Mendikbud: Ujian Nasional Dikaji Ulang
Minggu, 6 November 2016 6:57 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Luwuk, Antara Jateng - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pihaknya sedang mengkaji, apakah ujian nasional masih diperlukan atau tidak.
"Berdoa saja ya, mudah-mudahan ...," katanya, tanpa melanjutkan penjelasannya, saat mengunjungi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Sabtu.
Saat berkunjung secara mendadak itu, menteri yang didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Sesjen Kemendikbud) Didik Suhadi dan Bupati Banggai Herwin Yatim itu, Muhadjir langsung memasuki sejumlah ruangan untuk berdialog dengan para siswa.
Saat berada di ruang Kelas XII jurusan, seorang siswa bernama Mohamad Kaharuddin tiba-tiba mengancungkan tangan dan meminta kesempatan untuk bertanya kepada Mendikbud yang sudah mengambil posisi untuk keluar kelas.
"Mohon maaf Pak Menteri, boleh saya bertanya," ujar Kaharuddin tanpa malu-malu, dan langsung dipersilahkan Mendikbud untuk mengajukan pertanyaan.
"Pak Menteri, apakah ujian nasional itu masih akan dilakukan? Apakah UN tidak menghambur-hamburkan dana saja," ujarnya, yang disambut tepuk tangan para siswa dan guru.
"Lha, menurut kamu bagaimana?," kata Muhadjir, balik bertanya.
"Menurut saya Pak, UN tidak perlu lagi. Dihapus saja, karena kalau UN itu siswa pasti meniru-niru temannya. Maksudnya, menyontek. Jadi, UN buang-buang dana saja," katanya tegas, dan disambut tepuk tangan riuh para siswa.
"Siapa yang suruh kamu bertanya seperti itu?" kata Mendikbud Muhadjir, kembali bertanya sambil tersenyum.
"Tidak ada Pak. Ini ide saya sendiri," ujar Kaharuddin.
"Kalau begitu, saya mau kasih hadiah sama kamu," kata Muhadjir, sambil mencabut dompetnya dan menyerahkan selembar uang kertas. Para siswa pun menyambut pekik riang.
Mendikbud Muhadjir kemudian menjelaskan bahwa pelaksanaan UN sedang dalam pengkajian ulang.
"Keputusannya nanti, kami segera umumkan apakah tahun depan masih ada UN atau tidak. Berdoa saja ya? Mudah-mudahan ..." ujarnya.
Ketika ada pertanyaan Firra Palesa, siswi di kelas yang sama, mengenai bagaimana meningkatkan prestasi siswa? Muhadjir mengatakan bahwa ke masa depan para guru diwajibkan untuk berada di kelas selama delapan jam sehari atau minimal 40 jam seminggu agar siswa betul-betul maksimal dalam belajar.
"Dengan belajar delapan jam sehari di kelas, maka pada hari Sabtu akan diliburkan sehingga waktu hari Sabtu dan Minggu itu bisa digunakan anak-anak untuk berkumpul bersama keluarga," ujarnya, dan lagi-lagi disambut sorak-sorai para siswa dan guru.
Sebelum meninggalkan ruang kelas tersebut, Muhadjir juga memberikan hadiah uang kepada Firra Palesa atas keberaniannya mengajukan pertanyaan kepadanya.
Di semua kelas yang dikunjungi, Mendikbud mengecek siswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Sejumlah siswa yang ditemui mengaku sudah menerima KIP, namun sampai saat ini belum bisa mencairkan uangnya dan belum tahu bagaimana mencairkan dananya.
"Saya minta KIP kalian dikumpulkan kepada kepala sekolah yang akan melaporkannya ke Jakarta, agar bisa diatur pencairannya melalui Bank Rakyat Indonesia," ujar Mendikbud.
Para siswa penerima KIP di tingkat SMU/SMK akan mendapat bantuan pendidikan senilai Rp1 juta per tahun untuk meringankan beban siswa dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, seperti pengadaan buku tulis dan buku pelajaran serta pembelian pakaian seragam.
Selama dua hari di Luwuk, Mendikbud mengunjungi sejumlah sekolah, antara lain SD Cokroaminoto, Kompleks Pendidikan Muhammadiyah, Kompleks Pendidikan Gereja Kristen Luwuk Banggai, dan Sekolah luar Biasa (SLB) Luwuk.
Muhadjir Effendy dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah juga melantik rektor dan wakil rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk dan memberikan orasi ilmiah pada wisuda sarjana ke-14 Unismuh Luwuk yang diikuti 471 wisudawan dari Fakultas Ilmu Pendidikan, FISIP, Ekonomi, Hukum, Teknik, Pertanian dan Fakultas Perikanan.
Mendikbud Muhadjir kepada ANTARA News mengatakan bahwa pendidikan di Kabupaten Banggai masih perlu pembenahan dalam banyak hal, baik dari segi segi sarana dan prasarana.
Tetapi, ia menegaskan, yang paling penting adalah peningkatan kualitas guru, agar mereka bisa kembali bekerja sebagaimana seharusnya.
"Profesionalisme guru di sini harus ditingkatkan," demikian Muhadjir Effendy.
"Berdoa saja ya, mudah-mudahan ...," katanya, tanpa melanjutkan penjelasannya, saat mengunjungi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Sabtu.
Saat berkunjung secara mendadak itu, menteri yang didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Sesjen Kemendikbud) Didik Suhadi dan Bupati Banggai Herwin Yatim itu, Muhadjir langsung memasuki sejumlah ruangan untuk berdialog dengan para siswa.
Saat berada di ruang Kelas XII jurusan, seorang siswa bernama Mohamad Kaharuddin tiba-tiba mengancungkan tangan dan meminta kesempatan untuk bertanya kepada Mendikbud yang sudah mengambil posisi untuk keluar kelas.
"Mohon maaf Pak Menteri, boleh saya bertanya," ujar Kaharuddin tanpa malu-malu, dan langsung dipersilahkan Mendikbud untuk mengajukan pertanyaan.
"Pak Menteri, apakah ujian nasional itu masih akan dilakukan? Apakah UN tidak menghambur-hamburkan dana saja," ujarnya, yang disambut tepuk tangan para siswa dan guru.
"Lha, menurut kamu bagaimana?," kata Muhadjir, balik bertanya.
"Menurut saya Pak, UN tidak perlu lagi. Dihapus saja, karena kalau UN itu siswa pasti meniru-niru temannya. Maksudnya, menyontek. Jadi, UN buang-buang dana saja," katanya tegas, dan disambut tepuk tangan riuh para siswa.
"Siapa yang suruh kamu bertanya seperti itu?" kata Mendikbud Muhadjir, kembali bertanya sambil tersenyum.
"Tidak ada Pak. Ini ide saya sendiri," ujar Kaharuddin.
"Kalau begitu, saya mau kasih hadiah sama kamu," kata Muhadjir, sambil mencabut dompetnya dan menyerahkan selembar uang kertas. Para siswa pun menyambut pekik riang.
Mendikbud Muhadjir kemudian menjelaskan bahwa pelaksanaan UN sedang dalam pengkajian ulang.
"Keputusannya nanti, kami segera umumkan apakah tahun depan masih ada UN atau tidak. Berdoa saja ya? Mudah-mudahan ..." ujarnya.
Ketika ada pertanyaan Firra Palesa, siswi di kelas yang sama, mengenai bagaimana meningkatkan prestasi siswa? Muhadjir mengatakan bahwa ke masa depan para guru diwajibkan untuk berada di kelas selama delapan jam sehari atau minimal 40 jam seminggu agar siswa betul-betul maksimal dalam belajar.
"Dengan belajar delapan jam sehari di kelas, maka pada hari Sabtu akan diliburkan sehingga waktu hari Sabtu dan Minggu itu bisa digunakan anak-anak untuk berkumpul bersama keluarga," ujarnya, dan lagi-lagi disambut sorak-sorai para siswa dan guru.
Sebelum meninggalkan ruang kelas tersebut, Muhadjir juga memberikan hadiah uang kepada Firra Palesa atas keberaniannya mengajukan pertanyaan kepadanya.
Di semua kelas yang dikunjungi, Mendikbud mengecek siswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Sejumlah siswa yang ditemui mengaku sudah menerima KIP, namun sampai saat ini belum bisa mencairkan uangnya dan belum tahu bagaimana mencairkan dananya.
"Saya minta KIP kalian dikumpulkan kepada kepala sekolah yang akan melaporkannya ke Jakarta, agar bisa diatur pencairannya melalui Bank Rakyat Indonesia," ujar Mendikbud.
Para siswa penerima KIP di tingkat SMU/SMK akan mendapat bantuan pendidikan senilai Rp1 juta per tahun untuk meringankan beban siswa dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, seperti pengadaan buku tulis dan buku pelajaran serta pembelian pakaian seragam.
Selama dua hari di Luwuk, Mendikbud mengunjungi sejumlah sekolah, antara lain SD Cokroaminoto, Kompleks Pendidikan Muhammadiyah, Kompleks Pendidikan Gereja Kristen Luwuk Banggai, dan Sekolah luar Biasa (SLB) Luwuk.
Muhadjir Effendy dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah juga melantik rektor dan wakil rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk dan memberikan orasi ilmiah pada wisuda sarjana ke-14 Unismuh Luwuk yang diikuti 471 wisudawan dari Fakultas Ilmu Pendidikan, FISIP, Ekonomi, Hukum, Teknik, Pertanian dan Fakultas Perikanan.
Mendikbud Muhadjir kepada ANTARA News mengatakan bahwa pendidikan di Kabupaten Banggai masih perlu pembenahan dalam banyak hal, baik dari segi segi sarana dan prasarana.
Tetapi, ia menegaskan, yang paling penting adalah peningkatan kualitas guru, agar mereka bisa kembali bekerja sebagaimana seharusnya.
"Profesionalisme guru di sini harus ditingkatkan," demikian Muhadjir Effendy.
Pewarta : Antaranews
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
SAR Timika menemukan 8 korban kapal LCT di Perairan Puriri dalam keadaan selamat
29 September 2026 9:16 WIB
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Menristekdikti: Program "Sarjana masuk desa" Berikan Inovasi Pertanian dan Peternakan
31 January 2017 15:33 WIB, 2017
Pagelaran Wayang Kulit, PDIP Ingin Masyarakat Jakarta Junjung Tinggi Kebhinekaan
29 January 2017 7:05 WIB, 2017
Presiden ingin Sekolah Wajibkan Murid ikut Kegiatan Luar dalam Ekstrakulikuler
26 January 2017 12:50 WIB, 2017
Presiden: Kartu Indonesia Pintar yang akan Dibagikan pada 2017 Sebanyak 19 Juta
26 January 2017 12:02 WIB, 2017
Kemendikbud tidak hanya Menghabiskan Uang, tetapi bisa Menghasilkan Uang, Kata Muhajir
24 January 2017 11:23 WIB, 2017
Mendikbud: Pengalihan Penyelenggaraan SMA/SMK ke Provinsi Diperbaiki
17 January 2017 14:52 WIB, 2017
Nilai-Nilai Kebhinekaan perlu Dipelihara dan Dikembangkan seluruh Lembaga Pendidikan
17 January 2017 12:11 WIB, 2017
Menhub Ingin Pilot lulusan sarjana menambah Kedewasaan dan Wawasan Luas
13 January 2017 18:05 WIB, 2017