Pemerintah target bangun 500 sekolah vokasi

id Target 500 sekolah vokasi,Menperin RI,Menristekdikti RI,Kabupaten Bekasi,Groundbreaking Polman Astra

(Berurutan dari kiri) Menristekdikti, Mohamad Nasir berbincang dengan Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto dan Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto usai peletakan batu pertama pembangunan Politeknik Manufaktur Astra di Kawasan Industri Delta Silicon, Cikarang Selatan, kemarin. (Foto: Pradita Kurniawan Syah).

Cikarang, Bekasi (ANTARA) -

Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto mengemukakan Pemerintah menargetkan membangun 500 lembaga pendidikan atau sekolah vokasi baru hingga tahun 2024.

Langkah itu diyakini mampu meningkatkan sumber daya manusia yang berpengaruh langsung pada perekonomian negara, kata Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto, di Cikarang, Jumat (10/5).

Ia mengatakan, program tersebut telah dibahas dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Rencananya, program pembangunan itu akan dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

"Baru kemarin disampaikan pada Musrenbang dan Bapak Presiden mendukung itu, sehingga sampai 2024 nanti kita punya lulusan vokasi yang mencukupi. Karena pada RPJMN ke depan kan fokusnya pada pengembangan sumber daya manusia," kata Airlangga saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Politeknik Manufaktur Astra di Kawasan Industri Delta Silicon, Cikarang Selatan.

Airlangga melanjutkan, target pembangunan pendidikan vokasi akan didirikan di setiap tingkatan, mulai dari sekolah menengah kejuruan hingga perguruan tinggi berbasis industri. Target pembangunan ini pun tidak hanya didirikan oleh pemerintah, namun juga pelaku industri.

"Jadi bukan hanya pemerintah, namun pelaku industri kami dorong untuk membuka sekolah atau politeknik. Mereka mampu dan minat mereka pun tinggi membuka pendidikan vokasi karena mereka butuh sumber daya manusia. Kementerian Perindustrian sendiri baru membuka empat politeknik vokasi baru, namun sesuai keinginan Pak Presiden, pendidikan vokasi ini harus dibangun masif," ucapnya.

Untuk mendorong industri membuka pendidikan vokasi, pemerintah akan memberikan kemudahan perizinan. Bahkan, pajak yang dibebankan pun akan dipangkas untuk memudahkan pendidikan vokasi segera beroperasi.

Di lokasi yang sama, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, pembangunan masif pendidikan vokasi ini akan dibarengi dengan perubahan kurikulum. Berdasarkan hasil riset, pendidikan vokasi akan fokus pada praktik langsung di industri. Untuk itu, kerja sama dengan industri menjadi penting.

"Jadi mengapa harus ada kerja sama dengan industri karena sesuai dengan kurikulum yang baru, mereka hanya maksimal 30 persen untuk teori dan sisanya praktik. Praktik ini tidak di sekolah tapi di industri itu sendiri. Makanya dari 500 sekolah baru ini, kami mendorong dunia industri yang turut membangun ini," kata dia.

Nasir pun mendorong pendidikan vokasi nantinya tidak hanya mencetak lulusan siap kerja, namun juga tenaga pengajar. Meski pendidikan vokasi dibangun masif, namun tenaga pengajar masih kurang.

"Makanya saya turut mendorong jangan hanya mencetak pegawai, tapi juga mencetak guru, tepatnya guru-guru SMK. Pemerintah bekerja sama dengan industri, ada dari akademik ada juga dari kaum industri sehingga nantinya para guru ini menyandang gelar sarjana terapan. Ini tentu baik," ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto mengatakan, Polman Astra Cikarang merupakan perguruan tinggi vokasi pertama di Kabupaten Bekasi. Tidak hanya fokus pada program studi, Polman Astra akan mengembangkan sertifikasi kompetensi, seperti sertifikasi Jerman meister di bidang otomotif.

"Sertifikasi meister di Polman Astra ini menjadi yang pertama di Asia. Jadi memang kami sangat serius pada pengembangan vokasi ini. Sejak pembelajaran, mereka belajar di industri Astra serta sekitar 60 persen lulusannya diserap Astra," kata Prijono.(*).

Pewarta : Pradita Kurniawan Syah
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar