Misi konservasi air di Yogyakarta

id konservasi air, musim kemarau, yogyakarta

Warga mengambil air bantuan di Dusun Papringan, Desa Tileng, Girisubo, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (25/6/2019). Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, musim kemarau telah menyebabkan 21.519 kepala keluarga terdampak kekeringan di 10 kecamatan se-Kabupaten Gunungkidul dan mengalami krisis air sehingga butuh bantuan air bersih. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/foc.

Yogyakarta (ANTARA) - Posisi Kota Yogyakarta yang diuntungkan secara topografi karena memiliki wilayah yang tidak luas, berada di dataran rendah, dan diapit tiga sungai besar menyebabkan Yogyakarta hampir tidak pernah mengalami kekeringan selama musim kemarau.

“Sampai sekarang, belum ada laporan resmi atau keluhan dari warga yang mengalami kesulitan air bersih,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana di Yogyakarta, Minggu.

Menurut Suyana, Kota Yogyakarta hampir tidak pernah mengalami masalah kekeringan atau kesulitan air bersih selama musim kemarau meskipun terkadang di beberapa wilayah tertentu terjadi penurunan muka air sumur saat puncak musim kemarau.

“Saat ini baru awal musim kemarau. Mungkin puncaknya baru akan terjadi pada Agustus atau September. Jika terjadi penurunan, biasanya penurunan muka air sumur tidak signifikan sehingga tidak mengganggu kebutuhan warga untuk air bersih,” katanya.

Meskipun hampir tidak pernah merasakan kesulitan memperoleh air bersih selama musim kemarau panjang, namun warga Kota Yogyakarta tidak boleh menjadikan keuntungan topografi wilayah tersebut sebagai alasan untuk tidak melakukan upaya apapun karena merasa air bersih akan selalu tersedia dalam jumlah cukup dan dengan kualitas yang baik.

Suyana menyebut, upaya untuk menjaga ketersediaan dan kualitas air tanah dilakukan dengan berbagai cara yang bisa dikerjakan secara mudah oleh masyarakat, di antaranya pembuatan biopori, memanen air hujan hingga membuat sumur peresapan air hujan.

Biopori yang dibuat di Kota Yogyakarta pada awalnya dibuat dengan ukuran standar, namun dalam beberapa waktu terakhir mulai dibuat dengan ukuran lebih besar yang kemudian dikenal dengan nama biopori jumbo.

Salah satu kecamatan di Kota Yogyakarta yang memperkenalkan konsep biopori jumbo adalah Kecamatan Tegalrejo. Jika ukuran biopori pada umumnya berdiameter 10 centimeter, maka biopori jumbo memiliki diameter 30 centimeter.

Pengembangan biopori jumbo tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen Kecamatan Tegalrejo sebagai daerah konservasi air di Kota Yogyakarta. Harapannya, tidak ada lagi air hujan yang terbuang dan menyebabkan banjir di wilayah lain tetapi air tersebut meresap ke tanah.

Lubang biopori yang sudah tergali kemudian ditutup dengan ember yang terlebih dulu sudah diberi lubang agar sampah organik bisa masuk.

Selain biopori, pembuatan sumur peresapan air hujan (SPAH) juga terus digalakkan. Bahkan saluran air hujan yang ada di Kota Yogyakarta juga dilengkapi dengan sumur peresapan air hujan. Setiap jarak tertentu, sekitar 30 meter, dibuat sumur resapan agar kapasitas saluran meningkat dan air tidak hanya mengalir tetapi juga meresap ke dalam tanah.

“Upaya yang dilakukan saat ini adalah memperbanyak gerakan konservasi air. Saat musim hujan, dimanfaatkan untuk memanen air hujan sehingga saat musim kemarau masih ada cadangan air tanah yang bisa dimanfaatkan. Ibaratnya membangun lumbung air,” katanya.

Pembangunan SPAH tidak hanya dilakukan di lingkungan permukiman tetapi juga dilakukan di sekolah dan diharapkan seluruh sekolah di Kota Yogyakarta memiliki fasilitas tersebut. Pada tahun ini, DLH Kota Yogyakarta mengalokasikan anggaran pembangunan 50 unit SPAH di sekolah yang akan dimulai semester dua.

Pembangunan SPAH dilakukan sesuai permintaan institusi pendidikan yang sudah diajukan ke DLH. Jumlah SPAH yang dibangun di tiap sekolah berbeda-beda, disesuaikan dengan luas sekolah. Namun, biasanya dibangun dua hingga lima unit. SPAH dibangun dengan spesifikasi kedalaman sekitar 2,5 meter dengan diameter 80 centimeter.

Sampai saat ini, diperkirakan 70 persen sekolah di Kota Yogyakarta dilengkapi dengan SPAH. Sekolah memiliki kewajiban memelihara SPAH, di antaranya dengan melakukan pembersihan secara rutin karena biasanya banyak endapan pasir.

Selain melakukan gerakan konservasi air secara mandiri, masyarakat juga bisa memperoleh air bersih dari hotel yang ada di wilayahnya jika hotel atau usaha tersebut memanfaatkan air tanah dalam dari sumur dalam yang dimiliki. Sumur dalam biasanya memiliki kedalaman lebih dari 70 meter.

“Masyarakat di sekitar tempat usaha bisa memperoleh pembagian 15 persen dari air sumur dalam yang dikonsumsi hotel atau tempat usaha. Aturan ini masih banyak yang belum tahu. Ini seperti pelaksanaan ‘corporate social responsibility’ (CSR),” katanya.

Ketersediaan air tanah yang cukup banyak di Kota Yogyakarta juga dimanfaatkan oleh sejumlah warga dengan membentuk kelompok pemakai air. Tidak jarang, kelompok tersebut juga memproduksi air siap minum.

Sedangkan untuk ketersediaan air dalam, Suyana memastikan, kondisi di Kota Yogyakarta pun cukup baik. DLH memiliki tiga sumur pantau yang terletak di Giwangan untuk memantau kondisi air dalam di Yogyakarta bagian timur, di STM Jetis untuk memantau kondisi di bagian utara dan di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy) untuk memantau di bagian barat.

“Kami juga akan menambah satu sumur pantau di kantor DLH bersamaan dengan proyek revitalisasi kantor. Sampai saat ini, tidak ada perubahan kedalaman air di tiga sumur pantau itu,” katanya.

Kualitas air

Meskipun kuantitas air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tersedia dalam jumlah cukup, namun Suyana menyebut warga perlu memastikan kualitas air yang dikonsumsi dalam kondisi yang layak karena sebagian besar warga memanfaatkan sumur dangkal.

Sumur dangkal biasanya memiliki kedalaman sekitar 15 meter dan sumber airnya adalah adalah air permukaan. Oleh karena itu, masyarakat diminta melakukan pengecekan secara berkala ke laboratorium karena dimungkinkan terjadi pencemaran bakteri e-coli akibat padatnya permukiman di Kota Yogyakarta.

“Biasanya, warga tidak hanya memanfaatkan air sumur dangkal itu untuk mencuci atau mandi tetapi juga dikonsumsi sebagai air minum. Akan lebih baik jika kualitas airnya diperiksa secara berkala ke laboratorium untuk memastikan air tersebut sehat dan tidak tercemar,” katanya.

Sedangkan selama musim kemarau, warga juga diimbau untuk tetap hemat air yaitu menggunakan air sesuai kebutuhan. “Misalnya mengganti bak mandi menjadi ‘shower’. Selain hemat air, juga meningkatkan kualitas kesehatan karena bak tidak digunakan untuk tempat berkembang biak nyamuk,” katanya.

Selain itu, masyarakat juga bisa melakukan daur air secara sederhana yaitu memanfaatkan air yang sudah dipakai untuk kebutuhan lain seperti menyiram tanaman dari air sisa air wudhu.

Upaya daur air juga sudah dilakukan oleh salah satu tempat wisata edukasi di Kota Yogyakarta, Taman Pintar dengan mendaur ulang air wudhu yang digunakan jemaah Masjid Izul Ilmu yang berada di kompleks tempat wisata tersebut.

Air wudhu yang sudah digunakan akan ditampung kembali kemudian disaring dan diolah sehingga menjadi air bersih yang bisa dimanfaatkan kembali oleh pengunjung.

Taman Pintar rata-rata membutuhkan sekitar 6.000 liter air per hari bahkan bisa meningkat saat libur panjang karena jumlah pengunjung juga bertambah. Dengan daur air, diharapkan kebutuhan air bersih bisa ditekan sebagai salah satu upaya konservasi air.

Baca juga: BMKG: sejumlah wilayah di DIY berstatus Awas potensi kekeringan

Baca juga: BMKG sebut Yogyakarta masuki awal musim kemarau


 


Pewarta : Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar