Peran disabilitas Relawan Demokrasi di perbatasan RI-Filipina

id merayakan demokrasi indonesia,pemilu di perbatasan,pemilu di talaud

Pemberian Manumbalang usai menumpang perahu motor menuju Pulau Kabaruan untuk bersosialisasi di Pulau Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Sabtu (30/3/2019). Pemberian atau Pembe, merupakan salah satu penyandang disabilitas yang bekerja sebagai Relawan Demokrasi yang membantu KPU untuk menyosialisasikan proses dan tahapan Pemilu ke masyarakat umum. ANTARA/Adwit B Pramono. (ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONO)

Manado (ANTARA) - Bagi Pemberian Manumbalang (39), menyandang disabilitas bukan berarti merupakan penghalang untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara Republik Indonesia. Dengan keterbatasan itu, ia bertekad untuk bisa berpartisipasi, terutama dalam menghadapi Pemilu 17 April 2019, dengan menjadi Relawan Demokrasi di Kabupaten Kepulauan Talaud.

Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan salah satu dari 15 kota dan kabupaten yang berada di Sulawesi Utara dan terletak di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina.

Sebagai seorang Relawan Demokrasi, Pemberian Manumbalang harus turun ke desa-desa dan menemui masyarakat untuk menyosialisasikan Pemilu 2019 dan segala tahapannya.

Pemberian Manumbalang mengatakan para Relawan Demokrasi di Talaud telah turun ke lapangan di kecamatan-kecamatan, desa-desa maupun kelurahan dalam melaksanakan sosialisasi sehingga diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang tidak mengerti mengenai pemilu tahun ini.

Selama ini kerja yang dilakukan para Relawan Demokrasi tidak menemui kendala yang berarti.
"Kalaupun ada kendala, kami selalu berkonsultasi dengan KPU," kata Pemberian yang pernah mengecap pendidikan di Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Sastra Indonesia hingga semester 4 di Universitas Negeri Manado ini.

Menurut ayah dua anak tersebut, tugas dari Relawan Demokrasi tersebut untuk menyosialisasikan kepada masyarakat terkait pelaksanaan Pemilu 2019, seperti hari dan tanggal pemilihan, pentingnya pemilihan, partisipasi publik dalam pemilihan, seputar kertas suara, serta mengajak masyarakat untuk tidak golput.

"Artinya merangsang masyarakat untuk menganggap bahwa memilih itu sangat penting, karena di sana itu akan tercipta pemimpin-pemimpin yang nantinya menjadi memimpin bangsa," katanya.

Ia mengatakan respons masyarakat terhadap sosialisasi tersebut selama ini mendapat sambutan baik atau positip.

Walaupun sebelum-belumnya masyarakat agak terganggungu dengan opini beredar diluar, adanya hoax, bahwa pernah ada surat suara yang sudah tercoblos, tetapi setelah dijelaskan bahwa itu berita bohong, masyarakatpun memahaminya.

"Kepercayaan publik di Talaud sendiri untuk penyelenggara pemilu masih cukup tinggi," ujar Pemberian yang juga pernah mengecap pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial, hingga semester akhir, di Universitas Negeri Manado ini.

Ia mengatakan pada sosialisasi itu, mendapatkan berbagai masukkan dari masyarakat, dan masukkan itu dibuat rekomendasi untuk disampaikan kepada KPU setempat.

Sejumlah rekomendasi yang disampaikan, seperti aksesibilitas bagi setiap pemilih, termasuk untuk penyandang disabilitas.

Kemudahan fasilitas dan lokasi tempat pemungutan suara (TPS) merupakan hal yang sangat penting dan dibutuhkan oleh para penyandang disabilitas dalam menyalurkan hak pilih, seperti pintu TPS sebaiknya memiliki lebar 90 cm, karena ukuran kursi roda rata-rata 85 cm.
Dengan demikian, pengguna kursi roda dapat dapat memasuki bilik suara dan menyalurkan hak pilihnya dengan mudah. Maka, pembuatan pintu bilik dengan lebar 90 cm merupakan suatu hal yang dibutuhkan bagi penyandang disabilitas.

Meja pemilih sebaiknya jangan terlalu tinggi, supaya memudahkan para penyandang disabilitas dalam menyalurkan hak pilihnya.
Kemudian kotak suara, sebaiknya juga jangan di taruh diatas meja yang tinggi untuk memudahkan pengguna kursi roda maupun tuna daksa dalam memasukkan kertas suara ke dalam kotak suara.

"Serta jangan menempatkan TPS dekat dengan lokasi seperti parit, agar tidak menimbulkan risiko dan kesulitan bagi para penyandang disabilitas," katanya.

Ia menuturkan motivasi dirinya untuk menjadi Relawan Demokrasi, karena selama ini untuk masyarakat kaum disabilitas belum memiliki pemahaman tentang bagaimana pentingnya sebuah pemilu.

Ia menyadari bahwa untuk mendekati kaum disibalitas agar memiliki rasa empati dan tergerak hatinya menyukseskan pemilu, semestinya dari kaum disabilitas itu sendiri yang ikut menggerakkan.

"Sehingga saya memiliki ketertarikkan bahwa inilah pemilu kita, bagaimana kita harus berpartisipasi," katanya.

