SMK bukan Pusat Industri
Jumat, 6 Januari 2012 20:52 WIB
Kepala Disdik Jateng Kunto Nugroho HP di Semarang, Jumat, mengatakan, sesuai tujuannya SMK sebagai pusat pendidikan dan pelatihan serta pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Hal itu diungkapkannya menanggapi wacana pengembangan mobil Esemka buatan anak-anak SMK menjadi mobil nasional.
Ia menjelaskan, mobil itu salah satu dari ratusan produk unggulan yang dihasilkan siswa SMK.
Ia menjelaskan, pendidikan SMK ditujukan mengembangkan iptek itulah kemudian yang menjadikan siswanya menghasilkan beragam produk unggulan, salah satunya mobil Esemka yang saat ini ramai diperbincangkan.
"Setidaknya ada 424 program keahlian yang dikembangkan di SMK, mulai bidang otomotif dengan mengembangkan mobil segala model, kemudian bidang pertanian dengan beragam inovasi untuk pengembangan pertanian," katanya.
Namun, katanya, SMK bukan menjadi pusat industri, meski produk-produk unggulan yang dibuat siswa SMK itu akhirnya diminati oleh pasar, misalnya banyak menerima pesanan produk.
"SMK bukanlah pusat industri, kalau kemudian produk yang dihasilkan anak-anak SMK itu diminati pasar dan industri, ya biarlah industri nanti yang bergerak. SMK tetap menjadi pusat pengembangan iptek," katanya.
Pakar mesin automotif Universitas Negeri Semarang Wirawan Sumbodo membenarkan bahwa SMK sebagai lembaga pendidikan harus bekerja sama dengan kalangan industri untuk memasarkan produk-produk yang dihasilkannya.
"Seharusnya lembaga pendidikan, industri, dan pemerintah bekerja sama. SMK tidak mungkin dibiarkan berjuang sendiri untuk melakukan pengembangan iptek, sebab biaya yang diperlukan sangat mahal," katanya.
Ia mencontohkan tentang kerja sama yang baik antara lembaga pendidikan, industri, dengan pemerintah di Jerman.
Sebab, katanya, lembaga pendidikan memang untuk menunjang industri dalam pengembangan iptek.
Sumbodo yang pernah menangani proyek pengembangan "Arina", prototipe mobil kecil dari Unnes tersebut mengatakan, pabrikan mobil besar di Jerman kerap menggunakan hasil penelitian lembaga pendidikan untuk produknya.
"Saya pernah beberapa kali kunjungan ke Jerman, termasuk melihat proses produksi mobil di pabrikan mobil terkemuka. Ternyata, mobil produksinya menggunakan beberapa komponen hasil penelitian perguruan tinggi," katanya.
Penggunaan hasil penelitian perguruan tinggi oleh industri itu, katanya, membuktikan kerja sama yang baik dan menguntungkan antara lembaga pendidikan yang didukung pemerintah dengan kalangan industri.
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor : M Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Riset EIT Portabel UIN Walisongo raih capaian di atas 80 persen dalam Monev MoRA The AIR Fund
17 September 2026 8:44 WIB
Rektor UIN Walisongo jadi narasumber NASUHA 2026, dorong pembaruan hukum keluarga islam
17 September 2026 8:34 WIB
SV Undip bekali siswa SMAN 2 Mranggen bangun personal branding di era digital
16 September 2026 10:15 WIB
Dari stand astronomi ke pilihan kuliah: Pengunjung MTQ tertarik daftarkan anaknya ke UIN Walisongo
16 September 2026 9:46 WIB
FDK UIN Walisongo gelar stadium general tentang ketahanan keluarga menuju Indonesia Emas 2045
16 September 2026 9:28 WIB
Akademisi USIM soroti penguatan hukum untuk mengatasi kabut asap lintas batas
15 September 2026 15:23 WIB
Rektor Unsoed tekankan kolaborasi global untuk menghadapi tantangan hukum dan AI
15 September 2026 13:31 WIB