Sejumlah pelaku UMKM pilih bertahan meski pandemi
Senin, 26 Oktober 2020 19:50 WIB
Sejumlah pelaku usaha saat menjadi narasumber pada kegiatan bincang bisnis "UKM Virtual Expo". (ANTARA/Aris Wasita)
Semarang (ANTARA) - Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memilih untuk bertahan meski pandemi berdampak pada merosotnya daya beli masyarakat.
"Pada saat pandemi saya sempat mengurangi jam kerja karyawan, apalagi di beberapa ruas jalan di mana menjadi lokasi cabang usaha saya sempat ditutup sementara waktu karena pandemi," kata pendiri kedai Anak Panah Kopi Reagan Bayu PH pada kegiatan "UKM Virtual Expo" di Semarang, Senin.
Meski demikian, ia mengaku terus memberdayakan para pegawai dengan melakukan promosi ke lingkungan terdekatnya, baik ke teman-teman maupun keluarga.
"Dasarnya adalah menciptakan suasana kekeluargaan di lingkungan kerja. Jadi khususnya selama pandemi ini saya banyak dibantu oleh pegawai untuk mempromosikan usaha ini," katanya.
Oleh karena itu, meski di awal-awal pandemi COVID-19 usahanya sempat tersendat, sejak dua bulan lalu omzet usahanya kembali mengalami kenaikan. Capaian tersebut juga tidak lepas dari usahanya mempelajari pasar, termasuk karakteristik objek pasar yang disasarnya.
"Pada dasarnya kita memang orang komunal, sering nongkrong. Kalau sudah ada wifi, AC, nongkrongnya bisa berjam-jam. Oleh karena itu, kami menyediakan wadah bagi mereka, khususnya kalangan milenial untuk beraktivitas seperti mengerjakan tugas maupun melakukan 'meeting'," katanya.
Senada, Dokter sekaligus pelaku UMKM Tirta Mandira Hudhi atau akrab dengan sebutan dr Tirta mengatakan sempat tutup selama tiga bulan karena tugasnya sebagai relawan COVID-19. Bahkan, ia mengaku rugi hingga Rp1,8 miliar akibat tutupnya tempat usaha bernama "Shoes and Care" ini.
"Tetapi Juni, Juli mulai menunjukkan kenaikan. Di bulan September omzet saya mengalami kenaikan hingga empat kali lipat dan bulan Oktober saya malah bisa buka tujuh cabang baru di luar Jawa," katanya.
Ia mengatakan untuk bisa bertahan di masa pandemi, pelaku UMKM tidak boleh menyerah dan harus berani melawan arus.
"Kita bisa selamat dari pandemi jika diselesaikan dulu krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Krisis ekonomi kelar dengan cara memperbaiki ekonomi mikronya, kalau sektor makro biar jadi urusan Negara," katanya.
Menurut dia, untuk bisa bertahan maka pelaku usaha harus mampu menguasai digitalisasi, pemasaran, dan memiliki perencanaan keuangan baik.
"Seperti cobaan di masa pandemi ini akan dialami oleh setiap pelaku usaha, anggap sebagai ombak yang sangat kuat di laut dan jadi penggembleng kita, kalau lolos maka kita akan jadi pengusaha dengan mental yang kuat. Jadi 'nggak' boleh 'ngeluh'," katanya.
"Pada saat pandemi saya sempat mengurangi jam kerja karyawan, apalagi di beberapa ruas jalan di mana menjadi lokasi cabang usaha saya sempat ditutup sementara waktu karena pandemi," kata pendiri kedai Anak Panah Kopi Reagan Bayu PH pada kegiatan "UKM Virtual Expo" di Semarang, Senin.
Meski demikian, ia mengaku terus memberdayakan para pegawai dengan melakukan promosi ke lingkungan terdekatnya, baik ke teman-teman maupun keluarga.
"Dasarnya adalah menciptakan suasana kekeluargaan di lingkungan kerja. Jadi khususnya selama pandemi ini saya banyak dibantu oleh pegawai untuk mempromosikan usaha ini," katanya.
Oleh karena itu, meski di awal-awal pandemi COVID-19 usahanya sempat tersendat, sejak dua bulan lalu omzet usahanya kembali mengalami kenaikan. Capaian tersebut juga tidak lepas dari usahanya mempelajari pasar, termasuk karakteristik objek pasar yang disasarnya.
"Pada dasarnya kita memang orang komunal, sering nongkrong. Kalau sudah ada wifi, AC, nongkrongnya bisa berjam-jam. Oleh karena itu, kami menyediakan wadah bagi mereka, khususnya kalangan milenial untuk beraktivitas seperti mengerjakan tugas maupun melakukan 'meeting'," katanya.
Senada, Dokter sekaligus pelaku UMKM Tirta Mandira Hudhi atau akrab dengan sebutan dr Tirta mengatakan sempat tutup selama tiga bulan karena tugasnya sebagai relawan COVID-19. Bahkan, ia mengaku rugi hingga Rp1,8 miliar akibat tutupnya tempat usaha bernama "Shoes and Care" ini.
"Tetapi Juni, Juli mulai menunjukkan kenaikan. Di bulan September omzet saya mengalami kenaikan hingga empat kali lipat dan bulan Oktober saya malah bisa buka tujuh cabang baru di luar Jawa," katanya.
Ia mengatakan untuk bisa bertahan di masa pandemi, pelaku UMKM tidak boleh menyerah dan harus berani melawan arus.
"Kita bisa selamat dari pandemi jika diselesaikan dulu krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Krisis ekonomi kelar dengan cara memperbaiki ekonomi mikronya, kalau sektor makro biar jadi urusan Negara," katanya.
Menurut dia, untuk bisa bertahan maka pelaku usaha harus mampu menguasai digitalisasi, pemasaran, dan memiliki perencanaan keuangan baik.
"Seperti cobaan di masa pandemi ini akan dialami oleh setiap pelaku usaha, anggap sebagai ombak yang sangat kuat di laut dan jadi penggembleng kita, kalau lolos maka kita akan jadi pengusaha dengan mental yang kuat. Jadi 'nggak' boleh 'ngeluh'," katanya.
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sejumlah warga usulkan pemindahan kegiatan Gebyar Ramadan Kampung Wisata Kauman
17 February 2026 21:56 WIB
Ultimate Talk 7 IKA UMS dorong UMKM Muhammadiyah go internasional di era digital
14 February 2026 18:50 WIB
BRI angkat Rolly Bakery & Cookies bangkit dari keterpurukan dan go global
12 February 2026 14:16 WIB
Pemkot Semarang dorong Koperasi Merah Putih berkolaborasi dengan UMKM lokal
08 February 2026 20:44 WIB
UMS dorong daya saing UMKM Witpari Karanganyar lewat produksi modern dan pemasaran digital
08 February 2026 16:03 WIB
Kolaborasi BRI, BP Batam, BKPM dan Kementerian UMKM perkuat investasi daerah
03 February 2026 12:02 WIB
Terpopuler - Makro
Lihat Juga
Wagub : Pertumbuhan ekonomi Jateng tekan pengangguran dan angka kemiskinan
08 February 2026 5:51 WIB
HNSI Jatim ingatkan pengembangan energi pesisir harus cegah de-nelayanisasi
22 January 2026 3:13 WIB