UKM Didorong Berinovasi Hadapi MEA
Kamis, 19 November 2015 16:09 WIB
Pekerja mencanting kain batik Pekalongan di kawasan Desa Gamer, Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (4/6).(ANTARA FOTO/Pradita Utama)
"Pengusaha UKM memiliki tantangan sekaligus peluang pasar yang relatif besar menghadapi MEA," kata calon Wakil Bupati Pekalongan, Arini Harimurti di Pekalongan, Kamis.
Menurut dia, untuk menghadapi tantangan MEA ini maka para pelaku UKM harus berkreativitas dan mampu mengubah mekanisme pemasaran, desain, serta kualitas produk agar tetap diminati konsumen.
Secara umum, kata dia, pelaku UKM masih belum siap menghadapi tantangan pasar global sehingga mereka perlu didorong agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasaran.
"Sebenarnya, produk batik dan alat tenun bukan mesin (ATBM) tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Selain itu, memiliki harga produk yang kompetitif, kerajinan batik dan ATBM memiliki nilai tinggi," katanya.
Menurut dia, dengan diberlakukanya MEA maka pengerjaan barang produksi akan relatif bebas di kawasan Asia Tenggara sehingga butuh kekuatan yang berbeda untuk bersaing.
"Pelaku UKM perlu bercermin pada budaya disiplin kerja yang dimiliki pengusaha Tiongkok yang selalu gigih dalam melakukan usahanya," katanya.
Ia menambahkan pihak pemangku kebijakan dapat turut membantu menyosialisasikan kepesertaan Indonesia dalam menghadap MEA 2015 serta mendorong adanya penguatan pelatihan usaha melalui balai latihan kerja pada pelaku UKM.
Menurut dia, untuk menghadapi tantangan MEA ini maka para pelaku UKM harus berkreativitas dan mampu mengubah mekanisme pemasaran, desain, serta kualitas produk agar tetap diminati konsumen.
Secara umum, kata dia, pelaku UKM masih belum siap menghadapi tantangan pasar global sehingga mereka perlu didorong agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasaran.
"Sebenarnya, produk batik dan alat tenun bukan mesin (ATBM) tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Selain itu, memiliki harga produk yang kompetitif, kerajinan batik dan ATBM memiliki nilai tinggi," katanya.
Menurut dia, dengan diberlakukanya MEA maka pengerjaan barang produksi akan relatif bebas di kawasan Asia Tenggara sehingga butuh kekuatan yang berbeda untuk bersaing.
"Pelaku UKM perlu bercermin pada budaya disiplin kerja yang dimiliki pengusaha Tiongkok yang selalu gigih dalam melakukan usahanya," katanya.
Ia menambahkan pihak pemangku kebijakan dapat turut membantu menyosialisasikan kepesertaan Indonesia dalam menghadap MEA 2015 serta mendorong adanya penguatan pelatihan usaha melalui balai latihan kerja pada pelaku UKM.
Pewarta : Kutnadi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Sebanyak 80.200 warga Kabupaten Jepara terima pembiayaan dari PNM Mekaar
10 September 2026 20:02 WIB