Seolah semakin sulit merobohkan pakem kenaikan harga yang relatif baku selama ini bahwa setiap awal Ramadhan dan menjelang Lebaran harga sembako selalu naik.

Lebih parahnya lagi komoditas sembako menjadi salah satu penentu tingginya inflasi, sehingga setiap tahun pada awal Ramadhan dan menjelang Lebaran selalu terjadi kenaikan inflasi.

Lalu bagaimana dengan tahun ini? Fakta lapangan, memasuki Ramadhan tahun ini bertepatan dengan ketersediaan produksi sembako yang cukup karena petani di sejumlah daerah tengah panen.

Pertanyaannya kemudian, apakah tahun ini masih berlaku pola kenaikan harga seperti biasanya atau justru terjadi perubahan di mana tidak ada operasi pasar dari pemerintah daerah setempat.

Mudah Diperoleh
Untuk mengetahui pergerakan harga dan ketersediaan stok barang, sudah menjadi agenda rutin dilakukan pemantauan lapangan ke sejumlah pasar tradisional.

"Selama lima tahun terakhir pada hari pertama hingga kelima bulan Ramadhan, harga sembako selalu naik. Kemudian hari keenam hingga ke-20 akan stabil dan memulai memasuki tanggal 21 bulan Ramadhan harga sembako akan naik lagi dan puncaknya pada H-2 Lebaran," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Ikhwan Sudrajat.

Akan tetapi, hasil pantauan di awal Ramadhan yang dilakukan oleh Gubernur Jateng bersama stakeholder terkait pada awal Ramadhan tahun ini menunjukkan bahwa sejumlah harga sembako justru ada yang mengalami penurunan harga seperti bawang merah dan cabai.

Bahkan hingga hari ke sepuluh Ramadhan, sejumlah komoditas juga masih mengalami penurunan harga seperti bawang merah, cabai merah besar, cabai keriting, dan telur.

Pada Senin (30/7) dibandingkan hari Sabtu (28/7) sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga yakni telur turun dari Rp16 ribu turun menjadi Rp15.600 per kilogram. Cabai kriting, cabai besar, dan bawang merah masing-masing turun Rp200 per kilogram.

Cabai kriting harganya menjadi Rp11.800 dari sebelumnya Rp12 ribu per kilogram, harga cabai besar menjadi Rp12.400 dari sebelumnya Rp12.600 per kilogram, serta bawang merah Rp7.500 dari sebelumnya Rp7.700 per kilogram.

"Yang masih naik hanya cabai rawit merah yang naik dari Rp13.600 menjadi Rp15.200 per kilogram, dan cabai rawit hijau naik dari Rp8.100 menjadi Rp8.400 per kilogram. Sementara komoditas yang lain harganya stagnan," katanya.

Komoditas yang harganya stagnan seperti harga daging sapi berada di posisi Rp65 ribu per kilogram, daging ayam ras Rp27.200 per kilogram, begitu juga harga beras juga berkisar Rp7.800 hingga Rp8.000 per kilogram.

Kenaikan harga terjadi karena suplai agak tersendat, sementara untuk ketersediaan sudah ada karena daerah sentra tanaman cabai sudah panen. Adanya perbaikan jalan menjadi alasan ketersendatan pasokan karena masih dalam perjalanan dan Selasa (31/7) sudah masuk pasar.

"Sekarang sejumlah komoditas turun dan sesuai siklus mendekati hari-H Lebaran biasanya seminggu sebelum Lebaran akan terjadi kenaikan harga karena tingginya permintaan dari masyarakat seperti daging ayam ras dan daging ayam," katanya.

Puncak kenaikan harga diperkirakan terjadi pada tanggal 16 hingga 17 Agustus karena faktor Lebaran dan perayaan HUT RI. Akan tetapi diperkirakan kenaikan tidak sampai mencapai angka ribuan, tetapi hanya berkisar Rp50 hingga ratusan per kilogramnya.

Harga gula juga tidak akan terjadi kenaikan terlalu tinggi atau bahkan bisa terjadi penurunan harga karena pada bulan Agustus merupakan puncak musim giling tebu.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengatakan bahwa ketersediaan sembako di Jateng aman dan mudah diperoleh dengan harga stabil di awal Ramadhan.

"Sembako di pasar tengah kota saja stabil, apalagi barang yang ada di pasar-pasar di daerah pinggiran atau desa, tentu harganya lebih baik," kata Gubernur Jateng usai memantau stok dan harga sembako di Pasar Jatingaleh, di awal bulan Ramadhan.

Gubernur menilai bahwa seluruh komoditas seperti telur, beras, dan daging berasal dari desa kemudian dijual di kota. Bukan dari kota kemudian dijual di desa. Oleh karena itu, jika harga di pasar tengah kota harganya stabil seharusnya di pasar yang merupakan sumber tentu harganya lebih terjangkau.

Wahyu Purnomo, petugas Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Provinsi Jawa Tengah, menambahkan bahwa saat ini produksi sembako terjamin karena banyak panen seperti cabai, bawang merah, dan beberapa daerah banyak yang menggiling gabah karena akan memasuki musim giling.

Sejumlah daerah saat ini banyak yang menggiling gabah yang sebelumnya disimpan, karena jika tetap disimpan justru tidak laku karena sebentar lagi sejumlah daerah panen.

Untuk telur, daging ayam ras, dan daging sapi harganya mahal disebabkan faktor pakan ternak yang merupakan suplemen buat ternak masih tergantung pada pabrikan sehingga harus impor.

"Pakan ternak pendukung masih diperoleh di daerah sekitar peternak. Akan tetapi pakan utama yang merupakan penggemuk ternak masih impor," katanya.

Daging ayam ras dan daging sapi diperkirakan dua minggu sebelum Lebaran harganya tidak mengalami kenaikan yang signifikan karena beberapa peternak akan melepaskan ayam ras dan sapi potongnya karena sudah siap konsumsi. Sementara sebelumnya belum berani dikeluarkan karena masih dalam tahap penggemukan.

Sejumlah daerah yang siap menjadi penyuplai ketersediaan ayam ras dan daging sapi serta telur adalah Surakarta, Kendal, Boyolali, dan Salatiga, serta Ungaran.

Kenaikan harga sembako pada tahun 2011 lebih tinggi karena saat itu menjelang Lebaran berada pada musim paceklik, terjadi kegagalan panen, cuaca ekstrem, dan tidak ada sumber air serta pada saat penggemukan ternak.

Sementara pada tahun 2012, pertanian, peternakan, dan perkebunan dalam keadaan bagus sehingga dapat mengendalikan harga sembako tidak naik terlalu tinggi.

Sejumlah daerah pusat pertanian seperti Purwodadi, Demak, dan Kudus pada tahun ini masih dapat menanam padi karena pintu air Kedungombo dibuka. Daerah sekitar Semarang seperti Kendal kondisi pertaniannya juga bagus. Daerah sentra pertanian tersebut pada pertengahan Ramadhan ini sudah panen.

Tergantung Pasar
Kondisi produksi yang tercukupi karena beberapa daerah panen di sektor pertanian maupun tercukupi di sektor peternakan menurut ekonom Universitas Diponegoro Semarang FX Sugiyanto, harga sembako menjelang Lebaran tahun ini dipastikan akan tetap ada kenaikan.

Hal tersebut disebabkan para pengusaha selalu ingin memanfaatkan momentum menjelang Lebaran untuk mengambil keuntungan karena adanya permintaan yang tinggi dari masyarakat. Apalagi pengusaha sudah sangat lihai untuk mengatur agar harga dagangan mereka tetap memberikan margin lebih.

Bahkan jika produksinya tinggi karena didukung adanya panen, maka bisa saja dikhawatirkan permasalahan akan muncul dari sektor distribusi dengan berbagai alasan misalnya masih ada sejumlah perbaikan jalan yang menghambat laju distribusi.

"Saya tidak terlalu yakin pemerintah bisa mengendalikan hal itu, karena seluruh harga komoditas sembako diserahkan kepada para pedagang atau pasar," katanya.

Akan tetapi, pemerintah baru bisa campur tangan jika ditemukan kondisi stok di pasar langka dan harga terjadi kenaikan yang tidak wajar. Oleh karena itu, biasanya pedagang akan pintar memainkan dan mengatur stok dengan cantik.

Pedagang bisa memainkan kondisi pasar dan berusaha memberikan sinyal kepada pemerintah bahwa stok barang terpenuhi, sehingga pemerintah tidak melakukan operasi pasar.

Terjaminnya ketersediaan barang karena adanya panen di tingkat petani, kata FX Soegianto, setidaknya dapat menolong untuk mengendalikan kenaikan harga sembako tidak terlalu tinggi.

Harga sembako menjelang Lebaran sangat tergantung pada kondisi alam yang berkaitan erat dengan produksi dan ketersediaan stok komoditas. Pada tahun lalu bertepatan dengan musim paceklik.

Jika pada tahun ini harga sembako terkendali dengan kondisi alam karena panen, ada kemungkinan Lebaran pada waktu akan datang kembali pada siklus alam yang sama dengan tahun 2011.

FX Sugianto menilai harga sembako menjelang Lebaran tidak terlalu terkait dengan diversifikasi pangan karena untuk mencapai hasil dari diversifikasi pangan membutuhkan waktu panjang.

Target dari diversifikasi pangan tersebut adalah masyarakat tidak lagi tergantung pada satu jenis pangan dan diversifikasi pangan sangat lekat dengan teknologi produksi serta teknologi pangan.

Diversifikasi saat ini masih dalam proses pengembangan dan harus terus dikembangkan hingga masyarakat tidak hanya tergantung pada satu jenis pangan.

Jika kondisi tersebut bisa tercapai, maka setiap menjelang Lebaran masyarakat tidak lagi harus berhadapan dengan kenaikan harga, karena dalam hal jenis pangan, masih banyak pilihan lain.

Pewarta : Nur Istibsaroh
Editor : Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2024