"Berdasarkan dari pemantauan kami, itu (status Gunung Slamet, red.) masih di Level II karena 'early warning' kami dari Level I, II, III, dan IV itu dasarnya adalah ancaman," kata Kepala PVMBG Muhammad Hendrasto di Banjarnegara, Kamis.
Hendrasto mengatakan hal itu kepada wartawan usai peresmian Menara Peringatan Dini Kawah Timbang oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Ma'arif di Dusun Simbar, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Banjarnegara.
Dalam hal ini, kata dia, peringatan dini (early warning) tersebut diukur dari berapa jauh atau radius ancaman bahaya erupsi gunung api.
"Selama ini, ancamannya sampai 2 kilometer, enggak lebih dari 2 kilometer. Jadi, status (Gunung Slamet) tetap 'Waspada'," katanya.
Akan tetapi jika seismik Gunung Slamet bertambah dan ancamannya diprediksi bakal meluas, kata dia, pihaknya akan meningkatkan lagi status gunung tertinggi di Jawa Tengah itu.
"Sampai sekarang belum. Jadi, kita melihat jumlah gempanya, masih di Level II (Waspada)," tegasnya.
Disinggung mengenai kemungkinan adanya lontaran api dari Gunung Slamet yang terpantau oleh PVMBG, Hendrasto mengatakan bahwa secara visual pihaknya belum melihat kondisi tersebut.
Akan tetapi jika ada suara-suara embusan dari Gunung Slamet, dia mengatakan bahwa hal itu kemungkinan bisa terdengar karena hingga sekarang gunung tersebut belum normal.
Informasi yang dihimpun, warga sekitar lereng Gunung Slamet sebelah selatan (masuk wilayah Banyumas, red.) sempat mendengar suara embusan dari gunung itu dalam beberapa pekan terakhir.
"Beberapa hari lalu, kami sempat dikejutkan dengan suara 'ngowos' (embusan, red.) dari Gunung Slamet. Bahkan, beberapa warga ada yang melihat jilatan api di puncak Slamet," kata salah seorang warga Banyumas, Yanto.
Gunung Slamet yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, kembali mengalami peningkatan aktivitas setelah lima tahun "tertidur" sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status gunung tertinggi di Jateng itu menjadi "Waspada" pada tanggal 10 Maret 2014, pukul 21.00 WIB.
Oleh karena aktivitasnya cenderung meningkat, PVMBG pada tanggal 30 April 2014, pukul 10.00 WIB, menaikkan status Gunung Slamet menjadi "Siaga".
Setelah 12 hari berstatus "Siaga" dan aktivitasnya cenderung turun, PVMBG pada tanggal 12 Mei 2014, pukul 16.00 WIB, menurunkan status Gunung Slamet menjadi "Waspada".
Akan tetapi sejak tanggal 12 Agustus 2014, pukul 10.00 WIB, status Gunung Slamet kembali dinaikkan menjadi "Siaga" karena aktivitasnya cenderung meningkat.
Setelah menunjukkan penurunan aktivitas cukup lama, PVMBG pada tanggal 5 Januari 2015, pukul 16.00 WIB, menurunkan status Gunung Slamet dari "Siaga" menjadi "Waspada". ***4***
PVMBG: Gunung Slamet Berstatus Waspada
Kamis, 12 Februari 2015 19:18 WIB
Gunung Slamet
Pewarta : Sumarwoto
Editor : hernawan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Giring: Pemerintah berencana bantu revitalisasi Museum Kretek dan Patiayam Kudus
26 September 2026 20:36 WIB
IDSurvey luncurkan Desa Binaan Nglarangan di Temanggung untuk dorong kemandirian warga
26 September 2026 19:13 WIB
Terpopuler - Bencana Alam
Lihat Juga
BPBD: Dampak kekeringan akibat kemarau panjang di Cilacap meluas hingga 76 desa
19 September 2026 14:27 WIB
Pati mulai kaji peningkatan status kekeringan untuk optimalkan penanganan
09 September 2026 15:44 WIB
PMI Cilacap salurkan bantuan tandon air untuk warga terdampak kekeringan
08 September 2026 16:29 WIB
BPBD Cilacap perkuat distribusi air bersih bagi warga terdampak kekeringan
08 September 2026 14:10 WIB