Rupiah Menguat Tipis Menjadi R13.330
Senin, 22 Juni 2015 11:08 WIB
dolar AS (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
"Euforia merespons keputusan bank sentral AS (the Fed) yang menahan kenaikan suku bunganya masih terasa di pasar keuangan domestik, terlihat kondisi rupiah cukup stabil," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Senin.
Menurut dia, adanya sentimen negatif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik dapat menutupi sentimen positif lainnya sehingga fluktuasi rupiah masih akan mudah berubah.
"Secara umum mata uang rupiah masih akan tertekan di sepanjang Juni seiring dengan tingginya permintaan dolar AS," katanya.
Dari eksternal, lanjut dia, belum adanya kemajuan pada perundingan utang Yunani juga berpeluang menekan rupiah terhadap dolar AS. Sentimen Yunani dapat mendorong tingginya permintaan atas aset "safe haven".
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa hari ini pasar akan fokus pada rapat darurat zona Euro yang akan membahas proposal Yunani untuk menentukan apakah dana talangan utang akan diberikan atau tidak.
"Negosiasi yang tanpa hasil bisa memberikan sentimen negatif untuk instrumen-instrumen beresiko karena tenggat waktu perpanjangan bailout hampir berakhir dan Yunani terancam tidak bisa membayar kewajibannya," katanya.
Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar juga menanti rilis data penjualan rumah kedua di Amerika Serikat untuk bulan Mei 2015, data itu diproyeksi lebih bagus dari data bulan sebelumnya. Hasil yang melebihi prediksi bisa mendorong kembali penguatan mata uang dolar AS.
Menurut dia, adanya sentimen negatif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik dapat menutupi sentimen positif lainnya sehingga fluktuasi rupiah masih akan mudah berubah.
"Secara umum mata uang rupiah masih akan tertekan di sepanjang Juni seiring dengan tingginya permintaan dolar AS," katanya.
Dari eksternal, lanjut dia, belum adanya kemajuan pada perundingan utang Yunani juga berpeluang menekan rupiah terhadap dolar AS. Sentimen Yunani dapat mendorong tingginya permintaan atas aset "safe haven".
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa hari ini pasar akan fokus pada rapat darurat zona Euro yang akan membahas proposal Yunani untuk menentukan apakah dana talangan utang akan diberikan atau tidak.
"Negosiasi yang tanpa hasil bisa memberikan sentimen negatif untuk instrumen-instrumen beresiko karena tenggat waktu perpanjangan bailout hampir berakhir dan Yunani terancam tidak bisa membayar kewajibannya," katanya.
Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar juga menanti rilis data penjualan rumah kedua di Amerika Serikat untuk bulan Mei 2015, data itu diproyeksi lebih bagus dari data bulan sebelumnya. Hasil yang melebihi prediksi bisa mendorong kembali penguatan mata uang dolar AS.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Perum LKBN ANTARA perkuat peran sebagai "gateway" Indonesia ke Asia dan dunia
15 September 2026 11:14 WIB
Korban selamat kecelakaan laut KMP Virgo dirawat sejumlah RS di Banjarmasin
15 September 2026 10:46 WIB
Basarnas mencari 129 korban KM Virgo hingga 2.600 mil laut dari titik koordinat
14 September 2026 14:40 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Sedekah Sampah Memotivasi Masyarakat lebih Mencintai Lingkungan dan Beramal
12 February 2017 14:35 WIB, 2017
Emil: Subuh Waktu Optimal Sampikan Pesan, Karena Otak Manusia belum Termanipulasi Hal Negatif
12 February 2017 14:29 WIB, 2017
Ketinggian Air Bendung Katulampa Naik Namun Masih Siaga Tiga Banjir
12 February 2017 14:06 WIB, 2017
Istiqlal Tak Mampu Tampung, Lautan Massa 112 Meluap ke Lapangan Banteng
11 February 2017 12:30 WIB, 2017