Rupiah Menguat Tipis
Kamis, 25 Agustus 2016 10:48 WIB
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak menguat tipis sebesar tiga poin menjadi Rp13.247, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp13.250 per dolar AS. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/nz/16).
Jakarta, Antara Jateng - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak menguat tipis sebesar tiga poin menjadi Rp13.247, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp13.250 per dolar AS.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Kamis mengatakan bahwa harga minyak dunia yang bervariasi dengan cenderungan melemah menjadi salah satu faktor yang menahan laju mata uang rupiah untuk terapresiasi lebih tinggi.
"Adanya penambahan stok minyak di AS membuat harga minyak melemah sehingga berdampak pada laju mata uang komoditas, seperti rupiah," katanya.
Ia menambahkan bahwa menjelang pidato Ketua the Fed dalam simposium tahunan di Jackson Hole, Wyoming, juga turut membuat pergerakan mata uang domestik terbatas.
"Pelaku pasar sedang menanti arah kebijakan moneter The Fed ke depan dalam simposium itu," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, pergerakan mata uang rupiah juga dipengaruhi oleh data-data ekonomi dari Amerika Serikat, salah satunya laporan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua.
"Data itu ditunggu oleh kalangan pelaku pasar uang karena akan menjadi bahan pertimbangan bagi The Fed dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan tingkat suku bunganya," katanya.
Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong menambahkan bahwa meski mata uang rupiah bergerak dengan fluktuasi yang relatif stabil, program amnesti pajak menjaga harapan pelaku pasar terhadap perekonomian domestik.
"Diharapkan, dana repatriasi yang ditargetkan pemerintah dapat tercapai sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan infrastruktur," katanya.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Kamis mengatakan bahwa harga minyak dunia yang bervariasi dengan cenderungan melemah menjadi salah satu faktor yang menahan laju mata uang rupiah untuk terapresiasi lebih tinggi.
"Adanya penambahan stok minyak di AS membuat harga minyak melemah sehingga berdampak pada laju mata uang komoditas, seperti rupiah," katanya.
Ia menambahkan bahwa menjelang pidato Ketua the Fed dalam simposium tahunan di Jackson Hole, Wyoming, juga turut membuat pergerakan mata uang domestik terbatas.
"Pelaku pasar sedang menanti arah kebijakan moneter The Fed ke depan dalam simposium itu," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, pergerakan mata uang rupiah juga dipengaruhi oleh data-data ekonomi dari Amerika Serikat, salah satunya laporan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua.
"Data itu ditunggu oleh kalangan pelaku pasar uang karena akan menjadi bahan pertimbangan bagi The Fed dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan tingkat suku bunganya," katanya.
Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong menambahkan bahwa meski mata uang rupiah bergerak dengan fluktuasi yang relatif stabil, program amnesti pajak menjaga harapan pelaku pasar terhadap perekonomian domestik.
"Diharapkan, dana repatriasi yang ditargetkan pemerintah dapat tercapai sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan infrastruktur," katanya.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Perum LKBN ANTARA perkuat peran sebagai "gateway" Indonesia ke Asia dan dunia
15 September 2026 11:14 WIB
Korban selamat kecelakaan laut KMP Virgo dirawat sejumlah RS di Banjarmasin
15 September 2026 10:46 WIB
Basarnas mencari 129 korban KM Virgo hingga 2.600 mil laut dari titik koordinat
14 September 2026 14:40 WIB