PBB: kematian warga sipil di Afghanistan capai rekor tertinggi

id konflik afghanistan,perang afghanistan,gencatan senjata afghanistan

Arsip Foto. Pasukan keamanan Afganistan membawa peti jenazah rekannya setelah ia tewas dalam perang dengan Taliban, di sebuah rumah sakit di provinsi Takhar, Afganistan, Kamis (12/7/2018). (REUTERS/Stringer)

Kabul (ANTARA News) - Jumlah warga sipil Afghanistan yang tewas dalam konflik berkepanjangan di negara itu mencapai rekor tertinggi selama enam bulan pertama 2018 menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Minggu (15/7), dengan serangan militan dan bom bunuh diri sebagai penyebab utama kematian.

Selama kurun itu jumlah korban jiwa di kalangan warga sipil sampai 1.692 orang atau naik satu persen dibandingkan setahun sebelumnya dan yang tertinggi sejak Misi Bantuan PBB di Afghanistan (United Nations Assistance Mission in Afghanistan/UNAMA) mulai mendata pada 2009.

Di samping itu, ada 3.430 orang yang terluka dalam perang tersebut, turun lima persen dari periode yang sama tahun lalu menurut laporan PBB yang dikutip AFP.

Secara keseluruhan korban sipil konflik berkepanjangan di Afghanistan selama periode itu mencapai 5.122, merosot tiga persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun jumlah korban tewas mencapai angka tertinggi meski ada gencatan senjata yang belum pernah terjadi antara pasukan keamanan Afghanistan dan Taliban bulan lalu, yang sangat dihormati kedua belah pihak, kata UNAMA.

Gencatan senjata untuk tiga hari pertama Idul Fitri ditandai dengan kegembiraan sementara pasukan keamanan dan pejuang Taliban merayakan hari raya, memunculkan harapan bahwa perdamaian mungkin terwujud setelah konflik selama hampir 17 tahun.

Namun, gencatan senjata diwarnai dua serangan bunuh diri di provinsi timur Nangarhar yang menewaskan puluhan orang dan diklaim kelompok ISIS, yang bukan bagian dari gencatan senjata.(mr)

Baca juga: Sekjen PBB desak Taliban awasi gencatan senjata saat Idul Fitri
Baca juga: Indonesia berharap perdamaian segera terwujud di Afghanistan

 

Pewarta : -
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar