agus Burhan mengatakan Empu Ageng setara dengan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC). Gelar itu merupakan gelar pencapaian maestro pada kompetensi bidang seni yang tertinggi dan prestisius dalam tradisi dunia pendidikan tinggi di ISI Yogyakarta.

"Jika doktor HC lebih ditekankan pada pencapaian-pencapaian akademik, sedangkan Empu Ageng lebih ke kompetensi bidang seni," kata dia.

Menurut Agus, Oscar layak mendapatkan gelar kehormatan itu karena telah membawa dampak positif terhadap dunia fotografi khususnya fotografi jurnalistik di Indonesia.

"Pemberian gelar Empu Ageng untuk Oscar Motuloh ini telah melalui pertimbangan pada pencapaian karya-karyanya yang luar biasa, demikian juga jasa-jasanya dalam pengembangan ilmu dan dunia fotografi jurnalistik Indonesia," kata dia.

Agus menilai dalam kesehariannya bertugas di LKBN ANTARA, Oscar mampu melahirkan gaya sintesis fotografi jurnalistik gaya Inggris Raya yang bersifat langsung (straight photo) dengan foto jurnalistik pictorial Eropa daratan yang bergaya features.

Baca juga: Artefak Proklamasi dipamerkan di GFJA


"Melihat berbagai kreativitasnya dalam gaya fotografi jurnalistik, Oscar Motuloh dikenal dengan pencapaian estetikanya yang fenomenal," kata Agus.

Soprapto Seodjono selaku promotor menambahkan penganugerahan gelar itu layak diberikan untuk Oscar karena pria kelahiran Surabaya 17 Agustus 1956 itu telah sukses membidani pendirian Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) di Jakarta.

"GFJA merupakan satu-satunya galeri foto jurnalistik pertama yang didirikan pada 1992 di Asia Tenggara," kata dia.

Gelar Empu Ageng ini merupakan kelima kalinya yang pernah dianugerahkan ISI Yogyakarta untuk sejumlah tokoh di Indonesia. Pertama kali gelar kehormatan Empu Ageng diberikan kepada Cokrowarsito untuk bidang Seni Pertunjukan/Seni Karawitan pada 21 Juli 2004.

Baca juga: Dua fotografer Indonesia raih penghargaan HIPA

Selanjutnya, gelar kehormatan Empu Ageng juga diberikan kepada Edhi Sunarso, bidang Seni Rupa/Seni Patung pada 14 Januari 2011, Ki Cermo Manggolo (Timbul Hadi Prayitno) menerima gelar kehormatan Empu Ageng bidang Seni Pertunjukan/Seni Pedalangan pada 28 Mei 2011.

Disusul kemudian Abas Alibasyah menerima gelar kehormatan Empu Ageng bidang Seni Rupa/Seni Lukis pada 28 Mei 2012.

"Untuk bidang fotografi jurnalistik ini yang pertama kalinya," kata Agus Burhan.

Rapat Senat Terbuka penganugerahan Empu Ageng untuk Oscar Motuloh dihadiri Mantan Pimpinan Umum (PU) LKBN ANTARA Muhammad Sobary, Direktur Pemberitaan Perum LKBN ANTARA Akhmad Munir, Rektor ISI Yogyakarta Prof Agus Burhan, serta jajaran Guru Besar ISI Yogyakarta.

Baca juga: Pameran "Art & Diplomacy" gambarkan perjuangan diplomasi Indonesia

 

Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar