Rupiah Menguat 338 Poin
Kamis, 15 Oktober 2015 11:38 WIB
Seorang petugas menghitung uang Rupiah di Kantor Pusat BNI Jakarta, Senin (12/10). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup pada level 13.408 per dolar AS, naik empat poin atau 0,03 persen dari penutupan sebelumnya. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta, di Jakarta, Kamis, mengatakan, dolar AS bergerak melemah tajam terhadap mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah setelah harga produsen Amerika Serikat yang diumumkan tadi malam cenderung memburuk.
"Data AS yang belum membaik itu menandakan bahwa inflasi secara umum belum akan mendekati target bank sentral Amerika Serikat (the Fed), inflasi merupakan salah satu indikator bagi the Fed untuk menaikkan suku bunganya," katanya.
Ia menambahkan bahwa fokus pelaku pasar uang pada hari ini (15/10) akan mengarah pada sentimen di dalam negeri. Diharapkan kabar yang muncul sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga menopang rupiah tetap bertahan di area positif.
"Pasar menanti angka neraca perdagangan Indonesia yang akan diumumkan pada hari ini (15/10) yang diperkirakan kembali mencatatkan surplus seiring nilai impor yang melambat," katanya.
Selain itu, lanjut dia, pasar juga menanti kebijakan moneter Bank Indonesia mengenai suku bunga acuan (BI rate), serta paket kebijakan ekonomi jilid IV yang diperkirakan membahas peraturan pasar tenaga kerja.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan bahwa penguatan rupiah masih dibatasi oleh data ekonomi Tiongkok seperti data perdagangannya yang kembali mengalami penurunan.
"Masih negatifnya data ekonomi di Tiongkok itu akan berdampak negatif bagi perekonomian di dalam negeri mengingat Tiongkok merupakan salah satu rekan dagang utama bagi Indonesia," katanya.
"Data AS yang belum membaik itu menandakan bahwa inflasi secara umum belum akan mendekati target bank sentral Amerika Serikat (the Fed), inflasi merupakan salah satu indikator bagi the Fed untuk menaikkan suku bunganya," katanya.
Ia menambahkan bahwa fokus pelaku pasar uang pada hari ini (15/10) akan mengarah pada sentimen di dalam negeri. Diharapkan kabar yang muncul sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga menopang rupiah tetap bertahan di area positif.
"Pasar menanti angka neraca perdagangan Indonesia yang akan diumumkan pada hari ini (15/10) yang diperkirakan kembali mencatatkan surplus seiring nilai impor yang melambat," katanya.
Selain itu, lanjut dia, pasar juga menanti kebijakan moneter Bank Indonesia mengenai suku bunga acuan (BI rate), serta paket kebijakan ekonomi jilid IV yang diperkirakan membahas peraturan pasar tenaga kerja.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan bahwa penguatan rupiah masih dibatasi oleh data ekonomi Tiongkok seperti data perdagangannya yang kembali mengalami penurunan.
"Masih negatifnya data ekonomi di Tiongkok itu akan berdampak negatif bagi perekonomian di dalam negeri mengingat Tiongkok merupakan salah satu rekan dagang utama bagi Indonesia," katanya.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Korps Marinir lintas negara mengasah kemampuan tempur di darat lewat SGS 2026
08 September 2026 15:56 WIB
Febrie Adriansyah diperiksa Tim 9 Kejagung terkait kasus korupsi dan TPPU
08 September 2026 10:55 WIB
Presiden Prabowo: Alokasi anggaran mitigasi bencana harus ditambah signifikan
07 September 2026 14:38 WIB
Menhub: Penutupan sementara 8 bandara diperpanjang hingga Senin pukul 09.00 WIB
07 September 2026 9:23 WIB
ANTARA melatih mahasiswa UKM Pers teknik penulisan standar kantor berita
05 September 2026 10:21 WIB
Presiden Prabowo menjelaskan kesamaan filosofi Odin v pole ne voin-gotong royong
04 September 2026 6:26 WIB
Prabowo: Pertumbuhan ekonomi harus angkat jutaan orang keluar dari kemiskinan
03 September 2026 16:48 WIB