Rupiah Menguat Menjadi Rp13.238
Kamis, 23 Juni 2016 11:04 WIB
Rupiah Ditutup Melemah Petugas menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang BNI Melawai, Jakarta, Selasa (15/9). Nilai tukar rupiah terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang Federal Open Market Committee (FOMC), Selasa (15/9) menyentuh leve
Jakarta, Antara Jateng - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis pagi, bergerak menguat sebesar 45 poin menjadi Rp13.238 dibandingkan posisi sebelumnya pada posisi Rp13.283 per dolar AS.
"Dolar AS mengalami pelemahan terhadap sebagian mata uang dunia, termasuk rupiah di tengah penantian investor terhadap pemungutan suara apakah tetap di Uni Eropa (EU) atau keluar," kata analis Monex Investindo Futures Putu Agus di Jakarta, Kamis.
Ia mengemukakan bahwa hasil polling Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) terbaru menunjukan jumlah responden yang memilih Inggris keluar sebesar 44 persen. Jumlah responden yang memilih bertahan masih unggul sebesar 45 persen, namun keunggulan tersebut sangat tipis.
"Masih adanya potensi Inggris keluar membuat kekhawatiran ekonomi AS kembali melambat, sehingga mempengaruhi laju dolar AS," katanya.
Ia menambahkan bahwa penguatan mata uang domestik juga ditopang oleh harga minyak mentah yang kembali menguat. Terpantau harga minyak jenis WTI Crude berada naik 0,65 persen menjadi 49,45 dolar AS per barel, dan Brent Crude naik 0,54 persen ke posisi 50,15 dolar AS per barel.
Sementara itu, Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan bahwa menjelang referendum Inggris, volatilitas pasar uang di dalam negeri relatif masih stabil. Beberapa kebijakan yang telah diambil pemerintah menjadi salah satu faktor yang menjaga fluktuasi rupiah.
Menurut dia, sentimen mengenai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) dan relaksasi ketentuan Loan to Value Ratio (LTV) masih terasa dampak positifnya sehingga apresiasi rupiah kembali terjadi.
"Dolar AS mengalami pelemahan terhadap sebagian mata uang dunia, termasuk rupiah di tengah penantian investor terhadap pemungutan suara apakah tetap di Uni Eropa (EU) atau keluar," kata analis Monex Investindo Futures Putu Agus di Jakarta, Kamis.
Ia mengemukakan bahwa hasil polling Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) terbaru menunjukan jumlah responden yang memilih Inggris keluar sebesar 44 persen. Jumlah responden yang memilih bertahan masih unggul sebesar 45 persen, namun keunggulan tersebut sangat tipis.
"Masih adanya potensi Inggris keluar membuat kekhawatiran ekonomi AS kembali melambat, sehingga mempengaruhi laju dolar AS," katanya.
Ia menambahkan bahwa penguatan mata uang domestik juga ditopang oleh harga minyak mentah yang kembali menguat. Terpantau harga minyak jenis WTI Crude berada naik 0,65 persen menjadi 49,45 dolar AS per barel, dan Brent Crude naik 0,54 persen ke posisi 50,15 dolar AS per barel.
Sementara itu, Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan bahwa menjelang referendum Inggris, volatilitas pasar uang di dalam negeri relatif masih stabil. Beberapa kebijakan yang telah diambil pemerintah menjadi salah satu faktor yang menjaga fluktuasi rupiah.
Menurut dia, sentimen mengenai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) dan relaksasi ketentuan Loan to Value Ratio (LTV) masih terasa dampak positifnya sehingga apresiasi rupiah kembali terjadi.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Perum LKBN ANTARA perkuat peran sebagai "gateway" Indonesia ke Asia dan dunia
15 September 2026 11:14 WIB
Korban selamat kecelakaan laut KMP Virgo dirawat sejumlah RS di Banjarmasin
15 September 2026 10:46 WIB
Basarnas mencari 129 korban KM Virgo hingga 2.600 mil laut dari titik koordinat
14 September 2026 14:40 WIB