Subjektivitas dapat mempengaruhi individu percaya berita bohong

id hoax,personal bias,margaret farley

Perwakilan Kedubes AS Jakarta Alexia Branch, Moderator Arfi Bambani, Ignasius Hariyanto, Margaret Farley dan Aribowo Sasmito usai diskusi "Fake News: How to Know What to Believe" di @america Pacific Place Jakarta, Kamis (11/10/2018). (ANTARA News/Aria Cindyara)

Jakarta (ANTARA News) – Bias personal atau subjektifitas dapat mendorong seseorang untuk mempercayai, bahkan menyebarkan berita bohong atau hoaks.

Hal tersebut disampaikan oleh ahli jurnalistik Margaret Farley yang juga dosen di Fakultas Jurnalistik American University pada diskusi bertajuk "Fake News: How to Know What to Believe" di @america Pacific Place Jakarta, Kamis.

“Otak kita memiliki yang namanya bias konfirmasi (confirmation bias). Ketika kita menyukai atau mempercayai sesuatu, otak kita akan cenderung menolak informasi yang mengatakan bahwa hal itu tidak benar atau salah,” kata perempuan yang akrab disapa Maggie itu.

Sebagai penerima informasi, masyarakat juga harus menyadari adanya subjektifitas atau bias tersebut karena akan muncul kemampuan untuk membedakan berita bohong dengan fakta.

“Para pembuat hoaks sangat memahami cara otak kita bekerja. Secara alamiah, kita sering tertarik pada berita-berita yang membuat kita bereaksi, itulah mengapa kebanyakan berita bohong menggunakan judul-judul yang mencengangkan. Mereka memang dengan sengaja mentarget subjektifitas kita,” katanya.

Sementara itu, pengajar dari Universitas Media Nusantara Ignasisus Hariyanto menyoroti pentingnya memiliki pemikiran yang terbuka, ketimbang hanya mempercayai apa yang seseorang inginkan saja.

Sebagai contoh, kata dia, pada masa kampanye pemilihan presiden, Ignasius tak pernah memutuskan pertemanan di media social dengan rekan-rekannya yang memiliki pandangan politik yang berbeda.

“Saya mencoba untuk memnbiasakan mendengar suara lain, supaya bisa mulai belajar untuk tidak hanya meyakini apa yang mau saya yakini. Saya mau dengarkan apa yang orang lain katakan,” kata Ignasius.

Hal tersebut mencerminkan praktik demokrasi yang baik ketika Indonesia telah dikenal sebagai negara demokrasi, bahkan oleh seluruh dunia.

Diskusi bertajuk "Fake News: How to Know What to Believe" selain menghadirkan Margaret Farley dan Ignasius Hariyanto, juga Aribowo Sasmito dari Mafindo serta Arfi Bambani dari Aliansi Jurnalis Independen sebagai moderator. ***2***

Baca juga: Literasi Anti-Hoax - Kenali Media Sosial Sebelum Menggunakannya
Baca juga: Hoaks merajalela, masyarakat harus cermat cerna informasi

 


Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar