Festival Gunung Slamet Digelar
Kamis, 4 Juni 2015 15:02 WIB
Ilustrasi - Warga melakukan arak-arakan dengan memainkan musik "tek-tek Banyumas" . FOTO ANTARA/Idhad Zakaria/pd/12
Sebelum prosesi pengambilan air dimulai, sekitar 40 warga yang mengenakan pakaian adat Banyumasan tampak berkumpul di halaman masjid Dusun Kaliurip, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Kamis pagi.
Dalam hal ini, kaum wanita mengenakan kain warna hijau sedangkan pakaiannya serba hitam dan memakai ikat kepala.
Beberapa wanita tampak membawa sesaji sedangkan kaum pria membawa "lodong" (gelondongan bambu sepanjang 2 meter dengan ujung dibuat runcing dan digunakan sebagai tempat air, red.) dan "kokok" ('lodong' berukuran kecil, red.).
Selanjutnya mereka berjalan menuju teras masjid dan berkumpul di tempat itu dengan iringan selawat berlanggam Jawa dan musik rebana.
Salah seorang yang menjadi pimpinan rombongan tampak meminta izin kepada sesepuh masyarakat agar mereka bisa mengambil air dari Tuk Si Kopyah demi kesejahteraan petani.
Setelah mendapatkan izin, mereka selanjutnya berjalan menuju Tuk Si Kopyah yang berjarak sekitar 2 kilometer dengan menyusuri lereng Gunung Slamet.
Sesampainya di Tuk Si Kopyah, sesepuh masyarakat memimpin doa yang dilanjutkan dengan pengambilan air untuk dimasukkan ke dalam "lodong" dan "kokok".
Usai pengambilan air, sesepuh masyarakat kembali membacakan doa sebelum rombongan berjalan menuju Balai Desa Serang untuk menyemayamkan "lodong" dan "kokok" berisi air yang nantinya akan dibagikan pada hari terakhir FGS 2015, Sabtu (6/6).
Dalam hal ini, kaum wanita mengenakan kain warna hijau sedangkan pakaiannya serba hitam dan memakai ikat kepala.
Beberapa wanita tampak membawa sesaji sedangkan kaum pria membawa "lodong" (gelondongan bambu sepanjang 2 meter dengan ujung dibuat runcing dan digunakan sebagai tempat air, red.) dan "kokok" ('lodong' berukuran kecil, red.).
Selanjutnya mereka berjalan menuju teras masjid dan berkumpul di tempat itu dengan iringan selawat berlanggam Jawa dan musik rebana.
Salah seorang yang menjadi pimpinan rombongan tampak meminta izin kepada sesepuh masyarakat agar mereka bisa mengambil air dari Tuk Si Kopyah demi kesejahteraan petani.
Setelah mendapatkan izin, mereka selanjutnya berjalan menuju Tuk Si Kopyah yang berjarak sekitar 2 kilometer dengan menyusuri lereng Gunung Slamet.
Sesampainya di Tuk Si Kopyah, sesepuh masyarakat memimpin doa yang dilanjutkan dengan pengambilan air untuk dimasukkan ke dalam "lodong" dan "kokok".
Usai pengambilan air, sesepuh masyarakat kembali membacakan doa sebelum rombongan berjalan menuju Balai Desa Serang untuk menyemayamkan "lodong" dan "kokok" berisi air yang nantinya akan dibagikan pada hari terakhir FGS 2015, Sabtu (6/6).
Pewarta : Sumarwoto
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Fanny Soegi hingga Ndarboy sukses hibur warga Boyolali pada perhelatan Keroncong Svaranusa 2026
06 September 2026 13:26 WIB
Tegal Night Carnival 2026 ramaikan peringatan HUT ke- 81 Republik Indonesia
23 August 2026 22:33 WIB
Film mengenai perjuangan hidup produksi Denny Sumargo siap menyapa penonton 3 September
17 August 2026 20:39 WIB
Pemkot Surakarta sebut pelestarian seni budaya perkuat nilai toleransi dan keberagaman
01 August 2026 21:16 WIB
Terpopuler - Alfamart
Lihat Juga
Perayaan Tahun Baru, Pengunjung Objek Wisata Tawangmangu Pesta Kembang Api
01 January 2017 8:32 WIB, 2017
Sambut Tahun Baru, Boyolali Gelar Pertunjukan di 22 Titik Termasuk Godbless
29 December 2016 13:55 WIB, 2016