Rupiah Melemah 22 Poin
Selasa, 27 Desember 2016 11:01 WIB
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Selasa (27/12) pagi bergerak melemah sebesar 22 poin menjadi Rp13.452, dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.430 per dolar AS. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/nz/16).
Jakarta, Antara Jateng - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Selasa pagi bergerak melemah sebesar 22 poin menjadi Rp13.452, dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.430 per dolar AS.
"Tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih terjadi, inflasi dan defisit menjadi fokus pelaku pasar," kata ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan bahwa walaupun inflasi cukup terjaga di level rendah pada tahun ini, namun pada 2017 mendatang trennya cenderung naik. Selain itu, defisit fiskal yang berpotensi lebih lebar dari perkiraan pemerintah pada 2016 ini menyusul pendapatan amnesti pajak periode kedua yang masih minim turut mempengaruhi laju mata uang domestik.
Kendati demikian, lanjut dia, daya tarik imbal hasil yang cukup tinggi dari surat utang negara (SUN) serta ekspektasi membaiknya pertumbuhan ekonomi akibat kenaikan harga komoditas bisa mengembalikan sentimen positif terhadap rupiah di jangka menengah.
"Harga minyak masih cenderung menguat memanfaatkan momentum pemangkasan produksi anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC)," katanya.
Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan bahwa data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat periode kuartal ketiga 2016 yang membaik menjadi 3,5 persen, lebih tinggi dari ekspektasi 3,2 persen masih menopang dolar AS.
Namun ia mengharapkan bahwa sentimen dari penilaian Fitch Ratings (Fitch) yang telah meningkatkan "outlook credit rating" Indonesia pada "long term foreign" dan "local currency issuer default rating" menjadi positif serta rencana Bank Indonesia dan pemerintah untuk mengupayakan inflasi tahunan tidak melebihi 4 persen dapat mempertahankan rupiah stabil.
"Tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih terjadi, inflasi dan defisit menjadi fokus pelaku pasar," kata ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan bahwa walaupun inflasi cukup terjaga di level rendah pada tahun ini, namun pada 2017 mendatang trennya cenderung naik. Selain itu, defisit fiskal yang berpotensi lebih lebar dari perkiraan pemerintah pada 2016 ini menyusul pendapatan amnesti pajak periode kedua yang masih minim turut mempengaruhi laju mata uang domestik.
Kendati demikian, lanjut dia, daya tarik imbal hasil yang cukup tinggi dari surat utang negara (SUN) serta ekspektasi membaiknya pertumbuhan ekonomi akibat kenaikan harga komoditas bisa mengembalikan sentimen positif terhadap rupiah di jangka menengah.
"Harga minyak masih cenderung menguat memanfaatkan momentum pemangkasan produksi anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC)," katanya.
Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan bahwa data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat periode kuartal ketiga 2016 yang membaik menjadi 3,5 persen, lebih tinggi dari ekspektasi 3,2 persen masih menopang dolar AS.
Namun ia mengharapkan bahwa sentimen dari penilaian Fitch Ratings (Fitch) yang telah meningkatkan "outlook credit rating" Indonesia pada "long term foreign" dan "local currency issuer default rating" menjadi positif serta rencana Bank Indonesia dan pemerintah untuk mengupayakan inflasi tahunan tidak melebihi 4 persen dapat mempertahankan rupiah stabil.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK hadirkan Fuad Hasan Masyhur sebagai saksi dalam sidang kuota haji hari ini
01 October 2026 8:35 WIB
Menkomdigi tekankan inovasi teknologi dan AI wajib berpusat pada manusia
30 September 2026 13:11 WIB
KPK mendalami dugaan Silmy Karim dan Bagus memberi uang setiap bimbingan S3
30 September 2026 8:44 WIB
SAR Timika menemukan 8 korban kapal LCT di Perairan Puriri dalam keadaan selamat
29 September 2026 9:16 WIB
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB