Rupiah Menguat Menjadi Rp13.087
Kamis, 18 Agustus 2016 10:25 WIB
Petugas menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang BNI Melawai, Jakarta, Selasa (15/9). Nilai tukar rupiah terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang Federal Open Market Committee (FOMC), Selasa (15/9) menyentuh level Rp 14.408 per dolar A
Jakarta, Antara Jateng - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak menguat sebesar 17 poin menjadi Rp13.087, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp13.104 per dolar AS.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Kamis mengatakan bahwa nilai tukar rupiah kembali mengalami penguatan terhadap dolar AS seiring dengan pelaku pasar uang yang masih mengapresiasi Pidato Presiden pada 16 Agustus kemarin.
Ia mengemukakan bahwa dalam RAPBN 2017 menargetkan penerimaan negara Rp1.737,6 triliun sementara target belanja Rp2.070,5 triliun sehingga defisit mencapai 2,41 persen terhadap PDB dengan asumsi pertumbuhan PDB yang 5,3 persen secara tahunan.
"Itu relatif lebih realistis dan bisa memberikan sedikit sentimen positif bagi pasar," katanya.
Ia menambahkan bahwa di tengah investor yang juga sedang mengawasi pencapaian pendapatan dari program amnesti pajak, fokus selanjutnya perlahan akan beralih ke pengumuman Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Jumat (19/8) besok yang berpeluang memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Kepala Riset NH Koorindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang belum memberikan kepastian untuk menaikan suku bunga acuannya menyebabkan mata uang dolar AS terdepresiasi terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Kamis mengatakan bahwa nilai tukar rupiah kembali mengalami penguatan terhadap dolar AS seiring dengan pelaku pasar uang yang masih mengapresiasi Pidato Presiden pada 16 Agustus kemarin.
Ia mengemukakan bahwa dalam RAPBN 2017 menargetkan penerimaan negara Rp1.737,6 triliun sementara target belanja Rp2.070,5 triliun sehingga defisit mencapai 2,41 persen terhadap PDB dengan asumsi pertumbuhan PDB yang 5,3 persen secara tahunan.
"Itu relatif lebih realistis dan bisa memberikan sedikit sentimen positif bagi pasar," katanya.
Ia menambahkan bahwa di tengah investor yang juga sedang mengawasi pencapaian pendapatan dari program amnesti pajak, fokus selanjutnya perlahan akan beralih ke pengumuman Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Jumat (19/8) besok yang berpeluang memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Kepala Riset NH Koorindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang belum memberikan kepastian untuk menaikan suku bunga acuannya menyebabkan mata uang dolar AS terdepresiasi terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Perum LKBN ANTARA perkuat peran sebagai "gateway" Indonesia ke Asia dan dunia
15 September 2026 11:14 WIB
Korban selamat kecelakaan laut KMP Virgo dirawat sejumlah RS di Banjarmasin
15 September 2026 10:46 WIB
Basarnas mencari 129 korban KM Virgo hingga 2.600 mil laut dari titik koordinat
14 September 2026 14:40 WIB