Bahrain: Kesepakatan dengan Israel tak untuk menentang negara mana pun

id RajaHamad bin Isa Al Khalifa,Kesepakatan dengan Israel,Bahrain

Pemimpin negara Teluk Arab berbincang sebelum KTT Dewan Kerjasama Teluk di Riyadh, Senin (19/12). (dari kiri) Raja Arab Saudi Abdullah, Sheikh Kuwait Sabah al-Ahmad al-Sabah, Amir Sheikh Qatar Hamad bin Khalifa al-Thani, Sultan Qaboos bin Saiid dari Oman, Sheikh Dubai Mohammed bin Rashid al-Makhtoun, Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifa dan Pangeran Saudi Mushal. (FOTO ANTARA/REUTERS/Saudi Pres)

Dubai (ANTARA) - Raja Hamad bin Isa Al Khalifa pada Senin menyatakan bahwa langkah Bahrain menjalin hubungan dengan Israel tidak ditujukan untuk menentang entitas atau negara mana pun, namun bertujuan menciptakan perdamaian komprehensif di Timur Tengah.

Raja, dalam pernyataan kabinet yang dilaporkan Kantor Berita BNA, kembali menegaskan dukungan Bahrain untuk rakyat Palestina dan inisiatif damai Arab yang disusun pada 2002, yang menawarkan normalisasi hubungan Israel dengan imbalan kesepakatan pembentukan negara Palestina dan penarikan penuh Israel dari wilayah yang dirampas pada perang Timur Tengah 1967.

Bahrain dan Uni Emirat Arab menjadi negara Arab pertama dalam seperempat abad yang meresmikan hubungan dengan Israel tetapi tanpa resolusi konflik Israel dengan Palestina, dalam sebuah reformasi strategis negara Timur Tengah melawan Iran.

Baca juga: Oman sambut keputusan normalisasi Bahrain-Israel
Baca juga: Hizbullah Lebanon kecam langkah normalisasi Bahrain dengan Israel


Kesepakatan itu menyerukan 'hubungan diplomatik penuh" namun menghindari istilah normalisasi.

"Toleransi dan hidup berdampingan menentukan identitas Bahrain yang sesungguhnya...Langkah kami menuju perdamaian dan kemakmuran tidak ditujukan untuk menentang entitas atau negara apa pun, sebaliknya demi kepentingan semua orang dan bertujuan untuk bertetangga yang baik," kata Raja Hamad, dikutip BNA.

Protes sporadis pecah di Bahrain sejak pihaknya menandatangani kesepakatan dengan Israel awal September ini.

Bahrain merupakan negara Teluk Arab satu-satunya yang menyaksikan pemberontakan prodemokrasi yang cukup besar pada 2011, yang dihentikan berkat bantuan Arab Saudi dan Emirat. Negara yang diperintah oleh Suni tersebut menuding Muslim Syiah Iran mendukung protes tersebut, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Iran.

Sumber: Reuters

Baca juga: Keputusan UAE, Bahrain tak ubah posisi Indonesia tentang Palestina
Baca juga: Trump: Kesepakatan Israel, UAE, Bahrain langkah besar bagi semua iman

Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar