Perbedaan tekanan udara Australia-NTT picu angin kencang

id bmkg angin kencang

Forcaster dari BMKG Stasiun El Tari Kupang, Wisnu Wardhana. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Kupang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, perbedaan tekanan udara yang cukup siginifikan antara Australia dengan Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menjadi pemicu terjadi angin kencang di wilayah itu.

Selain karena posisi matahari sekarang di belahan bumi utara (BBU), yang berarti tekanan di utara akan lebih rendah dibandingkan tekanan di belahan bumi selatan (BBS) sehingga angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah, kata Forcaster dari BMKG Stasiun El Tari Kupang, Wisnu Wardhana di Kupang, Minggu.

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan faktor yang menjadi pemicu terjadinya angin kencang di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa hari terakhir ini.

"Berdasarkan pola streamline yang ada, perbedaan tekanan udara antara Australia (1024 mb) dan NTT (1012 mb) cukup signifikan, hal inilah yang menyebabkan angin terasa kencang di NTT," katanya.

Menurut dia, saat ini kecepatan angin maksimum yang terukur di tempat kantor BMKG berkisar 18-22 knot.

Kondisi ini menurut dia, telah berdampak pula terhadap peningkatan tinggi gelombang yang terjadi di hampir seluruh wilayah perairan laut Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gelombang setinggi 2.0 meter berpotensi terjadi di wilayah perairan laut Sawu, perairan Selatan Pulau Sumba, Laut Timor Selatan NTT dan Samudera Hindia Selatan NTT.

Serta gelombang setinggi 2,5-3.0 meter berpotensi terjadi di perairan laut selatan Pulau Sumba dan Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga tiga hari ke depan, kata Wisnu Wardhana menambahkan. 

Baca juga: BMKG peringatkan cuaca ekstrem akibat tekanan rendah di Laut Sawu
Baca juga: BPBD NTT imbau masyarakat waspadai cuaca ekstrem
Baca juga: BMKG: waspadai gelombang hingga tujuh meter di perairan NTT

 

Pewarta : Bernadus Tokan
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar