BMKG: Potensi kekeringan di NTT semakin meluas

id kekeringan di ntt bmkg,kekeringan,musim kemarau,air bersih,dampak kekeringan

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Kupang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kupang mencatat, potensi kekeringan yang melanda wilayah-wilayah di provinsi berbasis kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai meluas.

"Wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan di NTT saat ini meluas dari sebelumnya 13 wilayah menjadi 32 wilayah, yang tersebar di sembilan kabupaten" kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru kepada Antara, Selasa, terkait potensi kekeringan di NTT.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, ada 13 wilayah yang tersebar di enam kabupaten yang berpotensi mengalami kekeringan.

"Jadi wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem bertambah dan jumlah kabupaten juga bertambah dari enam menjadi sembilan kabupaten," katanya.

Berdasarkan monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) dasarian I Juli 2019, Provinsi NTT, pada umumnya mengalami hari tanpa hujan dengan kategori panjang (21-30 hari) hingga kategori kekeringan ekstrem (>60 hari).

Wilayah-wilayah yang masuk kategori kekeringan ekstrem itu adalah sekitar Danga di Kabupaten Nagekeo, sekitar Nanganio di Kabupaten Ende.

Wilayah sekitar Magepanda dan Waigate di Kabupaten Sikka, sekitar Konga di Kabupaten Flores Timur, sekitar Lewoleba, Wairiang, Waipukang dan Wulandoni di Kabupaten Lembata.

Wilayah lain adalah sekitar Melolo, Temu/Kanatang, Lambanapu, Rambangaru, dan Kamanggih di Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sabu Raijua di wilayah sekitar Daieko, Kabupaten Rote Ndao di sekitar wilayah Papela dan Busalangga.

Wilayah sekitar Stamet El Tari, Sikumana, Bakunase, Oepoi dan Mapoli) di Kota Kupang, wilayah sektar Oekabiti, Lelogama, Oenesu, Oelnasi dan Sulamu di Kabupaten Kupang, serta sekitar Atambua, Fatubenao, Fatukmetan, Wedomu dan Haekesak di Kabupaten Belu.

Menurut Apolinaris, hari tanpa hujan terpanjang dialami wilayah Rambangaru, Kabupaten Sumba Timur (116 hari), Wairiang, Kabupaten Lembata (105 hari), dan Oepoi, Kota Kupang (100 hari). 

Baca juga: Presiden minta atasi kekeringan, Kemendagri anggarkan APBD
Baca juga: Kekeringan melanda tujuh provinsi di Indonesia, sebut BNPB
Baca juga: BNPB siapkan hujan buatan untuk atasi kekeringan


 

Pewarta : Bernadus Tokan
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar