Pembelajaran tatap muka harus dipersiapkan secara rinci
Selasa, 16 Maret 2021 8:24 WIB
Para siswa sekolah dasar (SD) di Kecamatan Pecalungan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengikuti pembelajaran tatap muka. ANTARA/Kutnadi
Semarang (ANTARA) - Persiapan proses belajar tatap muka di sekolah harus didukung teknis pelaksanaan secara rinci terkait faktor kesehatan lingkungan sekolah dan keamanan peserta didik dan pengajar, saat berinteraksi dalam proses belajar mengajar.
"Uji coba proses belajar tatap muka pada masa pandemi di sejumlah daerah harus benar-benar dipersiapkan dengan baik, secara teknis maupun kesiapan dari para pelaksananya di lapangan, agar kebijakan tersebut tidak menciptakan sekolah sebagai klaster baru penyebaran COVID-19," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis yang diterima di Semarang, Senin.
Ia menyatakan hal itu menyikapi sejumlah daerah yang mulai mempersiapkan proses belajar tatap muka di sekolah agar bisa dilaksanakan Juli mendatang. Bahkan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (15/3) mulai melakukan uji coba di sejumlah sekolah.
Menurut Lestari, jangan sampai euforia kembali ke sekolah di masa pandemi COVID-19, malah membuat segala aturan menjadi longgar dan kemudian sekolah menjadi klaster baru penyebaran COVID-19.
Rerie, sapaan akrab Lestari mengingatkan, rencana pelaksanaan belajar tatap muka di sekolah harus bercermin dari peristiwa munculnya klaster baru di lingkungan pendidikan Kota Tasikmalaya yang menyebabkan 20 orang positif COVID-19 dari satu sekolah di wilayah Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (14/3).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra, seperti dikutip sejumlah media, mengatakan, klaster itu bermula saat ada seorang guru yang tetap memaksakan ke sekolah meski mengalami gejala batuk, pilek disertai demam.
Dari klaster sekolah itu terpapar COVID-19 mulai dari para guru, pegawai tata usaha (TU), dua pelajar sampai kepala sekolah terkonfirmasi positif COVID-19.
Rerie menegaskan, pelaksanaan belajar tatap muka di sekolah tidak hanya membutuhkan kesiapan teknis semata, seperti kesiapan sarana kesehatan seperti fasilitas cuci tangan, sabun, masker dan sejumlah fasilitas agar para siswa serta guru selalu dalam jarak aman saat berinteraksi.
Lebih dari itu, ujar Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, perlu dipastikan perilaku siswa dan para tenaga pengajar serta staf sekolah lainnya mampu berdisiplin menjalankan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.
Selain itu, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menegaskan, para pemangku kepentingan di sekolah juga harus mampu menegakkan standar kesehatan yang ketat di lingkungan sekolah, agar para pendidik dan peserta didik terhindar paparan virus dari luar lingkungan sekolah.
Menurut Rerie, pelajaran penting bagi Kemendikbud yang berniat membuka sekolah tatap muka pada tahun ajaran baru nanti adalah mengatur secara rinci mengenai standar kesehatan pada penyelenggraan sekolah tatap muka.***
"Uji coba proses belajar tatap muka pada masa pandemi di sejumlah daerah harus benar-benar dipersiapkan dengan baik, secara teknis maupun kesiapan dari para pelaksananya di lapangan, agar kebijakan tersebut tidak menciptakan sekolah sebagai klaster baru penyebaran COVID-19," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis yang diterima di Semarang, Senin.
Ia menyatakan hal itu menyikapi sejumlah daerah yang mulai mempersiapkan proses belajar tatap muka di sekolah agar bisa dilaksanakan Juli mendatang. Bahkan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (15/3) mulai melakukan uji coba di sejumlah sekolah.
Menurut Lestari, jangan sampai euforia kembali ke sekolah di masa pandemi COVID-19, malah membuat segala aturan menjadi longgar dan kemudian sekolah menjadi klaster baru penyebaran COVID-19.
Rerie, sapaan akrab Lestari mengingatkan, rencana pelaksanaan belajar tatap muka di sekolah harus bercermin dari peristiwa munculnya klaster baru di lingkungan pendidikan Kota Tasikmalaya yang menyebabkan 20 orang positif COVID-19 dari satu sekolah di wilayah Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (14/3).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra, seperti dikutip sejumlah media, mengatakan, klaster itu bermula saat ada seorang guru yang tetap memaksakan ke sekolah meski mengalami gejala batuk, pilek disertai demam.
Dari klaster sekolah itu terpapar COVID-19 mulai dari para guru, pegawai tata usaha (TU), dua pelajar sampai kepala sekolah terkonfirmasi positif COVID-19.
Rerie menegaskan, pelaksanaan belajar tatap muka di sekolah tidak hanya membutuhkan kesiapan teknis semata, seperti kesiapan sarana kesehatan seperti fasilitas cuci tangan, sabun, masker dan sejumlah fasilitas agar para siswa serta guru selalu dalam jarak aman saat berinteraksi.
Lebih dari itu, ujar Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, perlu dipastikan perilaku siswa dan para tenaga pengajar serta staf sekolah lainnya mampu berdisiplin menjalankan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.
Selain itu, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menegaskan, para pemangku kepentingan di sekolah juga harus mampu menegakkan standar kesehatan yang ketat di lingkungan sekolah, agar para pendidik dan peserta didik terhindar paparan virus dari luar lingkungan sekolah.
Menurut Rerie, pelajaran penting bagi Kemendikbud yang berniat membuka sekolah tatap muka pada tahun ajaran baru nanti adalah mengatur secara rinci mengenai standar kesehatan pada penyelenggraan sekolah tatap muka.***
Pewarta : Zaenal
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPJS Kesehatan Ungaran hadirkan layanan tatap muka di MPP Kab. Semarang
27 July 2024 13:43 WIB, 2024
Universitas Muria Kudus terapkan kuliah tatap muka secara penuh dengan prokes ketat
18 November 2022 13:52 WIB, 2022
Mayoritas SMP di Kudus gelar penilaian tengah semester secara tatap muka
07 March 2022 14:16 WIB, 2022
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Tak cukup niat baik, Prof Fahrurrozi serukan tata kelola profesional di lembaga islam
15 February 2026 17:44 WIB
Prof Fihris: Pendidikan islam harus jadi ruang aman bagi dialog, bukan arena eksklusivisme
15 February 2026 17:31 WIB
Prof. Ali Murtadho tawarkan rekonstuksi paradigma ekonomi islam integratif-humanistik
15 February 2026 11:46 WIB
Prof. Ali Imron: Hukum Perdata Islam harus hidup berdialog dengan realitas sosial
15 February 2026 9:44 WIB
Teologi Digital Wasathiyyah, Prof. Mudhofi menawarkan jalan tengah hadapi AI dan polarisasi keagamaan
15 February 2026 9:22 WIB