Seni Tayub Sering Dimaknai Miring oleh Masyarakat
Kamis, 29 Maret 2012 12:42 WIB
Hal ini merupakan situasi bersamaan dengan semakin lemahnya pemahaman masyarakat akan kebudayaan sebagai dasar dari kehidupan, kata Kepala Pusat Studi Javanologi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Sahid Teguh Widodo, Kamis.
Dia mengatakan hal tersebut terkait akan diselengarakannya 'Seminar Nasional dan Festival Seni Tayub Nusantara' di Solo.
Ia mengatakan seni tayub merupakan produk kebudayaan yang mempunyai nilai tinggi. Seni tayub asalnya seni budaya tinggi untuk menggugah semangat perang para pejuang dalam melawan kolonial Belanda pada masa perang Raden Mas Said, dan kenyataannya telah hidup berabad-abad lamanya.
"Kesenian ini bisa hidup berabad-abad tidak mungkin kalau tidak mempunyai nilai tinggi. Hal ini kenyataannya sampai sekarang juga masih hidup," katanya.
Festival seni tayub ini akan diikuti oleh delapan grup kesenian tersebut, mereka berasal dari Sragen, Malang, Sumedang, Sumenep, Banyuwangi dan Madura, kata Dr Slamet staf pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Ia mengatakan seni tayub dulunya berasal dalam tembok keraton, karena perkembangannya terus bisa tampil di luar tembok keraton sampai sekarang. Untuk seminarnya akan berlangsung Sabtu (7/4) di UNS dan festivalnya berlangsung tanggal 8 - 9 April 2012 di Pendapa ISI Surakarta.
Pewarta : Joko Widodo
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Saparan Merti Dusun perkuat persaudaraan warga lereng Gunung Sumbing
19 October 2019 20:43 WIB, 2019
Terpopuler - Alfamart
Lihat Juga
Perayaan Tahun Baru, Pengunjung Objek Wisata Tawangmangu Pesta Kembang Api
01 January 2017 8:32 WIB, 2017
Sambut Tahun Baru, Boyolali Gelar Pertunjukan di 22 Titik Termasuk Godbless
29 December 2016 13:55 WIB, 2016