Sebelum prosesi pengambilan air dimulai, sekitar 40 warga yang mengenakan pakaian adat Banyumasan tampak berkumpul di halaman masjid Dusun Kaliurip, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Kamis pagi.

Dalam hal ini, kaum wanita mengenakan kain warna hijau sedangkan pakaiannya serba hitam dan memakai ikat kepala.

Beberapa wanita tampak membawa sesaji sedangkan kaum pria membawa "lodong" (gelondongan bambu sepanjang 2 meter dengan ujung dibuat runcing dan digunakan sebagai tempat air, red.) dan "kokok" ('lodong' berukuran kecil, red.).

Selanjutnya mereka berjalan menuju teras masjid dan berkumpul di tempat itu dengan iringan selawat berlanggam Jawa dan musik rebana.

Salah seorang yang menjadi pimpinan rombongan tampak meminta izin kepada sesepuh masyarakat agar mereka bisa mengambil air dari Tuk Si Kopyah demi kesejahteraan petani.

Setelah mendapatkan izin, mereka selanjutnya berjalan menuju Tuk Si Kopyah yang berjarak sekitar 2 kilometer dengan menyusuri lereng Gunung Slamet.

Sesampainya di Tuk Si Kopyah, sesepuh masyarakat memimpin doa yang dilanjutkan dengan pengambilan air untuk dimasukkan ke dalam "lodong" dan "kokok".

Usai pengambilan air, sesepuh masyarakat kembali membacakan doa sebelum rombongan berjalan menuju Balai Desa Serang untuk menyemayamkan "lodong" dan "kokok" berisi air yang nantinya akan dibagikan pada hari terakhir FGS 2015, Sabtu (6/6).