Program Berbagi Listrik jangkau enam daerah di Nusa Tenggara

id Akses listrik,baznas,PT Solar Indonesia Energi,program berbagi listrik,desa tertinggal

Rangkaian panel surya terpasang untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun PT PLN (Persero) Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur di Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur. ANTARA/HO-PT PLN (Persero) Wilayah Provinsi NTT)

Jakarta (ANTARA) - Program Berbagi Listrik telah menjangkau enam lokasi yang tersebar di provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur untuk memberikan akses listrik kepada masyarakat, kata Direktur PT Solar Indonesia Energi Irvan Hermala.

 "Berbagi listrik ini sebuah gerakan intinya kita mengajak berbagai 'stakeholder' (pemangku kepentingan) untuk bekerja sama mewujudkan program clean and affordable energy, khususnya di desa tertinggal," kata Irvan yang juga dosen di Universitas Mercu Buana  usai Focus Group Discussion "Clean and Affordable Energy" (Energi bersih dan terjangkau) di Jakarta, Kamis.

Ke depan, program itu direncanakan akan menjangkau tujuh daerah sasaran di antaranya Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tengah.

Dalam menjalankan program tersebut, berbagai pihak dilibatkan seperti lembaga pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat, Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh, tanggung jawab sosial perusahaan, serta lembaga-lembaga donor lainnya baik dari dalam maupun luar negeri.

Saat ini ada tiga donatur institusi dan 258 donatur individu yang telah mendukung program-program Berbagi Listrik, dan total nilai dana yang terkumpul hingga sekarang sebesar Rp1,08 miliar.

Berbagi Listrik merupakan sebuah socio-enterprise yang didirikan oleh Irvan Hermala, Zaid R Hanan, dan Agus Ismail, yang merupakan alumni dari program beasiswa LPDP dari dalam dan luar negeri.

Start-up itu didirikan atas dasar keprihatinan terhadap daerah-daerah tertinggal di Indonesia yang masih kurang mendapatkan akses energi listrik, di mana listrik merupakan sumber daya sentral dalam menggerakkan roda perekonomian suatu daerah.

Menurut Kepala Program Zakat Community Development Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Anang Fahmi, lembaga filantropi berperan strategis dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) untuk memastikan akses energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua.

Baznas telah membangun desa energi ramah lingkungan dengan United Nations Development Programme (UNDP) di Jambi. Baznas, UNDP dan Bank Jambi membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro dengan kapasitas 60 KWH. Jumlah bangunan yang dialiri sebanyak 36 rumah termasuk dua sekolah, tiga musola, tiga masjid dan satu kantor desa.

"Baznas sangat 'concern' terhadap zakat untuk pencapaian SDGs sehingga Baznas sudah mencanangkan untuk desa energi ramah lingkungan ini bersama UNDP di Lubuk Bangkar kecamatan di Jambi," ujarnya.

Dia mengatakan pada 2019, akan diluncurkan eko wisata di desa itu untuk menunjukkan bahwa kehadiran listrik yang sudah 72 tahun dirindukan masyarakat setempat dapat mengembangkan perekonomian desa sekaligus melestarikan lingkungan hidup.

 
Baca juga: Dana desa bisa digunakan untuk membangun pembangkit listrik
Baca juga: Kopetindo harap akses listrik tumbuhkan kegiatan produktif di daerah


 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar