DPR undang pihak terkait bahas keberadaan lapangan tembak

id bambang soesatyo,penembakan salah sasaran

Polisi menunjukkan barang bukti pengungkapan kasus "peluru nyasar" ke gedung DPR di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (16/10/2018). Polda Metrojaya berhasil mengungkap kasus "peluru nyasar" ke gedung DPR pada hari Senin (15/10) lalu dan mengamankan dua tersangka berinisial I dan R serta menyita dua pucuk senjata api beserta pelurunya. ANTARA FOTO/Reno Esnir/ama

Jakarta (ANTARA News) - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR akan mengundang sejumlah pihak terkait pada pekan depan untuk mengkaji wacana pemindahan atau menambah sistem pengamananan di Lapangan Tembak Senayan.

Hal itu demi mencegah kembali terjadinya penembakan salah sasaran di kemudian hari.

"Pekan depan saya minta BURT undang Kepolisian, pengelola kawasan Gelora Bung Karno, Perbakin dan Menpora untuk mengkaji apakah lapangan tembak masih layak digunakan atau diputuskan dipindah atau tetap di sini tapi pengamanan diperketat. DPR juga disiapkan pengamanannya yang bisa cegah terjadinya peristiwa ini (penembakan salah sasaran) berulang lagi," kata Bambang di Lapangan Tembak, Jakarta, Jumat.

Pihaknya pun meminta Polri untuk mengevaluasi keamanan di Komplek DPR RI, Jakarta, demi menjaga keselamatan pihak-pihak yang beraktivitas di gedung tersebut.

"Saya meminta keamanan untuk mengaudit sistem keamanan di DPR," katanya.

Pasalnya menurut dia, Komplek DPR termasuk obyek vital negara yang harus dijamin keamanannya.

Sebelumnya, peluru diduga dari senjata api yang ditembakkan dari Lapangan Tembak Senayan menembus sejumlah ruangan di Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, pada Senin (15/10) sekitar pukul 14.40 WIB.

Polri sudah menetapkan dua tersangka atas kejadian itu, yakni Iman Aziz Wijayanto dan Reiki Meidi Yuwana yang merupakan ASN Kementerian Perhubungan.

Kedua ASN tersebut diketahui bukan anggota Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin).

Bila terbukti bersalah, keduanya akan dijerat dengan Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Baca juga: Dua tersangka kasus penembakan salah sasaran jalani 25 adegan rekonstruksi
Baca juga: Perbakin larang penggunaan senjata otomatis untuk olahraga


Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar