Rupiah Menguat Menjadi Rp13.874 per Dolar AS
Jumat, 22 Januari 2016 10:42 WIB
Dua wisatawan melintas di samping tempat penukaran mata uang di Legian, Kuta, Jumat (15/1). (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/aww/16)
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) yang memberikan sinyal kemungkinan penambahan stimulus keuangannya mendorong selera risiko pelaku pasar terhadap negara berkembang meningkat, situasi itu menjadi salah satu penopang laju mata uang rupiah.
"Harapan tambahan stimulus dari Eropa itu juga membantu harga minyak mentah rebound. Mata uang komoditas pun turut menguat mengikuti pergerakan harga minyak," katanya.
Ia menambahkan bahwa harga minyak mentah hampir kembali menyentuh level 30 dolar AS per barel. Harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Jumat (22/1) ini, terpantau bergerak naik 0,64 persen menjadi 29,72 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude menguat 0,96 persen ke level 29,53 dolar AS per barel.
Kendati demikian, menurut dia, penguatan nilai tukar domestik cenderung masih terbatas menyusul pelaku pasar yang sedang menanti pidato Gubernur The Fed Janet Yellen mengenai kebijakan moneter dan ekonomi di hadapan Komite Senat Perbankan pada tanggal 11 Februari dalam rangka laporan kebijakan semesteran bank sentral AS.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan bahwa pelaku pasar uang masih optimistis terhadap kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan (BI rate) akan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
"Sentimen BI rate masih cukup mampu menjaga fluktuasi nilai tukar rupiah bergerak stabil," katanya.
"Harapan tambahan stimulus dari Eropa itu juga membantu harga minyak mentah rebound. Mata uang komoditas pun turut menguat mengikuti pergerakan harga minyak," katanya.
Ia menambahkan bahwa harga minyak mentah hampir kembali menyentuh level 30 dolar AS per barel. Harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Jumat (22/1) ini, terpantau bergerak naik 0,64 persen menjadi 29,72 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude menguat 0,96 persen ke level 29,53 dolar AS per barel.
Kendati demikian, menurut dia, penguatan nilai tukar domestik cenderung masih terbatas menyusul pelaku pasar yang sedang menanti pidato Gubernur The Fed Janet Yellen mengenai kebijakan moneter dan ekonomi di hadapan Komite Senat Perbankan pada tanggal 11 Februari dalam rangka laporan kebijakan semesteran bank sentral AS.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan bahwa pelaku pasar uang masih optimistis terhadap kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan (BI rate) akan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
"Sentimen BI rate masih cukup mampu menjaga fluktuasi nilai tukar rupiah bergerak stabil," katanya.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Perum LKBN ANTARA perkuat peran sebagai "gateway" Indonesia ke Asia dan dunia
15 September 2026 11:14 WIB
Korban selamat kecelakaan laut KMP Virgo dirawat sejumlah RS di Banjarmasin
15 September 2026 10:46 WIB
Basarnas mencari 129 korban KM Virgo hingga 2.600 mil laut dari titik koordinat
14 September 2026 14:40 WIB