Dalam transaksi antar bank di Jakarta, Senin pagi, nilai tukar mata uang rupiah melemah 15 poin menjadi Rp9.195 dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp9.180 per dolar AS.

Awal pekan ini rupiah tertekan karena investor masih berhati-hati dalam mengambil posisi terhadap mata uang dengan nilai tukar berisiko, kata analis Monex Investindo Futures Johanes Ginting di Jakarta, Senin.

Ia menambahkan, kekhawatiran terhadap sektor perbankan dan kemampuan pemerintah Spanyol dalam menekan defisit anggaran juga turut membebani mata uang berisiko termasuk rupiah.

"Meski demikian, rupiah masih melemah terbatas karena Bank Indonesia masih menjaga di pasar uang agar nilai tukar domestik tidak tertekan terlalu dalam," katanya.

Sementara analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan, rupiah masih mempunyai peluang menguat merespon turunnya giro wajib minimum (GWM) di China dalam enam bulan terakhir.

"Turunnya GWM itu akan sedikit membantu sentimen positif pasar Asia," katanya.

Menurut dia, rupiah kemungkinan dapat menguat kembali berada di bawah level Rp9.200 sampai dengan Rp9.250 per dolar AS.(KR-ZMF)