Rupiah Menguat Menjadi Rp13.149
Selasa, 3 Mei 2016 11:52 WIB
dolar AS (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta, Antara Jateng - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa ini menguat 10 poin menjadi Rp13.149 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.159 per dolar AS.
"Sentimen positif mulai mendukung laju rupiah terhadap dolar AS. Kondisi mata uang Negeri Paman Sam itu juga cenderung tertekan di pasar global setelah data manufaktur Amerika Serikat menurun," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa.
Ia mengemukakan bahwa indeks manufaktur Amerika Serikat pada April mencapai 50,8, menurun dari periode Maret di 51,8. Kondisi harga minyak yang rendah dan dolar AS yang kuat membebani industri di AS.
"Data AS itu datang setelah data manufaktur negara-negara Euro yang justru membaik sehingga menambah tekanan pelemahan dolar AS," katanya.
Dari dalam negeri, lanjut dia, laju inflasi yang diumumkan stabil masih menjadi sentimen positif bagi rupiah. Menjelang akan dirilisnya angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal I 2016 yang positif juga menambah dukungan bagi mata uang domestik.
Badan Pusat Statistik mencatat pada April 2016 terjadi deflasi sebesar 0,45 persen, atau yang terbesar sejak tahun 2000. Dengan deflasi April sebesar 0,45 persen maka inflasi tahun kalender Januari-April 2016 tercatat 0,16 persen dan laju inflasi secara tahunan (year on year) 3,6 persen.
"Akan tetapi perlu diwaspadai jika harga minyak mentah dunia turun, karena biasanya dapat menekan ruppiah," katanya.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa laju rupiah masih mampu bergerak di area positif jelang akhir sesi pertama perdagangan.
"Harapan pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I 2016 menjadi salah satu faktor yang menopang," katanya.
"Sentimen positif mulai mendukung laju rupiah terhadap dolar AS. Kondisi mata uang Negeri Paman Sam itu juga cenderung tertekan di pasar global setelah data manufaktur Amerika Serikat menurun," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa.
Ia mengemukakan bahwa indeks manufaktur Amerika Serikat pada April mencapai 50,8, menurun dari periode Maret di 51,8. Kondisi harga minyak yang rendah dan dolar AS yang kuat membebani industri di AS.
"Data AS itu datang setelah data manufaktur negara-negara Euro yang justru membaik sehingga menambah tekanan pelemahan dolar AS," katanya.
Dari dalam negeri, lanjut dia, laju inflasi yang diumumkan stabil masih menjadi sentimen positif bagi rupiah. Menjelang akan dirilisnya angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal I 2016 yang positif juga menambah dukungan bagi mata uang domestik.
Badan Pusat Statistik mencatat pada April 2016 terjadi deflasi sebesar 0,45 persen, atau yang terbesar sejak tahun 2000. Dengan deflasi April sebesar 0,45 persen maka inflasi tahun kalender Januari-April 2016 tercatat 0,16 persen dan laju inflasi secara tahunan (year on year) 3,6 persen.
"Akan tetapi perlu diwaspadai jika harga minyak mentah dunia turun, karena biasanya dapat menekan ruppiah," katanya.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa laju rupiah masih mampu bergerak di area positif jelang akhir sesi pertama perdagangan.
"Harapan pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I 2016 menjadi salah satu faktor yang menopang," katanya.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Perum LKBN ANTARA perkuat peran sebagai "gateway" Indonesia ke Asia dan dunia
15 September 2026 11:14 WIB
Korban selamat kecelakaan laut KMP Virgo dirawat sejumlah RS di Banjarmasin
15 September 2026 10:46 WIB
Basarnas mencari 129 korban KM Virgo hingga 2.600 mil laut dari titik koordinat
14 September 2026 14:40 WIB