Rupiah Melemah Menjadi Rp14.301 per Dolar AS
Kamis, 10 September 2015 11:12 WIB
Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Kamis pagi Rp14.301 per dolar AS. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
"Laju rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar AS, penguatan pada hari sebelumnya hanya bersifat teknikal," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.
Reza mengatakan paket kebijakan tahap pertama yang diumumkan pemerintah Rabu (9/9) untuk mendorong daya saing industri nasional, mempercepat proyek strategis nasional, serta meningkatkan investasi sektor properti diharapkan bisa menghadapi tantangan pelemahan ekonomi global.
"Saat ini pelaku pasar sedang mengkaji berbagai langkah pemerintah, diharapkan direspons positif pasar sehingga dapat menopang mata uang rupiah," katanya.
Di samping itu, lanjut Reza, ada harapan bahwa rencana pemerintah Tiongkok mengeluarkan stimulus guna mendorong perekonomiannya dapat meredakan gejolak pasar keuangan di kawasan Asia.
Sementara pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan bahwa potensi rupiah kembali menguat masih terbuka setelah prospek kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (the Federal Reserve) pada September tergerus penilaian bahwa perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat.
"Data ekonomi Amerika Serikat masih bervariasi, di sisi lain bursa saham AS juga masih bergejolak, itu menandakan belum stabilnya perekonmian disana," katanya.
Ia juga menambahkan rencana pemerintah Indonesia membolehkan warga negara asing membuka rekening dolar AS di Indonesia diharapkan dapat menjaga persediaan valas di dalam negeri.
Reza mengatakan paket kebijakan tahap pertama yang diumumkan pemerintah Rabu (9/9) untuk mendorong daya saing industri nasional, mempercepat proyek strategis nasional, serta meningkatkan investasi sektor properti diharapkan bisa menghadapi tantangan pelemahan ekonomi global.
"Saat ini pelaku pasar sedang mengkaji berbagai langkah pemerintah, diharapkan direspons positif pasar sehingga dapat menopang mata uang rupiah," katanya.
Di samping itu, lanjut Reza, ada harapan bahwa rencana pemerintah Tiongkok mengeluarkan stimulus guna mendorong perekonomiannya dapat meredakan gejolak pasar keuangan di kawasan Asia.
Sementara pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan bahwa potensi rupiah kembali menguat masih terbuka setelah prospek kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (the Federal Reserve) pada September tergerus penilaian bahwa perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat.
"Data ekonomi Amerika Serikat masih bervariasi, di sisi lain bursa saham AS juga masih bergejolak, itu menandakan belum stabilnya perekonmian disana," katanya.
Ia juga menambahkan rencana pemerintah Indonesia membolehkan warga negara asing membuka rekening dolar AS di Indonesia diharapkan dapat menjaga persediaan valas di dalam negeri.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
SAR Timika menemukan 8 korban kapal LCT di Perairan Puriri dalam keadaan selamat
29 September 2026 9:16 WIB
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB