Semarang (Antaranews Jateng) - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyebutkan Pondok Pesantren Darul Arqom, Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, merupakan salah satu dari empat ponpes unggulan Muhammadiyah di wilayah itu.

"Ponpes Darul Arqom di Patean, Kendal, termasuk ponpes unggulan dari sekitar 30 ponpes Muhammadiyah di Jateng. Apalagi, sebagai Muhammadiyah Boarding School (MBS) atau ponpes modern," kata Ketua PWM Jateng Tafsir di Semarang, Senin.

Ia menjelaskan setidaknya ada sekitar 30 ponpes di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah yang tersebar di wilayah Jateng yang pengelolaannya dilakukan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di masing-masing kabupaten/kota.

Dari 30 ponpes itu, kata dia, empat ponpes merupakan unggulan, yakni Ponpes Darul Arqom Kendal, Ponpes Imam Syuhodo Sukoharjo, Ponpes Muhammadiyah Kudus, dan Ponpes Ahmad Dahlan Kabupaten Tegal dengan banyaknya prestasi yang diraih.

Ponpes Darul Arqom Kendal merupakan ponpes modern yang berada di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah yang menyelenggaran pendidikan mulai madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), hingga madrasah aliyah (MA) dan SMK.

Di sudut ruang tamu Ponpes Darul Arqom Kendal, terlihat bertumpuk piala yang ditata rapi di lemari kaca dari berbagai kejuaraan yang berhasil diraih santri dan santriwati ponpes yang dipimpin oleh KH Ishaq tersebut.

Belakangan ini, Ponpes Darul Arqom Kendal disebutkan dalam sejumlah pemberitaan karena salah satu alumninya, yakni Dita Siska Millenia diduga terlibat dalam terorisme dengan percobaan penusukan anggota Brimob di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Dita, warga Dusun Jambon, Gemawang, Temanggung diamankan bersama Siska Nur Azizah, bermukim di Kampung Legok 1, Indragiri, Panawangan, Ciamis, Jawa Barat, ketika akan melakukan aksi tersebut.

Dari kedua perempuan muda itu, kepolisian menyita barang bukti berupa dua buah kartu tanda penduduk (KTP) atas nama keduanya, dua unit telepon seluler (ponsel), dan satu buah gunting.

Tafsir mengatakan sudah mengumpulkan seluruh jajaran Muhammadiyah, khususnya PDM Kendal dan Ponpes Darul Arqom untuk melakukan klarifikasi terkait Dita yang statusnya sudah lulus sebagai santriwati pondok.

"Orang tua Dita juga sudah kami undang di pondok untuk menyampaikan permasalahan itu, sekaligus memberikan pendampingan kepada mereka sebagai kewajiban kami secara moral. (Pendampingan, red.) Untuk orang tuanya, bukan untuk Dita," tegasnya.

Untuk Dita, Tafsir menegaskan pihaknya tidak memberikan pendampingan dan menyerahkan kepada kepolisian untuk menuntaskan kasus tersebut, sebab Dita sudah lulus sehingga bukan tanggung jawab ponpes lagi.

Yang jelas, kata dia, seluruh ponpes Muhammadiyah, termasuk Ponpes Darul Arqom Kendal menekankan paham Islam moderat sebagaimana dibangun Muhammadiyah, yakni paham Islam yang berkemajuan, baik memajukan umat Islam maupun bangsa Indonesia.

Ia menjelaskan Islam yang dibangun oleh Muhammadiyah adalah Islam yang "Rahmatan lil alamin" yang dikembangkan melalui lembaga-lembaga pendidikan, termasuk ponpes yang konsep pendidikannya menyatu dengan pendidikan formal.

"Hanya saja, bagaimanapun juga sekarang ini kan zaman informasi yang sangat terbuka bebas. Kami sudah berupaya mengendalikan agar jangan sampai peserta didik kami dipengaruhi paham lain, tetapi bisa saja 1-2 orang lolos dari kendali," ungkap Tafsir. 
 
 

Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor : Antarajateng
Copyright © ANTARA 2024