Ia menambahkan, keterbatasan tidak akan pernah menjadi halangan bagi kaum disabilitas untuk berkarya dan memberikan sumbangsih pada negara, sekalipun hanya menjadi Relawan Demokrasi.
Keterlibatan dirinya dalam menyukseskan pesta demokrasi bukan saja saat ini, yakni Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif 2019.

Sebelumnya, ayah dua anak tersebut sudah ikut terlibat dalam pesta demokrasi dengan ikut sebagai penyelenggara di tingkat kecamatan. "Saya pernah jadi Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pulutan, saat Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014," kata Pemberian yang mengaku memiliki istri juga penyandang disabilitas.

Sosialisasi di Rarange
 
Pemberian Manumbalang (tengah) berbincang bersama sejumlah anggota KPU di kantor KPU Kab. Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Kamis (28/3/2019). Pemberian atau Pembe, merupakan salah satu penyandang disabilitas yang bekerja sebagai Relawan Demokrasi yang membentu KPU untuk mensosialisasikan proses dan tahapan Pemilu ke masyarakat umum. ANTARA/Adwit B Pramono. (ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONO)


Salah satu lokasi yang dijadikan tempat sosialisasi dari Pemberian adalah di Desa Rarange, Kecamatan Kabaruan. Desa Rarange, berada di Pulau Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud. Untuk menuju ke Pulau Kabaruan, warga bisa menggunakan speedboat berkapasitas enam penumpang dengan tarif Rp50 ribu - Rp60 ribu per orang atau bisa disewa Rp500 ribu sampai Rp600 ribu bolak balik, dari Melonguane, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Talaud.

"Harga tersebut jika kondisi cuacanya 'teduh' atau kondisi cuaca baik. Kalau kurang bersahabat bisa berubah atau naik," kata Pemberian.

Saat menuju ke Kabaruan, penumpang bisa merasakan "mainan ombak" terhadap speedboat yang digunakan, selama sekitar satu jam hingga sampai di lokasi tujuan. Selama perjalanan, penumpang juga bisa melihat dari jauh dua pulau yang menjadi tempat wisata di Talaud, yaitu Pulau Sara Kecil dan Sara Besar serta Pulau Salibabu.

Di Rarange, selain bisa bertemu keluarga, Pemberian juga melakukan sosialisasi pemilu kepada masyarakat sekitar dengan mendatangi rumah warga. Sosialiasasi yang diberikan, menyangkut tentang tanggal pemilihan maupun kertas suara.

"Tanggal 17 April nanti, datang ke TPS untuk memilih," kata Pemberian kepada warga yang didatanginya.

Yus Tinungki, salah seorang warga, mengatakan merasa senang dengan sosialisasi pemilu yang disampaikan oleh Pemberian.

"Merasa senang dan nanti tanggl 17 April akan datang ke TPS untuk memilih," katanya.

55 Relawan Demokrasi

Antusiasme warga Talaud untuk menjadi Relawan Demokrasi cukup tiggi dengan banyak yang mendaftar mencapai sekitar 100 orang. Dari jumlah tersebut kemudian dilakukan seleksi sehingga terpilih 55 orang yang mejadi relawan.

Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Parmas KPU Talaud Andri L J Sumolang mengatakan puluhan Relawan Demokrasi tersebut terbagi dalam 11 basis. Basis tersebut antara lain basis disabilitas, pemilih pemula dan warga net. Para relawan tersebut kemudian gencar melaksanakan sosialisasi tentang pemilu kepada basis mereka.

"Tetapi jika pada saat pelaksanaan sosialisasi tersebut tidak ada komunitas tersebut, atau basis tersebut, para relawan bisa ke masyarakat sekitar. Seperti jika di tempat itu tidak ada disabilitas, bisa berbaur dengan masyarakat lainnya," katanya.

Tujuan keberadaan Relawan Demokrasi itu, lanjut Sumolang, untuk memberikan pemahaman, pengetahuan kepada masyarakat mengenai pemilu dan meningkatkan partisipasi pemilih.

Menurut Sumolang, kinerja Relawan Demokrasi sudah baik karena melaporkan secara kontinu kegiatan yang telah dilakukan.

"Secara prosentase sudah mencapai 90 persen, dan tugas mereka sampai minggu kedua Bulan April," katanya.

Terkait dengan keberadaan Pemberian Mangumbalang, Sumolang mengatakan, Pemberian ditempatkan di basis disabilitas.

"Dia telah melaksanakan tuagsnya dengan baik, dan melaporkan kegiatan sosialisasi yang dilakukan," katanya.

Pemberian merupakan salah satu ketua kelompok, dimana dalam setiap kelompok terdapat lima anggota.

"Pemberian merupakan ketua di kelompoknya, dan hanya dirinya yang disabilitas. Laporan tugas disampaikan secara kelompok maupun perorangan, dan selama ini telah berjalan dengan baik," katanya.

Kepala Divisi Informasi dan Data KPU Kabupaten Talaud Budirman mengatakan jumlah pemilih di daerah kepulauan tersebut pada Pemilu 2019 sesuai daftar pemilih tetap hasil perbaikan kedua sebanyak 69.814 orang.

"Dari jumlah ini terdapat sekitar 313 pemilih disabilitas," kata Budirman. 

Pewarta : Jorie M R Darondo dan Adwit B Pramono
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar