Penumpang MRT tidak keberatan tarifnya Rp8.500

id MRT

Masyarakat jakarta yang sedang mencoba program uji coba MRT dari tanggal 12-24 maret 2019, di MRT jurusan Lebak Bulus - Bundaran HI, Jakarta, Senin, 18/3. (Foto ANTARA/ Agus SI)

Jakarta (ANTARA) - Penumpang Moda Raya Terpadu (MRT) yang sedang melaksanakan uji coba sejak tanggal Selasa (12/3), sebagian besar tidak merasa keberatan dengan tarif ditetapkan di kisaran Rp8.500.

"Saya mau beralih dari motor ke MRT, selama harga tiketnya sesuai dan stasiun MRT ini dapat terhubung langsung dengan terminal busway, jadi kita tidak perlu bayar-bayar lagi," kata Anton, salah seorang masyarakat yang ikut dalam program uji coba MRT, Lebak Bulus, Jakarta, Senin.

Selain itu, Anton, juga mengatakan, MRT lebih cepat dari kereta biasa dan lebih menunjang untuk penyandang disabilitas.

Lelaki yang biasa berkendara menggunakan motor ini juga mengatakan, dia mau beralih dari motor selama biayanya memang sesuai.

Pendapat yang sama disampaikan, Ari penumpang uji coba hari ini yang berharap masyarakat lain bisa beralih dari kendaraan pribadi ke MRT.

"MRT merupakan salah satu kemajuan yang bagus (Well Progress) dari lima tahun pembangunan infrastuktur, menurut saya ini salah satu bentuk edukasi pemerintah untuk merubah pola pikir masyarakat tentang kendaraan umum," kata Ari.

Ari juga mengatakan, hari ini dia ingin mencoba naik MRT karena penasaran dan ingin membandingkan dengan MRT yang sudah ia coba di luar negeri.

"Saya penasaran saja ini coba, sekaligus membandingkan MRT yang ada di Indonesia dengan negara lain, karena kebetulan saya sudah pernah naik MRT yang ada di Jepang dan Singapura, karena Indonesia merupakan negara di Asia yang baru membangun MRT," ujar Ari.

Ari juga mengatakan MRT di Indonesia memiliki fasilitas yang baik, hanya saja perlu memberikan edukasi kepada masyarakat ikut menjaga fasilitas yang sudah disediakan.

Sedangkan penumpang lain, Raisa mengatakan MRT lebih nyaman dibandingkan dengan KRL.

"Lebih enak si naik MRT, jalannya lebih mulus, lebih nyaman, lebih dingin juga, udaranya juga lebih seger, saya kalau naik KRL suka pusing, udaranya sudah tidak seger lagi," kata Raisa.

Raisa juga mengatakan harapannya terkait dengan MRT, mudah-mudahan MRT bisa menjadi pilihan buat berkendara bagi masyarakat Jakarta, sehingga terhindar dari macet.

"Kalau jalanan lancar maka penggunaan bahan bakar bisa berkurang dan polusi udara di Jakarta juga bisa berkurang. Semoga bisa berguna buat masyarakat Jakarta," ujar pelajar di salah satu sekolah di Jakarta.

Sebelumnya menurut Direktur Utama MRT, William Sabandar mengatakan, nantinya MRT akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti gerai makanan, minuman, ATM, gerai aksesoris dan mini market.

Baca juga: MRT Jakarta siap beroperasi layani umum
Baca juga: MRT: dari uji publik, jaringan telekomunikasi hingga tarif


 

Pewarta : Ganet Dirgantara dan Agus Saeful Iman
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar