Isu kepercayaan perlu diselesaikan sebelum repatriasi Rohingya

id Rohingya,repatriasi Rohingya,Myanmar,ASEAN,pengungsi Rohingya,pengungsi Rohingya di Bangladesh,Cox’s Bazar Bangladesh

Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Jose Tavares dalam sesi wawancara khusus di redaksi ANTARA di Jakarta, Senin (21/10/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) -

Kepercayaan antara aparat Myanmar dan warga Rohingya perlu dibangun, sebelum proses repatriasi para pengungsi dari Cox’s Bazar, Bangladesh, dapat dilakukan, kata Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Jose Tavares.

“Supaya tidak ada trauma,” ujar Jose Tavares dalam wawancara khusus di ruang redaksi ANTARA, awal pekan ini.

Sebagai sesama negara anggota ASEAN, Indonesia telah berulang kali menegaskan bahwa pengungsi Rohingya harus kembali ke Rakhine State secara sukarela, aman, dan bermartabat.

Ketiga aspek tersebut dinilai mutlak dipenuhi sebagai syarat untuk repatriasi dan untuk mencegah konflik yang sama terulang.

Baca juga: Keselamatan jadi aspek utama repatriasi Rohingya

Baca juga: Indonesia tekankan pentingnya keamanan repatriasi Rohingya di Rakhine


Menurut Jose, meskipun telah bersama-sama sepakat untuk segera mendorong proses repatriasi, ASEAN dan Myanmar pun menyadari bahwa masih banyak sekali permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan kewarganegaraan, keamanan, akses kepada pendidikan dan kesehatan.

“Tetapi yang merupakan prioritas kami adalah bagaimana satu juta lebih warga yang tinggal di kamp-kamp pengungsi bisa kembali ke daerah asalnya,” ujar dia.

Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan (AHA Center) sebelumnya telah mengirim tim untuk melakukan penilaian kebutuhan awal (preliminary needs assessment/PNA) ke Rakhine State, guna mengidentifikasi kesiapan Myanmar sebelum proses repatriasi dilakukan.

Laporan PNA memuat empat komponen yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pemulangan pengungsi Rohingya, yaitu keamanan fisik, keamanan material, registrasi kaum Rohingya, dan penyatuan (cohesion).

“Dan pada tahap ini memang repatriasi belum dilakukan karena berbagai faktor, antara lain faktor keamanan. Ada Arakan Army yang sedang bertempur dengan pasukan Myanmar di perbatasan, misalnya,” kata Jose.

Karena itu selain isu kepercayaan, Jose menegaskan bahwa isu keamanan juga perlu ditangani untuk menciptakan situasi yang kondusif di lokasi warga Rohingya akan kembali, entah itu di Rakhine State atau di desa-desa lain.

Baca juga: Menlu RI: situasi keamanan tantangan utama repatriasi Rohingya

Baca juga: Menlu Retno dan Utusan PBB bahas keamanan repatriasi Rohingya


Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar