Rupiah Melemah Tipis pada Jumat Pagi
Jumat, 10 Juni 2016 10:45 WIB
Petugas Bank Mandiri menunjukkan pecahan uang rupiah dan dollar Amerika Serikat di Jakarta, Jumat (18/3). (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/nz/16)
Jakarta, Antara Jateng - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi bergerak melemah sebesar 10 poin menjadi Rp13.297 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.287 per dolar AS.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Jumat mengatakan bahwa penguatan mata uang rupiah terhadap dolar AS cenderung mulai tertahan di tengah pergerakan harga minyak mentah dunia yang mengalami koreksi.
"Dolar AS menguat tipis setelah beberapa hari tertekan sejalan dengan harga minyak yang terkoreksi," katanya.
Terpantau, harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Jumat (10/6) pagi ini berada di level 50,45 dolar AS per barel, turun 0,22 persen. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude di posisi 51,89 dolar AS per barel, menguat 0,12 persen.
Secara teknikal, ia menambahkan bahwa momentum penguatan rupiah sepertinya juga mulai jenuh sehingga potensi depresiasi mata uang dalam negeri terhadap dolar AS cukup terbuka.
Namun, lanjut dia, diharapkan optimisme investor pasar uang dari rencana peluncuran kebijakan pengampunan pajak atau "tax amnesty" masih akan menjaga rupiah untuk tidak tertekan lebih dalam.
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa penguatan dolar AS masih relatif terbatas mengingat masih adanya ketidakpastian terhadap waktu kenaikan suku bunga Amerika Serikat (Fed fund rate).
"Kondisi itu akan mengikis permintaan mata uang dolar AS sehingga penguatannya cenderung terbatas," katanya.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Jumat mengatakan bahwa penguatan mata uang rupiah terhadap dolar AS cenderung mulai tertahan di tengah pergerakan harga minyak mentah dunia yang mengalami koreksi.
"Dolar AS menguat tipis setelah beberapa hari tertekan sejalan dengan harga minyak yang terkoreksi," katanya.
Terpantau, harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Jumat (10/6) pagi ini berada di level 50,45 dolar AS per barel, turun 0,22 persen. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude di posisi 51,89 dolar AS per barel, menguat 0,12 persen.
Secara teknikal, ia menambahkan bahwa momentum penguatan rupiah sepertinya juga mulai jenuh sehingga potensi depresiasi mata uang dalam negeri terhadap dolar AS cukup terbuka.
Namun, lanjut dia, diharapkan optimisme investor pasar uang dari rencana peluncuran kebijakan pengampunan pajak atau "tax amnesty" masih akan menjaga rupiah untuk tidak tertekan lebih dalam.
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa penguatan dolar AS masih relatif terbatas mengingat masih adanya ketidakpastian terhadap waktu kenaikan suku bunga Amerika Serikat (Fed fund rate).
"Kondisi itu akan mengikis permintaan mata uang dolar AS sehingga penguatannya cenderung terbatas," katanya.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Perum LKBN ANTARA perkuat peran sebagai "gateway" Indonesia ke Asia dan dunia
15 September 2026 11:14 WIB
Korban selamat kecelakaan laut KMP Virgo dirawat sejumlah RS di Banjarmasin
15 September 2026 10:46 WIB
Basarnas mencari 129 korban KM Virgo hingga 2.600 mil laut dari titik koordinat
14 September 2026 14:40 WIB