Magelang - Pada musim kemarau, sebagian peternak di daerah tertentu yang kerap kali mengalami masalah kekurangan pakan ternak, akan mulai bersiap-siap untuk mengatasi kekurangan pakan ternak yang bakal dialami. Meskipun demikian, ada juga daerah tertentu yang cukup beruntung dengan tidak pernah mengalami kekurangan pakan ternak karena daerahnya cukup subur.

Daerah yang selalu kekurangan pakan ternak, biasanya juga merupakan daerah yang kurang subur tanahnya, atau selalu memiliki masalah kekurangan air. Daerah-daerah semacam ini, karena kurang subur sebagai lahan pertanian maka penduduknya cenderung mencari tambahan penghasilan dengan cara beternak. Saat musim kemarau datang, ada sebagian peternak yang tidak memiliki persiapan sama sekali. Biasanya yang tidak punya persiapan akan menunggu sampai mereka benar-benar kesulitan mendapatkan pakan hijauan baru mereka bertindak dengan membeli jerami padi atau rumput dari daerah lain untuk pakan ternaknya. Disini terkadang akan muncul istilah “sapi makan sapi”, yaitu sapi dijual untuk memberi makan sapi yang lain. 

Peternak yang ingin maju dan punya inisiatif, biasanya mencoba mencari cara untuk menghadapi masalah kekurangan pakan di musim kemarau dengan menerapkan teknologi pakan yang sudah umum sekarang ini, yang berguna untuk memperpanjang masa simpan pakan ternak sehingga bisa dimanfaatkan untuk jangka waktu yang lebih panjang selama musim kemarau, sebagai persediaan pakan ternak mereka. 

Memperpanjang masa simpan silase dan hay 

Teknologi pakan yang sudah populer ini diantaranya adalah pembuatan silase pakan dengan menggunakan drum-drum plastik sebagai tempat penyimpanan agar bisa tercapai kondisi penyimpanan anaerob. Pakan hijauan yang bisa disilase adalah hijauan segar (rumput, daun-daunan ) atau bisa juga jerami padi. 

Keuntungan Silase. Masa simpan silase bisa cukup lama yaitu sekitar 3-4 minggu (masa fermentasi) hingga 8 minggu tanpa mengalami kerusakan bahan kering dan bahan organik. Kadar bahan kering silase yang relatif lebih tinggi akan memperpanjang  masa simpan  silase.  Beberapa literatur menyatakan silase bisa disimpan hingga 2-3 tahun apabila silase baik dan benar dalam pembuatannya dan silo atau drum plastik tempat penyimpanannya tidak mengalami kebocoran sehingga tetap berada dalam keadaan kedap udara.

Untuk kebutuhan masa simpan pakan yang lebih singkat, bisa dicoba membuat hay atau hijauan kering dari rumput-rumputan atau daun-daunan. Hay bisa bertahan maksimal sampai minggu keenam dalam penyimpanan. Setelah minggu keenam bisa terjadi kerusakan atau perubahan warna dan tekstur pada hay. 

Keuntungan Hay 

Keuntungan hay ini dibanding silase, terutama adalah karena pembuatannya lebih mudah daripada silase, hijauan tidak harus dipotong kecil-kecil dan hay cukup disimpan secara aerob dan tidak perlu secara anaerob.

Masa simpan

Kondisi ruang penyimpanan juga sangat berpengaruh. Jika disimpan di tempat terbuka tanpa naungan, langsung terkena sinar matahari atau disimpan pada tempat yang lembab dan ventilasi kurang, kerusakan pakan ternak bisa terjadi lebih cepat. 

Cara membuat silase

Pembuatan silase cukup sederhana, yaitu: 
1. Perbandingan hijauan : aditif adalah sekitar 15:1, misalnya 15 kg hijauan rumput cukup ditambah aditif misalnya bekatul sebanyak 1 kg. Jika bekatul tidak ada bisa digantikan tetes, dedak, onggok, atau jagung. 
2. Hijauan rumput atau daun dipotong/dicacah/ atau di chopper, lalu dihamparkan di alas plastik, taburkan bekatul lalu aduk rata. Dianjurkan menggunakan drum plastik untuk menyimpan campuran ini dengan dipadatkan lalu ditutup rapat dengan plastik agar udara tidak ada yang masuk, lalu diamkan selama 3 minggu (sekitar 21 hari). 
3. Setelah 3 minggu silase dapat dibuka dan diberikan kepada ternak sesuai dengan kebutuhan
4. Pemberian pada ternak silase wajib diangin-anginkan terlebih dahulu sehingga bau asamnya hilang dan diberikan secara bertahap pada ternak dengan adaptasi pakan hingga ternak mau mengkonsumsi. 

Silase yang baik
 

1. Berwarna hijau kekuningan, mendekati warna aslinya saat masih segar. Warna hitam tidak ada, atau sedikit saja. Warna hitam menandakan adanya kebocoran sehingga udara masuk dan menimbulkan pembusukan. 
2. pH antara 3,8-4,2 
3. Tekstur lembut dan bila dikepal tidak keluar air, 
4. Kadar airnya cuma sekitar 60-70% saja 
5. Baunya asam segar.

Pembuatan hay

Pembuatan hay lebih mudah dengan biaya yang lebih murah namun harus dibayar dengan masa simpan yang lebih singkat yaitu sekitar 5 minggu. Metode pembuatan hay ada 2 yaitu metode hamparan dan metode Pod.

1. Metode hamparan dilakukan dengan cara menghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka dibawah sinar matahari. Setiap hari hamparan dibolak-balik hingga kering. Biasanya butuh waktu sekitar 2-3 hari, pada saat cuaca cerah. Kadar air setelah kering sekitar 20-30% (warna kecoklat-coklatan). 
2. Metode Pod menggunakan semacam rak sebagai tempat menjemur sekaligus menyimpan hijauan yang dijemur selama 1-3 hari. Kadar air setelah kering sekitar 50%. Untuk pembuatan hay, idealnya hijauan rumput dipotong saat menjelang berbunga (pada saat kadar protein rumput tertinggi, serat kasar dan kandungan airnya optimal). Diharapkan dengan demikian hay yang diperoleh tidak berjamur dan tidak menimbulkan warna gosong, yang tentunya akan meningkatkan palatabilitas dan kualitas hay nantinya.

Hay yang baik

1. Berwarna tetap hijau meskipun ada yang berwarna kekuning-kuningan, 
2. Daun yang rusak tidak banyak, bentuk hijauan masih tetap utuh dan jelas, tidak terlalu kering sebab kalau terlalu kering akan mudah patah. 
3. Kondisinya tidak kotor dan tidak berjamur, sehingga alat pengukur keberhasilan hay yang terbaik adalah ternak yang akan memakannya, jika ternak mau makan berarti sudah cukup baik hasilnya. (Dr. Joko Daryatmo/STPP Magelang)
 

Pewarta : KSM
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2024