Palembang (ANTARA) - Cakupan program restorasi gambut di Sumatera Selatan (Sumsel) yang semula 168.000 hektare ditambah 40.000 hektare lagi berdasarkan data penambahan area yang rusak setelah kejadian kebakaran hutan dan pada 2015.

"Awalnya lahan gambut yang direstorasi seluas 168.000 hektare, namun ditambah berdasarkan sejumlah pertimbangan," kata Deputi I Badan Restorasi Gambut (BRG) Budi S Wardhana di Palembang, Kamis, saat rapat koordinasi dan sosialisasi rencana restorasi ekosistem gambut (RREG) 2018-2023.

Cakupan program restorasi gambut ditambah karena masih ada lahan gambut yang terbakar, pembukaan lahan di wilayah gambut utuh, serta perubahan data peta gambut sepanjang 2016-2017.

Budi mengatakan restorasi gambut pada lahan tambahan ditargetkan rampung akhir 2020.

Ia menjelaskan penambahan cakupan areal restorasi gambut tidak hanya dilakukan di Sumsel, melainkan di enam provinsi lain yang masuk dalam program restorasi gambut.

Dengan adanya penambahan cakupan program dengan luas total 200.000 hektare, total gambut yang direstorasi di tujuh provinsi menjadi seluas 2,67 juta hektare dari sebelumnya 2,42 juta hektare.

Menurut Budi, pemantauan kondisi gambut tergolong sulit karena lahan gambut biasanya berada di daerah terpencil sementara personel dan peralatan pendukung patroli masih terbatas.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim Najib Asmani mengatakan kerusakan lahan gambut yang paling banyak terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

"Kondisi gambut yang parah ada di OKI karena memang lahan gambut yang paling banyak dikelola ada di sana sekitar 700.000 hektare," ujar dia.

Najib memaparkan ekosistem gambut Sumsel tercatat seluas 1,2 juta hektare yang tersebar di sejumlah daerah, termasuk OKI, Kabupaten Ogan Ilir, Banyuasin, Muara Enim, Musi Banyuasin, Musi Rawas dan Pali.

Baca juga:
Lapan dan Badan Restorasi Gambut lakukan inventarisasi kondisi gambut

BRG mulai supervisi restorasi gambut 16 perusahaan
 

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2019