Jakarta (ANTARA) - Presiden Asosiasi Federasi Atletik Internasional (IAAFSebastian Coe mengungkapkan pada Kamis jika menggeser jadwal tanggal pelaksanaan Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang, pada Juli--Agustus ke September atau Oktober sangat memungkinkan dari pada terlalu dini memutuskan untuk membatalkannya.

Di saat olah raga sedunia mandek gara-gara pandemi virus corona (COVID-19), Komite Olimpiade Internasional IOC tetap berkomitmen untuk menggelar Olimpiade sesuai jadwal pada 24 Juli-9 Agustus di tengah kecaman yang bermunculan.

"Jika kalian ingin mudah soal tanggal, kalian harus meringankannya. Ini memungkinkan, semuanya memungkinkan," kata Coe, menjawab pertanyaan soal memundurkan Olimpiade ke September atau Oktober.

Baca juga: IOC berkomitmen tetap langsungkan Olimpiade Tokyo sesuai jadwal
Baca juga: Olimpian kecam IOC jika "ngotot" gelar Olimpiade 2020 di kala pandemi

"Semuanya berubah tiap jam dan ini bukan lah keputusan yang harus dibuat saat ini. Kami mencoba untuk mengatur situasi dengan informasi yang kami miliki tapi saat ini tak ada informasi yang memadai," kata Coe seperti dikutip Reuters.

Ia menimpali, "Suasananya di ruangan dengan IOC saat ini, tak ada yang ingin menggelar Games (Olimpiade) ini apa pun yang terjadi."

Eropa menjadi salah satu pusat epidemi virus turunan flu itu, yang kasusnya pertama kali muncul di China akhir tahun lalu, sehingga negara-negara di Benua Biru itu memberlakukan larangan atau pembatasan pergerakan terhadap warga negaranya, termasuk atlet.

Oleh karena itu, wabah penyakit akan menjadi tantangan bagi induk ollahraga atletik sedunia untuk menyetarakan bidang permainan di antara atlet-atlet dunia ketika persiapan.

Baca juga: Menteri Jepang sebut "kutukan" siklus 40 tahun Olimpiade

Ia menilai, "Olah raga kami selalu soal keadilan dan bidang permainan yang setara... Beberapa tak bisa berlatih secara baik, yang lain tak bisa mendapat akses ke lintasan atau fasilitas dalam ruang publik, dan kami sedang bekerja untuk mencoba dan membantu mereka mendapatkan fasilitas tersebut."

Sementara itu, COVID-19 sejauh ini tercatat telah menginfeksi hampir 219.000 orang di seluruh dunia dan menyebabkan 8.900 kematian.

Coe, yang menjadi salah satu aktor kesuksesan Olimpiade 2012 di London, Inggris, mengatakan jika masalah yang dialami Tokyo lebih besar dari pada boikot massal ketika Olimpiade 1980 di Moskow.

"Saya pernah tinggal di Moskow dan waktu itu sedang krisis... Ini mungkin lebih membutuhkan waktu untuk berpikir dan lebih banyak upaya dari federasi-federasi ketimbang apa yang saya ingat," ujarnya.

"Kami melakukan segala yang memungkinkan untuk menyiapkan olah raga dan atlet kami sebaik mungkin di saat-saat sulit ini dan untuk tiba di suatu Olimpiade," demikian Sebastian Coe.

Baca juga: IOC tegaskan tidak ada solusi ideal terkait Olimpiade 2020
Baca juga: Australia terus bersiap menuju Olimpiade di tengah pandemi COVID-19
Baca juga: Pandemi COVID-19 paksa kualifikasi senam Olimpiade Tokyo dibatalkan


 


Pewarta : Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor : Antarajateng
Copyright © ANTARA 2024